Wednesday, November 18, 2009
Daftar+99+Jenis+Makanan+Yang+Di+Klaim+Malaysia+%C2%BB+Istanto+Personal+Blog
media resolusi konflik agama, Indonesia, budaya, keluarga dan pribadi
Daftar+99+Jenis+Makanan+Yang+Di+Klaim+Malaysia+%C2%BB+Istanto+Personal+Blog
media resolusi konflik agama, Indonesia, budaya, keluarga dan pribadi
Monday, June 01, 2009
keperluan yang makin mendesak
Pada suatu malam seorang penguasa tiran Turkestan sedang
mendengarkan kisah-kisah yang disampaikan oleh seorang
darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir.
"Kidir," kata darwis itu, "datang kalau diperlukan.
Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan
menjadi milik Paduka,"
"Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?"
"Siapa pun bisa," kata darwis itu.
"Siapa pula lebih 'bisa' dariku?" pikir Sang Raja; dan ia
pun mengedarkan pengumuman:
"Siapa yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku,
akan kujadikan orang kaya."
Seorang lelaki miskin dan tua yang bernama Bakhtiar Baba,
setelah mendengar pengumuman itu, menyusun akal. Katanya
kepada istrinya,
"Aku punya rencana. Kita akan segera kaya, tetapi beberapa
lama kemudian aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebab
kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya."
Kemudian Bakhtiar menghadap raja dan mengatakan bahwa ia
akan mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja
bersedia memberinya seribu keping uang emas. "Kalau kau bisa
menemukan Kidir," kata Raja, "kau akan mendapat sepuluh kali
seribu keping uang emas ini. Kalau gagal, kau akan mati,
dipancung ditempat ini sebagai peringatan kepada siapapun
yang akan mencoba mempermainkan rajanya."
Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang dan memberikan
uang itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa
hidupnya yang tinggal empat puluh hari itu dipergunakannya
untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.
Pada hari keempat puluh ia menghadap raja. "Yang Mulia,"
katanya, "kerakusanmu telah menyebabkanmu berpikir bahwa
uang akan bisa mendatangkan Kidir. Tetapi Kidir, kata orang,
tidak akan muncul oleh panggilan yang berdasarkan
kerakusan."
Sang Raja sangat marah. "Orang celaka, kalau telah
mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini berani mencampuri
keinginan seorang raja?"
Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu
Kidir, tetapi pertemuan itu hanya akan ada manfaatnya
apabila maksud orang itu benar. Mereka bilang, Kidir akan
menemui orang selama ia bisa memanfaatkan saat kunjungan
itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya."
"Cukup ocehan itu," kata Sang Raja, "sebab tak akan
memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal meminta para menteri
yang berkumpul di sini agar memberikan nasehatnya tentang
cara yang terbaik untuk menghukummu."
Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata, "Bagaimana cara
orang itu mati?"
Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagai
peringatan."
Menteri Kedua, yang berbicara sesuai urutannya berkata,
"Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya."
Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu,
agar ia tidak lagi mau menipu demi kelangsungan hidup
keluarganya."
Sementara pembicaraan itu berlangsung, seorang bijaksana
yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Segera orang
mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi
dalam dirinya."
"Apa maksudmu?" tanya Raja.
"Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi ia
berbicara tentang panggang-memanggang. Menteri Kedua dulu
tukang daging, jadi ia bicara tentang potong-memotong
daging. Menteri Ketiga, yang telah mempelajari ilmu
kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.
Catat dua hal ini. Pertama, Kidir muncul melayani setiap
orang sesuai dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan
kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini--yang kuberi nama
Baba karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputus-asaan
untuk melakukan tindakan tersebut. Keperluannya semakin
mendesak sehingga akupun muncul didepanmu."
Ketika orang-orang itu memperhatikannya, orang tua yang
bijaksana itupun lenyap begitu saja. Sesuai dengan yang
diperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepada
Bakhtiar. Menteri Pertama dan kedua dipecat, dan seribu
keping uang emas itu dikembalikan ke kas kerajaan oleh
Bakhtiar dan istrinya.
Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadi
antara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib.
Catatan
Konon, Bakhtiar Baba adalah seorang Sufi bijaksana yang
hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di Korasan,
sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi.
Kisah ini, dikatakan juga terjadi atas sejumlah besar Syeh
Sufi lain, menggambarkan pengertian tentang terjalinnya
keinginan manusia dengan "makhluk" lain. Kidir merupakan
penghubung antara keduanya.
Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin
Rumi:
Peralatan baru bagi pemahaman akan ada apabila keperluan
menuntutnya.
Karenanya, O manusia, jadikan keperluanmu makin mendesak,
sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.
Afganistan.
Kisah Mujahid, Ulama dan Dermawan
Yang pertama dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang mati syahid di jalan Allah. Ketika hidup di dunia, ia ikut berperang di jalan Allah dan mati terbunuh. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba Syahid itu berkata, “Ya Allah aku dahulu berjuang dijalan Engkau hingga aku mati membela agama Engkau. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau dahulu ingin mati syahid agar manusia memujimu sebagai pahlawan yang gagah berani, sehingga orang-orang yang datang sesudah mu selalu memuji dan mengenang mu. Tidak ada tempat di surga bagi orang-orang yang riya.”
Yang kedua dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Seorang ulama pada zamannya. Ia selalu mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada manusia-manusia lainnya. Pengikutnya banyak dan ia amat disegani dan dihormati oleh para pengikutnya. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba yang ulama itu berkata, “Ya Allah aku dahulu mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi hamba-hamba Mu. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan-Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau mengajarkan ilmu kepada manusia agar mereka memandangmu sebagai seorang ulama besar. Orang-orang mencium tanganmu, memuji dan mengenang mu.”
Yang ketiga dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang sangat dermawan semasa hidupnya. Ia banyak menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membantu orang miskin, anak yatim, tempat ibadah, rumah-rumah pendidikan dan lain sebagainya. Ia sangat dikenal orang-orang pada masanya sebagai seorang dermawan dan sangat disegani. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba yang dermawan itu berkata, “Ya Allah aku dahulu banyak menafkahkan harta yang Engkau berikan dijalan-Mu. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan-Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau menafkahkan hartamu agar engkau selalu dipuji dan dikenang sebagai seorang dermawan.”
Rasulullah melanjutkan, “Demikianlah ketiga-tiganya adalah ahli neraka. Allah memandang kepada hati kalian dalam setiap perbuatan.” (HR Bukhari)
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka lakukan dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS Saba’ [34]:37)
Bayazid dan Orang Bodoh
Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid, seorang ahli mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga puluh tahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yang digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa saja melanjutkan perbuatannya tiga ratus tahun lagi tanpa mendapatkan kesenangan juga.
"Mengapa begitu?" tanya Si Sok-Saleh.
"Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu."
"Coba katakan apa obatnya."
"Obatnya tak akan bisa kau laksanakan."
"Bagaimanapun, katakan sajalah."
Bayazid pun berkata, "Kau harus pergi ke tukang pangkas rambut untuk mencukur janggutmu, (yang terhormat, itu). Lepaskan semua pakaianmu dan kenakan korset. Isi sebuah kantong kuda dengan kenari sampai penuh, lalu gantungkan di lehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, 'akan kuberikan sebutir kenari kepada setiap anak yang memukul tengkukku.' Kemudian lanjutkan perjalananmu ke sidang pengadilan agar semua orang menyaksikanmu."
"Tetapi aku tak bisa melakukan itu; coba katakan cara lain yang sama manfaatnya."
"Itu langkah pertama, dan satu-satunya cara," kata Bayazid, "Tetapi sudah aku katakan kepadamu bahwa kau tak akan bisa melakukannya; jadi tak ada obat bagimu."
Catatan:
Al-Ghazali, dalam Alkemia Kebahagiaan, mempergunakan ibarat ini untuk menekankan pernyataan yang sering diulang-ulangnya bahwa sementara orang, betapapun jujur tampaknya usaha mencari kebenaran itu bagi dirinya sendiri -dan bahkan mungkin juga bagi orang lain- nyatanya kadang-kadang didasari kesombongan atau mencari untung sendiri, hal-hal yang merupakan halangan utama bagi pencarian kebenarannya.
KETIKA AIR BERUBAH
Pada zaman dahulu, Kidir, Guru Musa, memberi peringatan kepada manusia. Pada hari tertentu, katanya, semua air didunia yang tidak disimpan secara khusus akan lenyap. Sebagai gantinya akan ada air baru, yang mengubah manusia menjadi gila.
Hanya seorang yang menangkap makna peringatan itu. Ia mengumpulkan air dan menyimpannya di tempat yang aman. Ditunggunya saat yang di sebut-sebut itu.
Pada hari yang dipastikan itu, sungai-sungai berhenti mengalir, sumur-sumur mengering. Melihat kejadian itu, orang yang menangkap makna peringatan itupun pergi ketempat penyimpanan dan meminum airnya.
Ketika dari tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan air terjun kembali memuntahkan air, orang itu pun menggabungkan dirinya kembali dengan orang-orang lain. Ternyata mereka itu kini berpikir dan berbicara dengan cara sama sekali lain dari sebelumnya; mereka tidak ingat lagi apa yang pernah terjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah mendapat peringatan. Ketika orang itu mencoba berbicara dengan mereka, ia menyadari bahwa ternyata mereka telah menganggapnya gila. Terhadapnya, mereka menunjukkan rasa benci atau kasihan, bukan pengertian.
Catatan:
Orang yang dianggap menciptakan kisah ini, Dhun-Nun, seorang Mesir (meninggal tahun 860), selalu dihubung-hubungkan dengan suatu bentuk Perserikatan Rahasia. Ia adalah tokoh paling awal dalam sejarah Kaum Darwis Malamati, yang oleh para ahli Barat sering dianggap memiliki persamaan yang erat dengan keahlian anggota Persekutuan Rahasia. Konon, Dhun-Nun berhasil menemukan arti hieroglip Firaun.
KISAH API
Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan- percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.
Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak tentang penemuannya.
Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin bahwa ia setan.
Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat kedinginan.
Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alat untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu. Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang kelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisa menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan mempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagi mereka.
Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui negeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itu tercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukan bangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya, "Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka itu!"
Sang Guru menjawab, "Baiklah. Kita akan memulai lagi perjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yang masih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya dan bagaimana mendekatinya."
Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan itu diterima dengan suka hati. Para pendeta mengundang mereka menghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketika upacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yang mereka saksikan, guru itu berkata, "Apa ada yang ingin mengatakan sesuatu?"
Pengikut pertama berkata, "Demi Kebenaran, saya merasa harus menyampaikan sesuatu kepada rakyat ini."
"Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri, silahkan saja," kata gurunya.
Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapan pemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, "Aku bisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagai perwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu, maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahun-tahun lamanya kalian telah tersesat?"
Tetapi para pendeta itu berteriak, "Tangkap dia!" dan orang itu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali.
Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai di negeri bangsa yang kedua dan memuja alat-alat pembuatan api. Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencoba menyehatkan akal bangsa itu.
Dengan izin gurunya ia berkata, "Saya mohon izin untuk berbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal. Kalian memuja alat-alat untuk membuat sesuatu, dan bukan hasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menunda kegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacara ini."
Bangsa itu terdiri dari orang-orang yang lebih berakal. Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, "Saudara diterima baik sebagai musafir dan orang asing di antara kami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarah dan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan. Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusaha membuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidak mau mendengarkan Saudara."
Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan.
Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, mereka menyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur, orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkata kepada pemimpin besar itu.
"Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan, yang bisa dipergunakan."
"Mungkin begitu," jawab para pemuja Nur, "tetapi yang bisa menembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja."
"Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagi mereka yang menolak menghadapi kenyataan," kata pengikut ketiga itu.
"Itu bid'ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkan tak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukan pendeta yang ditahbiskan menurut adat kami," kata pendeta-pendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisa melanjutkan usahanya.
Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeri bangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depan kerumunan orang.
"Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimana melaksanakannya," katanya.
Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadi beberapa kelompok. Beberapa orang berkata, "Itu mungkin benar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahui bagaimana cara membuat api." Ketika orang-orang ini diuji oleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besar ingin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dan tidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuan kemanusiaan. Begitu dalamnya dongeng-dongeng keliru itu merasuk ke dalam pikiran orang-orang itu sehingga mereka yang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakan orang-orang yang goyah, yang tidak akan juga membuat api bahkan setelah diberi tahu caranya.
Ada kelompok lain yang berkata, "jelas dongeng itu tidak benar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar ia mendapat kedudukan di sini."
Dan kelompok lain lagi berkata, "Kita lebih suka dongeng itu tetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsa kita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudian ternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinya dengan bangsa kita ini?"
Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka.
Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsa yang kelima; di sana pembuatan api dilakukan sehari-hari, dan orang-orang juga sibuk melakukan hal-hal lain.
Sang Guru berkata kepada pengikut-pengikutnya, "Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidak ingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar mereka bahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Mereka membayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka ingin mempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari, bukan apa yang pertama-tama harus mereka pelajari. Kalau kalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisa mengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewa untuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dan kemampuan."
Catatan:
Untuk menjawab pertanyaan "Apakah orang barbar itu?" Ahmad al-Badawi (meninggal tahun 1276) berkata, "Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitu tumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkan atau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewat pengembangan dan penerapan terus-menerus terhadap usaha mencapai Tuhan.
Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena mereka sangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan diri mereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika mereka berbicara dan bertindak."
Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen dan orang Islam, tetapi ditolak oleh orang-orang Kristen karena menolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah.
Ia pendiri kaum Badawi Mesir.
MIMPI DAN IRISAN ROTI
MIMPI DAN IRISAN ROTI
Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.
Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.
Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.
Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. "Inilah mimpiku," kata yang pertama. "Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian."
"Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, 'Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia."
Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam."
Catatan
Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model kuno. Ia merupakan Guru yang telah melahirkan lebih dari empat belas Kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India, Humayun.
Meskipun ia dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, yang merupakan tempat ziarah Sufi yang sangat penting.
Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan.
Monday, December 01, 2008
| Meninjau Kembali Gerakan Religio-Politik Islam [2] | | |
| |
| 30 pakar Islam dari berbagai Negara menyoroti fenomena geliat politik umat Islam di Asia pasca 11 september 2001. Dimasa depan politik Islam akan berada di tangan kelompok non-liberal. Bukan kelompok radikal liberal Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi * Dalam tulisan kemarin penulis memprediksi, dimasa depan politik Islam akan berada di tangan kelompok non-liberal dan bukan kelompok radikal atau liberal Angel Rabasa dari Rand Corporation Amerika Serikat, memuji sistimatika paparan penulis hanya saja ia tidak setuju dengan kesimpulannya dan mempertanyakan klassifikasi liberal dan non-liberal. Penulis jelaskan bahwa Liberal mendahulukan konteks, sedangkan non-liberal bervariasi ada yang mendahulukan teks, ada yang mendahulukan teks tapi menggunakan akal, ada yang seimbang antara teks dan konteks. Namun dari kelompok non-liberal terdapat kelompok yang tekstual yang diantaranya cenderung bersikap ekstrim dan radikal. Maka dari itu terdapat dua kutub ekstrim disini, pertama kelompok yang terlampau tekstual dan kelompok yang terlalu kontekstual yaitu liberal. Namun non-liberal masih dalam domain worldview Islam, sedangkan liberal telah dihegemoni oleh worldview Barat postmodern. Kondisinya kini kelompok liberal berhadapan dengan kelompok non-liberal yang tekstual maupun yang tekstual-rasional-kontektual. Konflik menjadi memanas ketika diketahui bahwa kelompok liberal mendapat dukungan dana besar dari Negara Amerika Serikat dan Negara Barat lainnya. Jika dukungan ini terus berlangsung dimasa depan, maka akan terjadi konflik yang berbahaya dan akan memunculkan kebencian umat Islam Indonesia terhadap Amerika Serikat. Professor Hisae Nakanisihi dari Universitas Osaka mengejar dengan pertanyaan sejauh mana perbedaan liberal dan non-liberal sehingga saling berhadapan begitu serius. Penulis jawab dengan hanya satu contoh yang kini gencar di promosikan pejuang gender bahwa menurut penafsiran kelompok liberal homoseksualisme dan lesbianisme dibolehkan dalam Islam. Pandangan ekstrim yang tentu bertentangan dengan pendapat mayoritas umat Islam dan bahkan umat manusia. Jawaban ini ternyata cukup mengejutkan para peserta, khususnya dari utusan Negara-negara Islam. Dari jawaban penulis ini akhirnya Sohail, Tamimi, Badoui dan Wan Mohd Nur menganggap masalah campur tangan AS kenegara-negara Islam sebagai sesuatu yang negatif. Persoalannya campur tangan AS bukan hanya masalah politik tapi sudah masuk dalam masalah pemikiran, khususnya dalam memahami konsep-konsep penting dalam bidang sosial, politik dan bahkan keagamaan. Kerancuan konsep akan mengakibatkan kesalah fahaman terhadap Islam. Hanya karena mendukung prinsip demokrasi, kata Wan Daud, Muslim didorong untuk mengakui kebenaran agama lain. Ini adalah suatu kesalah fahaman akibat kesalahan konsep yang tidak semestinya terjadi. Sedangkan bagi Tamimi karena kesalahan memahami standar moderasi telah mengakibatkan kesan pada orang Barat bahwa semua Muslim adalah radikal, fundamentalis dan teroris. Pertanyaan penting yang jawabannya ditunggu pihak JIIA adalah di tangan kelompok manakah masa depan politik Islam? Jawabannya hampir serempak ditangan kelompok moderat, yaitu kelompok Muslim mayoritas di negara-negara Islam. Tidak ditangan liberal ataupun ditangan radikal. Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai konsep moderasi. Siapakah kelompok moderat itu? Moderasi Muslim Makna istilah moderat sebenarnya menjadi rebutan. Terdapat sedikit perbedaan dikalangan cendekiawan Muslim tentang istilah ini, namun terdapat perbedaan tajam antara cendekiawan Muslim kebanyakan dan peneliti Barat. Diaa Rashwan, Direktur Program for the Study of “islamis” Movement al-Ahram Center for Politic and Strategic Studies, Kairo, membuat klassfikasi berdasarkan gerakan. Klasifikasinya juga sangat simple: “moderat vs ekstrim”, “radikal vs damai”. Baginya gerakan-gerakan kelompok Islam yang oleh Barat disebut “islamis” itu sebenarnya adalah gerakan sosial politik Muslim yang menganggap kerja mereka berada dalam masyarakat Muslim yang memerlukan kebijakan politik berdasarkan platform syariah. Sedangkan gerakan keagamaan Muslim yang disebut “jihadi”, “salafi”, “takfiri” atau lainnya itu lebih fokus pada masalah keimanan dan kepercayaan, dan menganggap masyarakat dimana mereka hidup sebagai tidak Islami. Akhirnya kelompok ini berjuang untuk meng-Islamkan masyarakat baik melalui pengajaran ataupun usaha-usaha dakwah atau berperang. Bagi kelompok ini politik tidak penting, karena ia adalah sarana bukan tujuan. Dengan klasifikasi ini Rashwan meletakkan gerakan Ikhwan Muslimum kedalam kategori gerakan sosial politik dengan platform Islam dan bukan gerakan keagamaan yang menekankan pada masalah keimanan. Maka dari itu gerakan ini tidak mempersoalkan keislaman individual atau masyarakat, tapi berjuang untuk menggerakkan masyarakat Muslim dan Negara Muslim sesuai dengan platform hukum Islam. Namun, Rashwan segera menggaris bawahi bahwa gerakan keagamaan seperti jihadi, salafi dan takfiri itu pada mulanya tidak radikal dalam pengertian Barat. Radikalisme hanyalah kelompok kecil dalam gerakan keagamaan seperti salafi atau lainnya dan bukan dalam semua gerakan keagamaan. Sedangkan moderat dalam gerakan Islam tidak selalu berarti menerima ide-ide dari Barat, tapi lebih menempuh jalan hikmah. Berbeda dari Dia Rashwan, Angel Rabasa membuat definisinya sendiri tentang makna moderat yang khas Barat. Sebelumnya ia membedakan antara “islamis” dan “moderat”. “Islamis” adalah gerakan politik Islam berdasarkan interpretasi salafi. Gerakan untuk memobilisasi kekuatan politik dan ideologi politik. Sedangkan moderat adalah gerakan yang tidak berusaha untuk merekonstruksi masyarakat agar sejalan dengan idealisme masa lalu yang diidamkan, tidak menyesatkan atau menindas suatu sistim kepercayaan yang berbeda atau merasionalisasikan penggunaan kekerasan terhadap mereka yang dianggap kafir. Yang lebih penting lagi menurut Rabasa moderat adalah mereka yang mendukung demokrasi, persamaan gender, HAM, kebebasan beragama, menghormati perbedaan, menerima sumber hukum yang tidak berasal dari agama atau mazhab tertentu, dan yang paling penting adalah menentang terrorisme dan kekerasan yang tidak mendasar. Definisi Rabasa segera mendapat sanggahan dan karena itu Prof. Keiko Sakai dari Department of Foreign Studies, Tokyo University mempertanyakan siapa sebenarnya yang berhak menentukan definisi. Nampaknya ia melihat ada perebutan definisi moderat antara Islam dan Barat definisi moderat. Penulis segera merespon pertanyaan Sakai, bahwa moderat atau tidaknya suatu sikap dalam kaitannya dengan Islam harus dilihat dari bagaimana ia memperlakukan teks dan bersikap pada konteks. Moderasi adalah keseimbangan antara teks dan konteks. Masalahnya dalam standar politik definisi moderat terlalu berpihak pada konteks politik dan melupakan teks. Juga dalam bidang sosial keagamaan, seperti kasus Aminah Wadud sholat Jum’at di gereja bukan pengamalan dan pemahaman berdasarkan teks, tapi praktek keagamaan yang terlampau kontekstual hanya untuk merespon faham gender dan feminisme Barat sehingga melupakan teks. Rashwan setuju dengan tolok ukur penulis dan ia menambahkan bahwa radikalisme baiknya dikaitkan dengan politik saja, ekstrimisme dikaitkan dengan keagamaan dan politik, sedang konservativisme adalah bersifat sosial dan lebih baik dikaitkan dengan masalah internal umat. Penulis juga mengkritik standar moderasi yang ditentukan oleh Rabasa, karena hanya merujuk kepada konteks gerakan politik masa kini dengan konsep-konsep yang didominasi Barat. Jika merujuk kepada konsep-konsep Islam pengertian moderat itu tentu akan berbeda. Sebab Islam memiliki definisinya sendiri mengenai HAM, kebebasan beragama, hak-hak wanita dan lain sebagainya. Bagi Sohail, sifat moderat tidak perlu didefinisikan, karena ia adalah watak Islam itu sendiri yang dimasa lalu menyebar ke Asia Selatan dan Tenggara. Jika Islam yang tersebar waktu tidak moderat tentu tidak akan sampai ke kawasan itu. Namun, Wan Mohd Nor menyela, definisi istilah penting harus merujuk kepada otoritas dimana masyarakat itu berada. Dan tidak wajar jika didefinisikan oleh outsider, al-Biruni contohnya, ketika dia menulis tentang agama Hindu, ia berkonsultasi kepada pemuka-pemuka Hindu tentang ajaran agama itu. Secara kebetulan pendapat Prof. Wan sejalan dengan atau dikuatkan oleh pendapat Prof. Badoui Abdelmajid, guru besar Peradaban Arab-Islam pada Higher Training School di Tunis. Dalam makalahnya yang secara khusus mengkaji Islam dan moderasi itu ia menegaskan bahwa moderasi adalah esensi Islam itu sendiri. Moderasi dapat disifati dengan stablitas dan perubahan. Stabil dikaitkan dengan masalah keimanan sedangkan perubahan berkaitan dengan interaksi sosial yang memang terus berubah. Ajaran untuk bersikap moderat dalam Islam terdapat dalam hal keyakinan, ibadah, hubungan social dan dalam kehidupan nyata. Inilah yang menjadi tolok ukur moderasi dalam kaitannya dengan gerakan sosial dan politik Islam. Radikalisme Istilah dan gerakan yang memiliki daya tarik tinggi adalah radikalisme dan ekstrimisme. Sebenarnya radikalisme adalah fenomena global dan tidak hanya berkaitan dengan Islam. Dalam agama Kristen terdapat gerakan radikal, dalam agama Hindu perusak masjid Babri di India adalah Hindu radikal dan dalam agama Yahudi, pembunuh Isaac Rabin adalah Yahudi radikal. Begitulah Seyed Rasoul Musavi memulai presentasinya. Ia kemudian membagi pemahaman terhadap radikalisme kedalam tiga pendekatan: tekstual dan situasional. Pendekatan tekstual, menurutnya, adalah pemahaman terhadap teks Al-Quran secara tekstual sehingga mengakibatkan sikap radikal, dan ini merujuk kepada kelompok Salafi. Situasional maksudnya radikal yang disebabkan oleh situasi umat Islam karena pengaruh kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah kondisi politik Islam yang oppresif sedangkan eksternal adalah campur tangan Barat kedalam ranah politik Islam. Karena pengaruh ekternal inilah gerakan radikal yang bersumber pada nasionalisme, liberalisme maupun sosialisme yang kesemuanya sekuler wujud didunia Islam. Radikal dalam membela atau menolak Barat. Kita dapat saja mengalahkan berbagai jenis gerakan radikal di atas, kata Mousavi tapi kemudian akan timbul gerakan lain yang serupa atau yang lebih berbahaya. Solusi yang ditawarkan Musavi cukup menarik, yaitu Barat, khususnya Amerika Serikat (AS), perlu merubah kebijakan, pola fikir dan perilaku mereka. Jadi, pendudukan, invasi, sanksi-sanksi dan intervensi harus diakhiri. Sejalan dengan pandangan Mousavi, Prof. Wan Mohd Nor melacak sumber radikalisme dari faktor internal dan ekternal. Yang internal disebabkan oleh de-tradisionalisasi dan de-sufisasi dalam diskursus keislaman dan etika, serta hilangnya otoritas keagamaan dan politik, sedangkan yang eksternal dipicu oleh problem-problem umat Islam seperti masalah Palestina, Thailand Selatan, Filipina Selatan, Asia Tengah, Kashmir. Selain itu sikap double-standard dan Islamphobia Barat terhadap Islam juga memicu sikap radikal. Solusi yang ditawarkan Prof.Wan lebih mendasar dari Mousavi yaitu perlunya reformasi internal pendidikan umat Islam. Ini dilakukan dengan re-tradisionalisasi pendidikan Islam dan menekankan pada penguasaan dan pengamalan nilai-nilai moralitas. Jadi bukan westernisasi atau liberalisasi pendidikan Islam, karena liberalisasi justru counter-productive. Selain itu perdamaian abadi di Timur Tengah perlu diciptakan, problem Muslim minoritas juga harus diselesaikan, Barat hendaknya mendukung pemerintah yang bersih, adil dan tidak korup, jika tidak maka masyarakat akan membenci Barat. Nampaknya, keberatan Muslim secara keseluruhan untuk dikaitkan dengan radikalisme dan ekstrimisme dapat diterima peserta. Keiko Sakai setuju agar kita tidak selalu mengkaitkan ekstrimisme dengan Islam, kita perlu memahami kasus per kasus serta faktor-faktor yang memotivasi timbulnya tindak radikal dan ekstrim. Namun, Rabasa tanpa sungkan-sungkan menuding bahwa gerakan radikal dalam Islam disebabkan oleh adanya gerakan politik keagamaan dari Mesir, yaitu gerakan Jihadi. Tudingan ini dibantah Rashwan, sebab, alasannya, gerakan Jihad di Mesir itu asalnya tidak ada konotasi radikalisme atau ekstrimisme yang menjurus kepada kekerasan fisik. Namun, setelah adanya perang Afghanistan, gerakan Jihad berkembang menjadi gerakan radikal dan ekstrim, dan apa yang terjadi di Afghanistan adalah karena hasil strategi AS. Rabasa menolak tapi Rashwan tetap bertahan dan mengklaim bahwa dia tahu banyak tentang gerakan Islam di Mesir sebelum tahun 90an. Kesimpulan Diskusi dalam siymposium diatas sangat penting bagi mendudukkan berbagai posisi gerakan keagamaan dan politik Islam. Peninjauan kembali stigma yang dilabelkan kepada gerakan politik Islam diharapkan dapat mengoreksi pandangan negatif Barat terhadap Islam. Artinya sebelum menjelaskan tentang keadaan sosial dan politik umat Islam serta masa depannya para pengamat perlu memahami kedudukan masing-masing kelompok dalam peta hubungan Islam dan Barat. Symposium ini cukup berhasil melakukan hal itu. Simposium dianggap sukses oleh JIIA, karena semua partisipan aktif bertukar fikiran dalam suasana dialogis yang hidup. Nampaknya, JIIA telah memperoleh gambaran bahwa mayoritas di berbagai negara Muslim adalah moderat. Yang tidak kalah penting adalah bahwa simposium telah memberi banyak masukan kepada RAND corporation dari AS. RAND adalah salah satu think tank pemerintah AS untuk mengatur strategi penyebaran liberalisme kenegara-negara Islam pasca tragedi 11 september. Diantara masukan terpentingnya adalah bahwa AS ternyata tidak hanya menumpas teroris, tapi juga menumpas pemikiran umat Islam. Sebab ekstrimis dan radikal hanyalah segelintir orang yang perlu diwaspadai bersama. Sebenarnya, liberalisai yang ditebarkan AS tidak mampu meredam ekstrimis dan teroris, tapi malah menggilas keyakinan dan pemikiran umat Islam. Bagi Muslim bahaya teroris tidak sebesar bahaya intervensi AS dalam membantu kelompok ekstrim liberal. Sebab dengan program liberalisasi pemikiran keagamaan kebencian umat Islam terhadap AS menjadi semakin bertambah dan dapat mengakibatkan konflik yang lebih serius dimasa depan. [habis] Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS) |
Sunday, August 03, 2008
"Gebrakan Ilmiah NU Pasuruan Bongkar Kebohongan Aktivis Gender"

"Gebrakan Ilmiah NU Pasuruan Bongkar Kebohongan Aktivis Gender"
Belum lama ini, (September 2004), Rabithatul Ma'ahid Islamiyah
(RMI), Cabang Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menerbitkan sebuah buku
berjudul "Menguak Kebatilan dan Kebohongan Sekte FK3". RMI adalah
organisasi ikatan Pondok Pesantren di bawah Naungan Organisasi Nahdhatul
Ulama (NU). Buku ini merupakan hasil kajian ilmiah Forum Kajian Islam
Tradisional Pasuruan (FKIT), yang beranggotakan kyai-kyai muda dari
berbagai pesantren, seperti Abdulhalim Mutamakkin, Muhibbul Aman Ali, HA
Baihaqi Juri, M. Idrus Ramli, dan sebagainya.=20
Para kyai itu merasa resah dengan terbitnya sebuah buku berjudul
"Wajah Baru Relasi Suami-Istri, Telaah Kitab 'Uqud al-Lujayn', karya Imam
Nawawi al-Bantani, seorang ulama terkenal yang dijuluki 'Sayyid Ulama
Hijaz'. Maka mereka melakukan diskusi ilmiah intensif lebih dari 20 kali,
dan hasilnya keluarlah sebuah buku ilmiah yang menarik ini. Tentu saja,
aktivitas ilmiah ini sangat membanggakan, mengingat begitu besarnya
perhatian para elite NU terhadap masalah-masalah politik, seputar
pemilihan Presiden tahun 2004. Sebagai 'ulama' pewaris para Nabi, para
kyai itu tampaknya tidak melupakan tugasnya untuk menjaga aqidah umat, di
tengah situasi dan kondisi yang tidak terlalu mendukung perjuangan ilmiah
mereka. Menyimak isi buku ini, bisa dikatakan, para kyai muda itu memiliki
daya intelektual dan penguasaan literatur-literatur Islam yang cukup
mendalam. Ratusan kitab-kitab klasik dikaji dan disajikan dengan baik
dalam buku ini.=20
KH Abdulhalim Mutamakkin, Ketua RMI Kabupaten Pasuruan, dalam
pengantarnya menyatakan, bahwa mengkritisi sebuah karya memang perbuatan
yang terpuji dalam rangka mencari suatu kebenaran. Akan tetapi apabila
dilakukan dengan cara dan tujuan yang tidak benar atau oleh orang yang
tidak memiliki cukup ilmu untuk memahami karya yang bersangkutan, maka
harus diluruskan. KH Ahmad Subadar, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pasuruan,
menulis dalam pengantarnya, "Saya telah melihat dan membaca risalah ini,
dan saya mengambil kesimpulan, bahwa risalah ini adalah benar-benar
menegakkan ajaran Rasululah saw, dan meluruskan paham orang yang salah,
melenceng dari tuntunan ulama'una al-salaf.=20
Telaah kritis para ulama Jawa Timur ini sungguh menyejukkan. Di
tengah kegersangan situasi intelektual, mereka mau dan berani berbicara
yang benar, mereka berani melawan arus besar, Gerakan yang mengatasnamakan
kesetaraan gender, yang justru disebarkan oleh para elite NU sendiri. Apa
yang mereka sebut sebagai "Sekte FK3" (Forum Kajian Kitab Kuning), yang
melakukan tindakan kebatilan dan kebohongan, adalah orang-orang yang cukup
terkenal di kalangan NU sendiri. Di situ ada nama Sinta Nuriyah
Abdurrahman Wahid, Masdar F. Masudi, Husen Muhammad, Lies Marcus, dan
sebagainya. Namun, para kyai dari kota kecil di Jawa Timur itu tidak
gentar dan mampu membuktikan, bahwa buku yang diterbitkan oleh FK3, yang
mengkritik kitab 'Uqud al-Lujayn, adalah buku yang bertaburan dengan
kebatilan dan kebohongan. Bagi kaum Muslimin yang tidak mempunyai
kemampuan dan keakraban dalam membaca karya-karya klasik ulama Islam,
memang bisa terpengaruh. Apalagi yang memang menginginkan masuknya paham
kesetaraan gender ala Barat dalam masyarakat Islam.=20
Orang-orang yang membawa ideologi kesetaraan gender ke dalam
pondok-pondok pesantren adalah juga orang-orang yang mempelajari
kitab-kitab klasik dan mencantumkan rujukan mereka pada karya-karya klasik
ulama Islam. Namun, melalui buku terbitan RMI Pasuruan ini, kebohongan dan
kebatilan kelompok FK3 itu dibongkar satu persatu.=20
Misalnya, penilaian FK3 terhadap hadits "Barangsiapa yang
meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." Terhadap hadits
ini, FK3 menulis: "jalur hadits ini dhaif sebagaimana ditetapkan oleh
al-Sakhawi dalam Kitab "al-Maqashid al-Hasanah". Pendapat itu dijernihkan
oleh FKIT, dengan menyebutkan, bahwa al-Albani dalam "Irwa' al-Ghalil fi
Takhrij Ahadits Manar al-Sabil" (hadits no 1269), menyatakan hadits itu
sahih. Kata-kata Sakhawi juga dipotong. Aslinya merupakan ungkapan dari
al-Munawi dalam Faidh al-Qadir, yang berbunyi: "Al-Sakhawi berkata, sanad
hadits Ibnu Umar dhaif akan tetapi memiliki beberapa syahid. Ibnu Taimiyah
berkata, sanadnya jayyid, dan Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari,
sanadnya hasan." FK3 memilih komentar al-Sakhawi karena menilai sanadnya
dhaif, dan tidak ingin menggunakan hadits itu.=20
Contoh lain, adalah sebuah hadith tentang larangan berkhalwat
(berudua-duaan) antara laki-laki dan wanita, yang dikatakan FK3 sebagai
hadits dhaif. Padahal, ada hadits lain dengan makna yang sama yang sahih.
Tetapi hal ini tidak disebutkan oleh FK3. Contoh lain adalah soal
kepemimpinan laki-laki terhadap wanita, sesuai ayat 34 surat an-Nisa':
"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah
melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita),
karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka."=20
FK3 menulis komentar tentang ayat ini bahwa : "Mayoritas ulama fiqih
dan tafsir berpendapat bahwa qiwamah (kepemimpinan) hanyalah terbatas pada
laki-laki dan bukan pada perempuan, karena laki-laki memiliki keunggulan
dalam mengatur, berfikir, kekuatan fisik dan mental. Kata-kata FK3 itu
dikritik FKIT, dengan disebutkan, bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan
diantara ulama fiqih dan tafsir tentang kepemimpinan laki-laki dalam rumah
tangga termasuk dalam kepemimpinan negara (imamah). Masalah kepemimpinan
laki-laki ini dibahas dengan panjang lebar dan tampak bahwa argumentasi
FK3 atau aktivis kesetaraan gender, memang tidak kuat dan hanya
dicocok-cocokkan dengan kemauan dan tujuan ideologi kesetaraan gender,
yang belum tentu cocok dengan Islam.=20
Soal kepemimpinan laki-laki ini dihujat oleh FK3, dengan menyatakan,
bahwa "di masa sekarang dalam bidang ekonomi atau sosial, banyak perempuan
yang lebih unggul daripada laki-laki."=20
Argumentasi FK3 ini sangatlah lemah, sebab sejak dulu, ada saja
wanita yang lebih unggul dari laki-laki. Khadijah r.a. adalah seorang
wanita bangsawan dan kaya raya dan banyak mempekerjakan laki-laki,
termasuk Rasulullah saw, di masa mudanya. Siti Aisyah r.a., juga seorang
wanita yang unggul dalam kepemimpinan dan intelektual, melebihi banyak
kaum laki-laki di zaman itu. Belum lama ini terbit sebuah kitab fiqih
hasil ijtihad ulama perempuan terkemuka, yaitu Aisyah r.a. berjudul
"Mausu'ah Fiqh 'Aisyah Ummu al-Mu'minin Hayatuha wa Fiqhuha", setebal 733
halaman. Hasil ijtihad beliau sebagai seorang perempuan, tidak berbeda
dengan hasil ijtihad para mujtahid laki-laki. Namum, seringkali tuduhan
kepada para mujtahid dan fuqaha ditimpakan, bahwa fiqih didominasi oleh
laki-laki, dan ajaran agama ditafsirkan berdasarkan kepentingan
laki-laki."=20
Demikianlah kajian FKIT Pasuruan yang perlu ditelaah dna
didiskusikan lebih jauh, khususnya bagi kalangan NU, dan kaum Muslim pada
umumnya. Sebab, saat ini begitu gencar serangan terhadap ajaran-ajaran
Islam yang dinilai para aktivis gender ala sekular-Barat tidak cocok
dengan zaman. Tuduhan-tuduhan bahwa ajaran Islam banyak didominasi oleh
kaum laki-laki, seperti datang bertubi-tubi, sehingga bantak yang kemudian
meragukan ketulusan dan kecanggihan ijtihad para ulama terdahulu. Padahal,
sepanjang sejarah Islam, begitu juga banyak diantara ulama-ulama Islam
adalah wanita. Tetapi, mereka tidak pernah menggugat masalah kepemimpinan
laki-laki dalam rumah tangga, atau berbagai masalah yang dipersoalkan oleh
aktivis kesetaraan gender, seperti sekarang ini. Kepemimpinan bukan hanya
soal "hak", tetapi juga tanggung jawab. Artinya, bagi laki-laki, tanggung
jawab itu belaku di dunia dan akhirat. Dalam soal kepemimpinan negara pun,
banyak rakyat yang lebih pintar dan mahir dalam kepemimpinan dari kepala
negaranya. Oleh karena itu, seyogyanya, wanita memilih calon suaminya yang
"sekufu" atau laki-laki yang memang mampu menjadi pemimpin. Bisa saja
istri lebih pintar dari suaminya, tetapi hak kepemimpinan memang ada pada
suaminya, termasuk hak talak. Pemimpin yang baik, pasti akan memanfaatkan
kepintaran istrinya. Ini bukan masalah baru, sudah banyak rumah tangga
yang sukses, meskipun istri lebih pandai dari suaminya, dan tetap ia
menghormati kepemimpinan suaminya. Ini bukan soal tinggi atau rendah
martabat sebagai manusia, tetapi adalah soal tanggung jawab dan pembagian
tugas.=20
Masalah kesetaraan gender memang saat ini begitu menggejala dan
menjadi proyek yang banyak menyediakan dana. Beberapa waktu lalu, Tim
Pengarusutamaan Gender Departemen Agama telah memproduksi legal draft
Kompilasi Hukum Islam yang sangat kontroversial dan 'ajaib', yang tidak
berpijak pada metodologi Islam, tetapi pada prinsip-prinsip kesetaraan
gender, pluralisme, nasionalisme, dan sebagainya. Tanggal 25 Oktober 2004
lalu, Harian Kompas menurunkan tulisan seorang wanita aktivis Jaringan
Intelektual Muda Muhammadiyah, berjudul "Khatib Perempuan". Tulisan itu
menggugat, mengapa tidak ada khatib jumat atau salat tarawih yang
perempuan. "Tak adakah kesempatan bagi dai perempuan untuk berkhotbah?"
Dari sekian ribu masjid di Tanah Air, tulisnya, tak satu pun perempuan
menjadi khatib. Satu-satunya perempuan yang ia dengar berani berkhotbah
Jumat di hadapan pria adalah Prof Amina Wadud, sarjana Muslim terkemuka.
Ia naik mimbar Masjid Claremont Main Road di Cape Town di Afrika Selatan.=20
Menurut dia, secara umum, khatib adalah orang yang menyampaikan
ajaran agama atau khotbah sebelum shalat Jumat atau kegiatan keagamaan
lain. Untuk itu, seorang khatib harus memiliki kecakapan dan pengetahuan
agama yang baik. Dan kini yang memiliki kecakapan dan pengetahuan agama
yang cukup tak hanya laki-laki. Terbukti, kini mubalig perempuan telah
bermunculan. Sayangnya, mereka tetap tidak bisa menjadi khatib maupun iman
shalat di masjid. Mereka hanya bisa menjadi khatib atau imam di rumah atau
pelbagai majelis taklim di kalangan perempuan sendiri.=20
Jelaslah, kata wanita ini, perempuan tidak boleh berkhotbah di
masjid bukanlah karena ketidakmampuan mereka. Dalil-dalil yang menolak
perempuan untuk berkhotbah "harus dipahami secara kontekstual, sesuai
dengan situasi dan kondisi budaya saat dalil itu dikemukakan, sebab
prinsip utama dalam Islam adalah musawah, hak yang sama antara laki-laki
dan perempuan, tidak mengenal pembatasan dan diskriminasi dalam
pelaksanaan ibadah."=20
Kata dia: "Kala situasi sekarang berbeda dengan dulu, keamanan telah
sepenuhnya dijamin, dai-dai perempuan pun bermunculan, masihkah kita tidak
mau memberi kesempatan bagi perempuan untuk berkhotbah atau memimpin
shalat di masjid? Barangkali di antara kita belum ada yang berani tampil
seperti Prof Amina Wadud. Namun, setidaknya kita berani bertanya dalam
diri kita: apa yang sebenarnya kita takutkan dan apa yang kita
pertahanankan jika perempuan bicara di masjid? Apakah ada yang akan merasa
bakal kehilangan otoritasnya sebagai pemimpin agama dalam masyarakat?
Ataukah rasa maskulinitas kita sedang terancam?"=20
Wanita ini sedang menampilkan dirinya sebagai 'mujtahid' yang merasa
lebih hebat dari ribuan ulama, termasuk ulama-ulama wanita, seperti
Sayyidah Aisyah r.a. Sepanjang 1500 tahun, dan di belahan dunia mana pun,
ulama Islam tidak pernah berpikir semacam ini. Jika fiqih dipengaruhi oleh
waktu dan tempat atau budaya, di mana-mana kaum Muslim selama ribuan tahun
punya pendapat yang sama tentang banyak masalah fiqih. Tentu ada
perbedaan, tetapi bukan karena perbedaan budaya. Lalu, apakah yang
dimaksud dengan musawat? Apakah itu berarti persamaan dalam segala hal
antara laki-laki dan wanita? Jika si wanita ini merasa mampu dan berhak
menjadi khatib Jumat, apakah dia mau hukum salat Jumat juga wajib baginya?
Apakah si wanita ini lalu merasa menjadi terhormat jika dapat berkhotbah
Jumat?=20
Tanpa dia sadari, atau mungkin dia sadari, si wanita yang mengaku
dari aktivis organisasi intelektual Islam ini, sebenarnya sedang
membongkar agamanya sendiri. Dengan dalil "musawat" dia bisa membongkar
apa aja yang dikehendaki, yang penting sama dengan laki-laki. Dia bisa
menuntut hak talak, karena perempuan juga bisa mentalak suaminya. Wanita
juga bisa menuntut untuk masuk masjid, meskipu sedang haid, karena
sekarang sudah ada pembalut wanita yang mampu menahan ceceran darah. Di
masa turunnya ayat, pembalut wanita belum ada. Wanita juga bisa mencari
nafkah dan menjadi kepala keluarga. Wanita juga tidak harus melahirkan dan
menyusui anaknya, karena dia bisa menyewa orang lain untuk melahirkan dan
menyusui anaknya. Kelebihan seperti dalam surat an-Nisa ayat 34, menurut
mereka, bukan kelebihan berdasarkan jenis kelamin.=20
Inilah pemahaman yang keliru. Secara umum, hingga kini, dalam soal
fisik saja, laki-laki memang lebih unggul dari perempuan. Meskipun secara
perseorangan, banyak wanita lebih unggul dan lebih kuat secara fisik. Bisa
dipastikan, juara tinju dunia kelas berat wanita, Lamya Ali, misalnya,
lebih kuat pukulannya dan akan menang bertinju melawan Komar, pelawak yang
kini menjadi anggota DPR. Banyak wanita jago angkat besi atau bela diri
yang mungkin saja lebih kuat fisiknya ketimbang suaminya. Tetapi, secara
umum, tetap saja laki-laki lebih kuat. Para aktivis kesetaraan gender
sebenarnya mengakui hal ini. Maka mereka tidak memprotes, bahwa dalam
bidang olah raga, kaum wanita sebenarnya telah didiskriminasi dan
diperhinakan dengan sadis, dengan dibeda-bedakan kelompok pertandingannya
dengan laki-laki. Jika para aktivis kesetaraan gender ini konsisten, maka
mereka harusnya memprotes hal itu, dan menuntut, agar tidak ada lagi
pembedaan pertandingan tinju laki-laki dan tinju wanita, angkat besi
laki-laki dan angkat besi wanita, sepakbola laki-laki dan perempuan, gulat
laki-laki dan gulat wanita, bulu tangkis laki-laki dan wanita, dan
sebagainya.=20
Para aktivis kesetaraan gender ini tidak menuding, bahwa olimpiade,
Sea-games, dan sebagianya, adalah rekayasa kaum laki-laki, yang
mendiskriminasi wanita, karena memperlakukan wanita sebagai makhluk lemah.
Nyatanya, aktivis kesetaraan gender hanya berani menuduh-nuduh para ulama,
para fuqaha, bahwa mereka merakayasa hukum agama untuk kepentingan
laki-laki. Tuduhan yang sebenarnya sangat jahat, karena dilakukan
serampangan. Pada 21 November 2004, seorang yang mengaku aktivis liberal,
menulis di Harian Jawa Pos, bahwa ada seorang wanita, bernama Maryam
Mirza, yang melakukan khotbah shalat Id, di Amerika Serikat. Penulis ini
sangat bangga bahwa ada wanita bisa khotbah Id, sehingga ia puji
habis-habisan, dengan kata-katanya berikut:=20
"Penampilan Maryam Mirza memang bahkan bisa dikatakan "revolusioner"
- bukan hanya buat Muslim Amerika, tapi untuk seluruh dunia Islam.
Kesetaraan gender dalam Islam memang terlalu banyak dikatakan dan terlalu
sedikit dilaksanakan... Mudah-mudahan pada Idul Fitri tahun depan, kita di
Indonesia - kalaupun mustahil diharap di Arab Saudi -- pun bisa menikmati
tampilnya khatib perempuan dalam salat Id. Jika Maryam Mirza bisa, seperti
kata jamaah salat Id di Washington itu, tentu para perempuan Muslim lain
di mana pun bisa."=20
Memang, banyak wanita yang mampu menjadi khatib. Tetapi, ironis
sekali cara berpikir seperti ini, bahwa wanita menjadi khatib Id
dibanggakan, hanya karena "WTS" (Waton Suloyo/asal beda dengan yang lain).
Jangankan menjadi khatib, sekarang pun banyak wanita Muslimah yang bisa
membuat pesawat terbang dan menjadi cendekiawan-cendekiawan unggul, tanpa
perlu menjadi khatib Id. Apa yang perlu dibanggakan dengan hal semacam
ini? Sepanjang sejarah Islam, banyak wanita menjadi pejuang unggul, tanpa
perlu menuntut menjadi khatib. Cut Nya' Din, tetap dihormati dan dipuji
sebagai pahlawan. Cut Mutiah, namanya tetap harum. Mereka tidak berbuat
hal yang aneh-aneh untuk menjadi terkenal. Kalau si penulis artikel itu
ingin ada wanita jadi khatib shalat Id di Indonesia, biarlah istrinya
sendiri, yang jadi imam salat baginya, dan jadi khatib untuk keluarganya
sendiri. Biarlah dia memberi contoh, untuk dirinya sendiri, dan
mempertanggung jawabkannya kepada Allah SWT di Hari Akhirat nanti. Ibnu
al-Mundzir, dalam Kitab al-Ijma', (hal. 44) menjelaskan, bahwa soal imam
dan khatib ini sudah merupakan ijma' di kalangan sahabat. Para Ulama Islam
pun tidak pernah berbeda dalam soal ini. Wallahu a'lam.
Saturday, July 26, 2008
AWAS BUKU SYI'AH
AWAS Buku Syi’ah
Jika kita ke toko buku, terkadang tertarik dengan suatu buku. Namun jangan tergesa-gesa dahulu untuk membelinya. Lihat dulu pengarangnya. Apakah dari Ahlus Sunnah wal jama’ah atau bukan. Kalo perlu, lihat juga penerjemahnya (untuk yang bahasa Indonesia) dan penerbitnya. Jangan sampai kita salah di dalam memilih buku.
Pada kesempatan ini kami bawakan daftar buku-buku syiah yang kami dapatkan dari situs salah satu yayasan syiah di Yogyakarta.
Maksud kami ini tidak lain dan tidak bukan agar kita tidak tersesat dalam memilih buku. Kita tahu dan belajar kejelekan bukan untuk kita amalkan tapi untuk kita jauhi.
| PENERBIT | JUDUL BUKU DAN PENGARANG |
| Lentera |
|
| Pustaka Hidayah |
|
| MIZAN |
|
| YAPI JAKARTA |
|
| YAPI Bangil |
|
| Rosdakarya |
|
| Al-Hadi |
|
| CV Firdaus |
|
| Pustaka Firdaus |
|
| Risalah Masa |
|
| Qonaah |
|
| Bina Tauhid | Memahami Al Qur?an, Murthadha Muthahhari |
| Mahdi | Tafsir Al-Mizan: Mut?ah, S.M.H. Thabathabai |
| Ihsan | Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri |
| Al-Kautsar |
|
| Al-Baqir |
|
| Al-Bayan |
|
| As-Sajjad |
|
| Basrie Press |
|
| Pintu Ilmu | Siapa, Mengapa Ahlul Bayt, Jamia?ah Al-Ta?limat Al-Islamiyah Pakistan |
| Ulsa Press |
|
| Gua Hira |
|
| Grafiti |
|
| Effar Offset | Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah & Syi?ah Sulaim Al-Basyari & Syaraduddien Al ?Amili |
| Shalahuddin Press |
|
| Ats-Tsaqalain | Sunnah Syi?ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi |
| Pustaka | Kehidupan Yang Kekal, Morteza Muthahari |
| Darut Taqrib | Rujuk Sunnah Syi?ah, M Hashem |
| Al-Muntazhar |
|
| Gramedia | Biografi Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi |
| Toha Putra | Keutamaan Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh |
| Gerbang Ilmu | Tafsir Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi |
| Al-Jawad |
|
| Jami?ah al-Ta?limat al-Islamiyah | Tuntutan Hukum Syari?at, Imam Abdul Qasim |
| Sinar Harapan |
|
| Mulla Shadra |
|
| Duta Ilmu |
|
| Majlis Ta?lim Amben | 114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien |
| Grafikatama Jaya | Tipologi Ali Syari?ati |
| Nirmala | Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli |
| Hisab | Abu Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad |
| Ananda | Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari?ati |
| Iqra | Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari?ati |
| Fitrah | Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi |
| Lentera Antarnusa | Sa?di Bustan, Sa?di |
| Pesona | Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi |
| Rajawali Press |
|
| Bina Ilmu | Demonstran Iran dan Jum?at Berdarah di Makkah, HM Baharun |
| Pustaka Pelita |
|
| Pustaka |
|
| Pustaka Jaya | Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi |
| Islamic Center Al-Huda |
|
| Hudan Press |
|
| Yayasan Safinatun Najah |
|
| Amanah Press | Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari |
| Yayasan Al-Salafiyyah | Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra |
| Kelompok Studi Topika | Hud-Hud Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana |
| Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks |
|
| Serambi |
|
| Cahaya | Membangun Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri |
| (Non Mentioned) |
|

