<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703</id><updated>2011-11-28T06:38:11.976+07:00</updated><title type='text'>LIVING ISLAM IN INDONESIA</title><subtitle type='html'>Madrasah Ulya Resolusi Konflik, Telaah Turats Resolusi Konflik dan Esoteris Islam</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-5834762250893894045</id><published>2011-08-16T00:11:00.002+07:00</published><updated>2011-08-16T00:11:48.919+07:00</updated><title type='text'>introducong of sufisme</title><content type='html'> Introducing of sufisme&lt;br /&gt;Sufisme atau tasawwuf merupakan jalan filosofi Islam yang toleran, mistis, dan universal. Pesan sulh-i-kul, damai dengan semua, membuat Sufisme bisa diterima baik oleh kalangan Muslim maupun non-Muslim. Sufisme memiliki daya tarik bagi seluruh sekte dan kelas-kelas sosial Muslim. Orang hanya perlu mengunjungi kuil – kuil, atau zawiyah – zawiyah, atau tekke – tekke seperti kuil suci di Ajmer India dan mengamati arak – arakan para pengunjung Muslim dan non-Muslim untuk membuktikannya. Sufi melihat keesaan Tuhan, tauhid pada segala sesuatu, pada setiap orang. Meskipun dalam bentuk bentuknya yang vulgar dan lebih populer. Sufisme telah menampung praktik-praktik janggal yang tidak islami. Hakikat ajaran ini murrni berasal dari pribadi Nabi sendiri. Pertama-tama sufi harus menguasai, jalan kebenaran Islam, sebelum melangkah kepada tarekat, jalan sufi.&lt;br /&gt;	Para guru sufi merupakan tokoh sentral bagi para murid meeka dalam membantu menyingkap berbagai misteri serta ajaran Sufisme. Fungsi pertama dan utama seorang guru sufi adalah apa yang disebut penghancur ego, yaitu menekan ego individual untuk mengutamakan keagungan Tuhan. Untuk mendukung penghancuran ego ini, berbagai latihan dilakukan, yang sebagian besar tampak janggal bagi orang awam. Banyak kisah tentang bagaimana para guru sufi memberi perintah pada murid murid mereka. Ada dongeng-dongeng tentang para pangeran yang memasuki kalangan sufi kemudian diperintahkan untuk membersihkan kakus.&lt;br /&gt;	Pada berbagai hal yang berbau sufisme, banyak lapisan makna yang terdapat di bawah permukaannya. Gagasan pertamanya adalah menghancurkan kemudian membentuk pencari kebenaran sebelum tarekat dapat dipahami. Praktik-praktik esoterik ini memungkinkan para sufi untuk dapat bertahan di saat yang berat, bahkan saat mengalami penganiayaan. Salah satu praktik seperti itu adalah ritual zikir, menyebut nama Allah. Setiap nama dari ke-99 nama Tuhan diketahui memiliki satu kualitas khusus. Mengucapkan dan mengulang-ulang nama itu dengan cara khusus melahirkan suatu kondisi spiritual pada diri orang yang beriman. Zikir membuat Islam bertahan di Asia Tengah selama masa pahit kekuasaan Uni soviet.&lt;br /&gt;	Doa berikut merangkum semangat sufisme. Doa ini berasar dari ordo (thoriqoh) Naqsabaniah yang didirikan Bahauddin Naqsabandi, orang suci dari Bukhara, yang hidup di abad keempat belas. Rentang Islam yang universal jelas terlihat, doa ini bisa menjadi doa bagi agama apapun, di mana pun di dunia:&lt;br /&gt;Tuhanku, betapa lembut Engkau terhadap ia yang melawan-Mu; betapa dekat Engkau pada ia yang mencari-Mu, betapa belas kasih kepada ia yang meminta kepada-Mu, betapa baik pada ia yang menyandarkan harapannya pada-Mu.&lt;br /&gt;Siapa pun dia yang meminta kepada-Mu lalu Engkau menolaknya atau siapa yang mencari perlindungan-Mu lalu engkau menghianatinya dan mendekat kepada-Mu lalu Engkau menjauhinya? Dan berlari kepada-Mu lalu Engkau menolakkannya?&lt;br /&gt;	Semangat sufi yang toleran dan dapat diterima semua pihak tidaklah mengherankan kalau kita menengok sumber inspirasi mereka. Meskipun Nabi merupakan teladan tertinggi mereka, tokoh-tokoh spiritual lain-termasuk Ibrahim, Musa, dan Yesus-juga mencetak mereka. Hal ini diungkapkan dalam “Delapan Karakteristik Sufi” yang ditulis guru sufi terkenal, Junaid dari Bagdad:&lt;br /&gt;Dalam Sufisme, delapan kualitas harus dilatih, sufi memiliki: Kebebasan seperti yang dimiliki Ibrahim; Penerimaan atas apa yang menjadi bagiannya seperti Ismail telah menerima bagiannya; Kesabaran yang dicontohkan Yakub; Kemampuan untuk berkomunikasi dengan simbolisme, seperti dalam kisah Zakaria; Pemisahan dari masyarakatnya sendiri, seperti dialami Yunus; jaket bulu domba seperti mantel penggembala milik Musa; Melakukan perjalanan, seperti perjalanan yang diakukan Yesus; Kerendahan hati seperti Muhammad SAW. dengan kerendahan jiwanya.&lt;br /&gt;	Pesan sufisme mengenai kasih sayang, kerendahan hati dan cinta universal sangat menarik dan mendatangkan banyak ilham. Tetapi apa yang akan dikatakan oleh kaum muda masa kini yang tenggelam dalam lingkungan urban materialis dimana televisi dan internet telah tampil sebagai pemberi input terbesar sebagaimana mengenai Sufisme? Bagaimana mereka akan memahami kisah-kisah sufi?&lt;br /&gt;	Kisah berikut ini berasal dari matsnawi terkenal karya guru sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi, menggambarkan hal di atas. Seorang murid yang mencari jalan sufi akhirnya merasa bahwa ia telah menguasainya dan datang untuk mengatakannya kepada sang guru. Ia mengetuk pintu dan ditanya ‘Siapa? Menjawab Saya. Sang guru mengatakan, ’Pergilah, kamu belum mendapatkan pengetahuan”. Sang murid pun pergi untuk kembali setelah melakukan lebih banyak lagi latihan-latihan spiritual, dan kali ini kita ditanya siapa mengetuk pintu ia menjawan “Engkau” . “Masuklah”, kata sang guru.”Tidak cukup tempat bagi dua aku di rumah ini”.&lt;br /&gt;	Kisah sufi ini menggambarkan lapisan lapisan pemahaman yang terkandung dalam sufisme: penghancuran ego, kebutuhan akan guru sufi yang akan membantu pencarian pengetahuan sepanjang jalan Tuhan, dan pencarian jalan kebenaran, Jalan Tuhan, bagaimanapun esoterisnya. Kisah-kisah ini adalah kiasan, metafor cerita dama cerita. Seperti lapisan dalam bawang kisah-kisah ini memerlukan kesabaran dalam pengupasannya; kisah kisah ini terkadang berakhir dalam air mata.&lt;br /&gt;	Sufisme tidak diharapkan bisa populer atau dipahami massa yang didominasi oleh media, oleh propaganda, oleh analisis yang dangkal, oleh kegaduhan dan hantaman berbagai suara dan oleh sikap tidak hormat yang sinis. Zaman kita menuntut pahlawan-pahlawan sederhana - seperti Superman , James Bond, Indiana Jones, Iron Man, Batman. Tema-tema yang mengingatkan kita pada ketidakmantapan hidup di bumi, yang menunjukkan berbagai misteri keberadaan, kompleksitas kemenjadian, tidak siap untuk diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-5834762250893894045?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/5834762250893894045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=5834762250893894045' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5834762250893894045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5834762250893894045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2011/08/introducong-of-sufisme.html' title='introducong of sufisme'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-5852121816736264101</id><published>2011-04-11T22:34:00.000+07:00</published><updated>2011-04-11T22:34:55.186+07:00</updated><title type='text'>mendengar suara yang indah ----syekh abu nasr as sarraj</title><content type='html'>Mendengatr Suara Yang Indah &lt;br /&gt;Syeikh Abu Nashr As-Sarraj&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Allah swt. berfirman: “Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Fathir: 1).&lt;br /&gt;Mereka menafsirkannya dengan akhlak yang mulia dan suara yang indah.&lt;br /&gt;Diriwayatkan dalam Hadis Nabi Saw. bahwa beliau pernah bersabda:&lt;br /&gt;“Allah tidak pernah mengutus seorang nabi kecuali ia memiliki suara yang indah.” (H.R. Tirmidzi).&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. juga bersabda:&lt;br /&gt;“Allah Swt. tidak pernah mendengarkan dengan serius terhadap sesuatu sebagaimana Dia mendengarkan seorang nabi yang memiliki suara yang indah.” (H.R. Bukhari-Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i dari Abu Hurairah).&lt;br /&gt;Nabi Saw. juga bersabda:&lt;br /&gt;“Sungguh Allah Swt. lebih serius mendengarkan seorang pembaca al-Qur’an dengan suara merdu daripada seorang pemilik biduan perempuan mendengar nyanyian biduannya.” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Fudhalah bin Ubaid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah Hadis disebutkan, bahwa Nabi Dawud as. dianugerahi suara yang merdu sehingga ketika ia membaca Kitab Zabur, jin, manusia, binatangbuas dan burung khusyuk mendengarkan bacaannya. Bahkan seperti diriwayatkan dalam sebuah Hadis, bahwa kaum Bani Israel pernah berkumpul untuk mendengarkan suara Nabi Dawud, sementara itu ada empat ratus jenazah orang-orang yang telah mati di situ diboyong dari majelisnya. (Imam al-Hafizh al-Iraqi mengatakan, bahwa Hadis ini tak memiliki sumber yang jelas).&lt;br /&gt;Sebagaimana pula diriwayatkan dan Nabi Saw bahwa beliau bersabda, “Sungguh Abu Musa diberi terompet (seruling) dan terompet keluarga Nabi Dawud a.s. karena ia telah diberi suara yang merdu.” (H.R. Bukhari-Muslim).&lt;br /&gt;Disebutkan dalam sebuah Hadis, “Bahwa pada saat Pembukaan Kota Mekkah, Nabi Saw. membaca surat al-Fath, beliau membaca panjang bacaan mad dan mengulanginya kembali.” (H.R. Bukhari-Muslim dan Abu Dawud dari Anas dan Ubaidillah bin Mughafal).&lt;br /&gt;Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah Saw., “Andaikan aku tahu bahwa engkau orang yang mendengar, niscaya aku akan memperindah suaraku dalam membaca al-Qur’an.” (H.R. Muslim dan Nasa’i).&lt;br /&gt;Diriwayatkan pula dari Nabi Saw. yang bersabda, “Hiasilah al-Qur’an dengan suara kalian yang merdu.” (H.R. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim).&lt;br /&gt;Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan, bahwa Hadis di atas dimungkinkan memiliki dua pengertian —dan hanya Allah Yang Mahatahu: Pertama, yang dimaksud Hadis di atas adalah menghiasi bacaan al-Qur’an dengan mengeraskan suara ketika membacanya, kemudian memperindah suara dan lagunya. Sebab al-Qur’an adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, maka ia tidak perlu dihiasi dengan suara makhluk atau diperindah dengan lagu yang direkayasa. Kedua, makna yang dimaksud dengan menghiasi bacaan al-Qur’an dengan suara yang indah adalah mendahulukan mana yang harus lebih dahulu dalam makna dan mengakhirkan mana yang harus di akhir, seperti dalam firman Allah Swt.:&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan Dia tidak menjadikan di dalamnya suatu yang menyimpang, sebagai bimbingan yang lurus.” (Q.S. al-Kahfi: 1-2).&lt;br /&gt;Artinya dalam uslub mendahulukan mana yang harus didahulukan dan mengakhirkan mana yang terakhir adalah bahwa Allah Swt. menurunkan al-Qur’an kepada hamba-Nya sebagai bimbingan yang lurus dan Dia tidak menjadikan suatu yang menyimpang (bengkok). Sementara ayat-ayat seperti ini banyak kita jumpai dalam al-Qur’an.&lt;br /&gt;Allah Swt. mencela suara yang tidak disukai (buruk), sebagaimana dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;“Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. Luqman: 19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ketika Allah mencela suara yang buruk, Dia akan memuji suara yang indah.&lt;br /&gt;Orang-orang bijak telah banyak berbicara tentang suara yang indah dan alunan lagu yang merdu. Misalnya Dzun-Nun —rahimahullah— pernah ditanya tentang suara yang bagus, maka ia mengatakan, “Itu adalah pembicaraan-pembicaraan dan isyarat-isyarat yang ditujukan kepada al-Haq yang dititipkan pada segala kebaikan.”&lt;br /&gt;Diceritakan dari Yahya bin Mu’adz ar-Razi, yang mengatakan, “Suara yang indah merupakan hiburan dari Allah Swt. bagi hati yang di dalamnya ada rasa cinta kepada Allah.”&lt;br /&gt;Sementara itu yang lain mengatakan, “Lagu yang indah adalah hiburan dari Allah Swt. yang digunakan untuk menghibur hati yang terbakar oleh api cinta Allah Swt.”&lt;br /&gt;Saya mendengar Ahmad bin Au al-Wajihi mengatakan: Saya mendengar Abu Ali ar-Rudzabari —rahimahullah— yang mengatakan, “Bahwa Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasibi pernah berkata: Ada tiga hal bila ditemukan maka akan menjadi hiburan, sementara saya telah kehilangan semuanya: (1) Suara yang indah dengan tetap berpegang teguh pada agama; (2) Wajah yang cantik dengan tetap menjaga diri; (3) Persaudaraan yang baik dengan penuh kesetiaan.”&lt;br /&gt;Dari Bundar bin al-Husain —rahimahullah— yang mengatakan, “Suara yang bagus merupakan hikmah yang mengakibatkan kebijakan yang selamat. Suara yang merdu dan perkataan yang halus merupakan takdir dari Allah Swt. Yang Mahaagung lagi Mahatahu.”&lt;br /&gt;Termasuk kelembutan yang Allah ciptakan pada keindahan suara adalah ketika seorang anak kecil menangis dalam buaian karena ada sesuatu yang dirasakan sakit, kemudian mendengar suara yang indah, maka ia akan berhenti menangis dan bisa tidur.&lt;br /&gt;Suatu hal yang sudah cukup terkenal, bahwa orang-orang terdahulu mengobati orang yang sakit empedu dengan menggunakan suara yang indah. Dimana pada akhirnya si pasien bisa sehat kembali.&lt;br /&gt;Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Di antara rahasia yang Allah ciptakan di dalam suara yang merdu dan indah akan memberi semangat baru. Coba Anda perhatikan unta yang melintasi gurun pasir, ketika telah lelah dan tidak mampu meneruskan perjalanannya, maka orang yang menggiringnya akan melantunkan senandung untuknya. Unta akan asyik mendengarkan lantunan senandungnya dengan memanjangkan lehernya dan memasang telinganya ke arah orang yang bersenandung, kemudian jalannya menjadi cepat sehingga barang-barang bawaannya bergoncang. Tapi barangkali nafasnya akan habis bila orang yang menggiring tidak melantunkan senandungnya lagi, setelah ia berjalan dengan cepat dan beban bawaannya cukup berat, dimana sebelumnya ia merasa ringan pada saat mendengar keindahan dan kemerduan suara orang yang menggiringnya.&lt;br /&gt;Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah—juga mengatakan: Ketika ad-Duqqi di Damaskus ia pernah bercerita kepadaku tentang suatu kisah yang searti dengan hal di atas, dimana ia ditanya mengenai hal itu, maka ia bercerita: Ketika berada di gurun pasir aku mendatangi salah satu kabilah Arab, kemudian salah seorang dan mereka menyambutku dan mempersilakan masuk ke dalam sebuah kemah. Di dalam kemah aku melihat seorang budak hitam yang diikat dengan rantai, sementara di depan kemah kulihat beberapa ekor unta yang telah mati dan ada seekor unta kurus dan lunglai seperti mau mati. Maka si budak yang diikat oleh tuannya itu berkata kepadaku, “Pada malam ini Anda adalah tamu tuan saya. Sementara Anda adalah orang yang dihormatinya, maka tolonglah saya agar ia mau melepaskan saya dari ikatan ini, karena ia tidak mungkin menolak permintaan Anda.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-5852121816736264101?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/5852121816736264101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=5852121816736264101' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5852121816736264101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5852121816736264101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2011/04/perilaku-wara-menurutsyekh-abu-hsan-as.html' title='mendengar suara yang indah ----syekh abu nasr as sarraj'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-7788443669169486678</id><published>2010-07-20T10:29:00.000+07:00</published><updated>2010-07-20T10:29:01.330+07:00</updated><title type='text'>TARBIYAH OF RAMADHAN</title><content type='html'>&amp;nbsp;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="Content-Type"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Word.Document" name="ProgId"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Generator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;meta content="Microsoft Word 11" name="Originator"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cpenamas%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal	{mso-style-parent:"";	margin:0cm;	margin-bottom:.0001pt;	mso-pagination:widow-orphan;	font-size:12.0pt;	font-family:"Times New Roman";	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}@page Section1	{size:612.0pt 792.0pt;	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;	mso-header-margin:35.4pt;	mso-footer-margin:35.4pt;	mso-paper-source:0;}div.Section1	{page:Section1;}--&gt;&lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;TARBIYAH OF RAMADHAN&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Oleh Muhammad Muhtar Arifin Sholeh&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;NIAT IKHLAS&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kajian kali ini memang berkaitan erat dengan rukun iman yang pertama. Al-Quran memberitahu ummat manusia tentang the real God, Tuhan yang sebenarnya (asli), yaitu di surat al-Ikhlaas. Sebagian besar muslim sudah bertahun-tahun hafal surat ini, tetapi permasalahannya sudah bisakah kita membacanya ? menulisnya ? dan mengerti isinya ? Kata al-Ikhlaas secara etimologis berarti murni, asli, belum kecampuran apa-apa, sehingga surat itu menjelaskan Tuhan yang asli menurut al-Quran, konsep Tuhan yang belum kecampuran otak pikiran manusia&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Al-Quran surat al-Ikhlaas menyatakan bahwa the name of the real God is Allah, “katakanlah bahwa dia itu Allah”. Allah (&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;الله&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;) memang menjadi proper name untuk Tuhan yang asli, namun memang tepatnya ditulis dalam bahasa Al-Quran (jika ditransliterasi dalam roman script menjadi Allah – alif lam-lam ha’ - &lt;span dir="RTL" lang="AR-SA"&gt;الله&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;). Jadi bukan nama yang lain, bukan yesus, bukan brahma-wisnu-siwa, bukan sang hyang widi wasa, bukan theos, bukan god, bukan tuhan, dan bukan gusti ingkang murbehing dumadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tuhan yang asli, yaitu Allah, mempunyai ciri-ciri Ahad (Esa), Shomad (Tempat Bergantung), Lam Yaalid (Tidak Melahirkan), Lam Yuulad (Tidak Dilahirkan), dan Lam Yakul-lahuu Kuffuwwan Ahad (Tidak Ada Satupun yang Menyamai-Nya). Ciri pertama dan terakhir merupakan ajaran tauhid (pengesaan Allah, keyakinan satu terhadap Allah) yang meliputi tauhid rubuubiyah, tauhid asma wa sifat, tauhid mulkiyah, dan tauhid uluuhiyah. Kajian tauhid bisa sangat mendalam / sangat luas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ustadz-ustadzah saya pernah mengajarkan bahwa membaca tiga kali surat al-Ikhlaas bernilai sama dengan mengkhatamkan al-Quran. Artinya, jika ayat pertama dan terakhir surat al-Ikhlas berisikan ajaran tauhid, maka surat pertama dan terakhir al-Quran (al-Fatihah dan an-Naas) juga berisikan ajaran tauhid, baik tauhid rubuubiyah (Rabbul-‘aalamiin dan Rabbun-naas), tauhid asma wa sifat (ar-Rahmaan, ar-Rahiim, dan al-Maalik, sebagai salah tiga dari nama dan sifat Allah), tauhid mulkiyah (Maaliki yaumiddiin dan Malikin-naas), dan tauhid uluuhiyah (Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin dan Ilaahin-naas).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bagaimana manusia seharusnya bersikap (berakhlaq) kepada Allah swt, Tuhan yang sebenarnya ? Akhlaq kepada Allah dapat diwujudkan dengan niat ikhlas, sikap taqwa, bersyukur atas nikmat-Nya, muraqabah, dan sebagainya. Niat ikhlas jangan diartikan “gratisan, tidak ada bayaran”, itu arti yang salah-kaprah. Jika orang bekerja kemudian menerima bayaran (imbalan) maka orang ini tidak niat ikhlas, sedang jika ia tidak menerima bayaran maka dia berniat ikhlas. Pernyataan tersebut adalah pernyataan yang belum tentu benar dan tidak pada tempatnya. Masalah imbalan itu urusan perjanjian antar manusia yang harus dipenuhi (jika memang sepakat) karena Allah juga mengajarkan tentang imbalan yaitu pahala atau masuk surga. Rasulullah saw menyatakan, yang artinya, “berikanlah kepada buruh upahnya sebelum kering keringatnya” (HR Abu Ya’la, Ibnu Majah, dan Thabrani).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Niat ikhlas adalah karena Allah semata. Memang seluruh anggota tubuh ini melakukan tugas (beramal) masing-masing karena Allah sebagai Sang Pencipta. Mata melihat, telinga mendengar, hidung membau, mulut bicara/makan-minum, kaki berjalan, otak berpikir, jantung mengurusi peredaran darah, dan sebagainya. Semua pekerjaan itu aslinya terjadi karena mengikuti keinginan Allah al-Khaliq sebagai Sang Pencipta. Jadi, pekerjaan apapun (tentunya yang baik-baik) harus diniiatkan karena Allah semata. Ikhlas karena Allah syarat diterimanya amal. Tentunya jika sudah niat karena Allah, diteruskan dengan amal yang dituntunkan oleh-Nya untuk mencapai ridho-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Islam disebut dengan ad-diinul-khaalish. Kata al-khaalish mempunyai makna akar kata yang sama dengan al-ikhlaash yaitu murni atau asli. Artinya, Islam adalah agama yang asli (murni) dari Allah, tidak kecampuran dengan hawa nafsu manusia. Allah menciptakaan manusia dengan ad-diin (ciri/sifat, adat kebiasaan, tradisi, jalan, hukum, aturan) yaitu struktur bagian tubuh, tata letak bagian tubuh, fungsi bagian tubuh, dan seluruh sistem yang ada di tubuh (sistem syaraf, pernafasan, pencernaan, peredaran darah, otot, tulang eskresi/sekresi, hormone, dan sebagainya). Sesuai dengan aslinya, tubuh manusia menyerahkan dirinya (ber-aslama, berislam) untuk tunduk-patuh kepada keinginan dan ketentuan atau aturan Allah Sang Pencipta. Jadi, mata manusia (aslinya) berislam kepada Allah dengan melihat, telinga yang asli berislam dengan mendengar, mulut yang murni ciptaan Allah berislam dengan bicara/makan-minum, hidung asli buatan Allah berislam dengan membau, kaki manusia yang murni buatan Allah digunakan untuk berjalan/berlari, otak ciptaan Allah berislam dengan berpikir, jantung dengan mengurusi sistem peredaran darah, paru-paru dengan mengurusi sistem pernafasan, tulang dengan menopang tubuh, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan (QS al-Imraan 3:83)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Keikhlasan penuh kepada Allah (niat ikhlas hanya karena Allah) menjadi senjata hebat untuk melawan kekuatan setan. Setan tidak mampu menembus orang-orang ikhlas (mukhlisin). Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka" (QS al-Hijr 15:39-40)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Keikhlasan penuh kepada Allah berarti menjauhkan diri dari rasa riya (pamer) kepada sesama manusia. Iman seseorang akan sempurna jika ia menjauhkan diri dari riya yang dapat menghancurkan pahala amal sebagaimana api yang membakar kayu kering. Rasulullah saw bersabda, yang artinya, “Tiga perkara, barang siapa hal itu ada pada dirinya, berarti ia menyempurnakan imannya; 1) seseorang yang tidak pernah takut demi agama Allah pada kecaman si pengecam, 2) tidak riya dengan sesuatu dari amalannya, dan 3) jika dua perkara dihadapkan kepadanya, salah satu untuk dunia dan yang lain untuk akhirat, maka ia memilih urusan akhirat daripada urusan dunia” (HR Ibnu Asakir dari Abu Hurairah). Beliau juga menyatakan, yang artinya, “Sesungguhnya yang paling aku takuti atas kamu adalah syirik yang paling kecil. Sahabat bertanya, ‘Apa syirik yang paling kecil itu’? Rasul menjawab ‘riya’” (HR Ahmad)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wallaahu a’lam bish-shawwab,&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;Fas-aluu ahladz-dzikri inkuntum laa ta’lamuun&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-7788443669169486678?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/7788443669169486678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=7788443669169486678' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/7788443669169486678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/7788443669169486678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2010/07/tarbiyah-of-ramadhan.html' title='TARBIYAH OF RAMADHAN'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-5947476524612114804</id><published>2010-07-04T22:42:00.001+07:00</published><updated>2010-07-04T22:42:16.565+07:00</updated><title type='text'>Pendekatan Sufistik</title><content type='html'>&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Pendekatan Sufistik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kitab berjudul “Al-Munqidz minadh-Dhalal” karya Hujjatul Islam Al-Ghazali, Ulama besar abad VI hijriyah, telah mengilhami banyak kesadaran spiritual umat Islam, bahkan masyarakat dunia ketika itu. Makna dari judul itu adalah “Penyelamat dari kegelapan”.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Sebuah wacana yang mengingatkan kita semua, bahwa siklus moralitas manusia, akan menuju titik jenuhnya, dan secara dramatis telah&amp;nbsp; memasuki abad-abad kegelapan yang mengerikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Dalam konteks kebangsaan kita dewasa ini,&amp;nbsp; bentangan sejarah masa lalu merupakan mosaik yang memantulkan tiga wajah sejarah yang saling memperebutkan hegemoni, tanpa disadari hegemoni-hegemoni itu seringkali membiaskan&amp;nbsp; gambaran, betapa drama para pemimpin negeri, konstelasi ideologi dan kepentingan pragmatis menjadi warna yang saling bergulungan satu sama lainnya.&amp;nbsp; Lalu hari ini, tiba-tiba kita sudah berada di hamparan pulau asing, tanpa horison perspektif&amp;nbsp; dan kaki langit yang jelas. Hari ini adalah kenyataan-kenyataan dari pantulan mosaik yang buram dari masa lalu yang kelam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Kitab Al-Ghazali itu, tentu saja masih relevan untuk menimbang moralitas kebangsaan kita hari ini, untuk sebuah solusi besar yang mondial. Karena sesungguhnya, masalah-masalah kontemporer dari soal KKN, delegitimasi politik, dan konspirasi masih terus berlangsung.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Di satu sisi, ada lapisan generasi muda yang hendak bangkit mewarnai negeri ini harus tumbuh dengan situasi konflik horisontal dan ideologis, tanpa lahir dari&amp;nbsp; kandungan “kasih sayang” kebudayaan politik generasi tua, sedangkan di lain pihak, desakan-desakan internasional yang sulit dibendung ketika globalisasi terus menggulung belahan bangsa yang belum sama sekali siap menyongsong suatu abad, dimana hegemoni masyarakat industri semakin liar menancapkan “penjajahan baru”.Tidak hanya generasi muda, tetapi juga generasi tua, tidak bisa bicara banyak, dalam menghadapi tantangan-tantangan internasional seperti itu, mengingat moralitas kebangsaan kita masih berada di dalam proses penyembuhan dari penyakit jiwanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Makanya, opini publik mengalami kontaminasi luar biasa, bahkan sampai pada tingkat paling maniak, publik harus memendam kekecewaan yang mendalam, karena lipatan-lipatan peristiwa yang terorganisir, dalam fluktuasi yang bergelombang, tanpa bisa diduga kemana arah angin yang menuntun kapal bersar bangsa ini tertuju. Situasinya sedemikian keruh, saling tumpang tindih peran, karena masing-masing kelompok sesungguhnya berada dalam jurang ketakutan, dengan saling membangun alibi yang sangat instan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Drama Kemelut&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Drama kebangsaan itulah yang menyebabkan hilangnya prioritas kerja besar yang mesti diagendakan, berbalik tanpa skenario ke depan yang menjanjikan, keculai perubahan skenario yang serba mendadak, dan membuat berbagai kebijakan terasa gagap. Padahal ada kata bijak yang sering diungkap oleh para Ulama, “Dar’ul Mafasid Muqaddamun ‘ala Jalbil Mashalih”, yang berarti meninggalkan atau membersihkan mafsadah bangsa ini harus diprioritaskan ketimbang reformasi.&amp;nbsp; Kaidah arif ini sama seperti tergilas oleh usaha reformasi, yang muncul bukan karena sebuah TIB yang merespon masa depan, tetapi lebih sebagai eskapisme&amp;nbsp; dan kekecewaan atas penidasan&amp;nbsp; struktural maupun kultural di masa Orba.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Hari ini kita menghadapi tiga masalah besar yang mesti diselesaikan tanpa harus mempertimbangkan lagi toleransi-toleransi politis:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Masalah pertama, adalah robeknya spirit merah putih dalam compang camping sejarah hari ini. Merah putih yang menjadi simbol nasionalisme harus banyak ditarik oleh tangan-tangan ambisi yang sangat kotor: Kalau bukan tangan yang menginginkan merebut merah putih agar tergenggam erat di tangannya, sebagai legitimasi atas kekuasaan yang diraihnya, maka merah putih malah dirobek untuk ditambal dengan warna-warni lainnya atas nama aspirasi publik di negeri yang terbuka peluang-peluang demokrasi dan HAM-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Sementara watak demokrasi TIB sendiri belum mendaratkan dirinya pada landasan kebangsaan yang kokoh, dalam wujudnya yang eksistensial sebagai&amp;nbsp; demokrasi khas &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, sehingga simbol-simbol ideologis di luar merah putih sangat antusias untuk turut mewarnai bendera nasional kita. Lebih sederhana, sesungguhnya ada masalah ideologis saling tarik menarik antar kekuatan politik di negeri ini, ditambah dengan kekuatan politik non ideologis yang opportunis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Masalah kedua,&amp;nbsp; berkait dengan etika dan etos penyelenggaraan negara.&amp;nbsp; Sampai pada kesimpulan, bangsa kita telah “mati rasa” dengan ungkapan soal etika, mulai dari anak-anak remaja sampai kaum elit di &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&amp;nbsp; Kita harus jujur dan terbuka, bahwa “akhlak bangsa” kita telah tersungkur dalam degradasi watak-watak kebangsaan dari bangsa-bangsa di dunia, dalam berbagai sektor kehidupan. Kalau boleh diungkapkan dengan satu kata saja, kita hanya bisa berucap, “Astaghfirullahal&amp;nbsp; ‘Adzim”, sebagai ungkapan satu-satunya bagi ketidakberdayaan moral kita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Sebab apa yang disebut sebagai perselingkuhan moral terjadi dimana-mana, di ketiak-ketiak birokrasi,&amp;nbsp; dibalik kata-kata “perjuangan” di Senayan, bahkan yang paling mengerikan ketika moral dijualbelikan di balik api konflik SARA, lalu dimanage untuk hegemoni kepentingan, tanpa sedikit pun para pelakunya merasa bersalah, karena lembaga peradilan moral kita tak pernah bergeming kecuali hanya terbatas pada&amp;nbsp; teriakan-teriakan protes atas pelanggaran HAM dan formalisme-formalisme hukum yang bisa dimainkan oleh para pemegang opsi hukum di lembaga peradilan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Drama moral&amp;nbsp; kebangsaan ini, kemudian bisa kita lihat dari tiga aspek yang nyata: moral individu, moral publik dan moral aparat negara, yang masing-masing diperlemah oleh sanksi-sanksi moral dalam ketidakpastian hukum. Lalu pertanyaan yang belum bisa terjawab, karakteristik bangsa seperti apakah yang menjadi predikat kita hari ini? Lalu kapankah kita bisa disebut sebagai sosok bangsa yang bangkit dari reruntuhan moral ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Masalah ketiga,&amp;nbsp; mengadapi globalisasi, khususnya paska tragedi Sebelas September lalu hingga bom Bali, sampai krisis Irak, bahkan krisis global baru-baru ini, yang dicemaskan berdampak ke negeri kita, lalu muncul Drama Century yang dahsyat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Menghadapi globalisasi berarti duduk bersama dalam Tata Dunia Baru, yang sejak awal &lt;st1:country-region w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; telah dipandang sebagai bangsa dan negara yang tidak begitu penting, sehingga tidak pernah terdengar sedikit pun perjuangan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan tentang arah Tata Dunia Baru tersebut. Kalau harus memilih untuk pengambilan keputusan sejarah, bangsa Indonesia lebih memilih menjadi bangsa yang “terhibur” oleh globalisasi, ketimbang sebagai bangsa yang dihargai sama, dengan bangsa-bangsa lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Sebagai bangsa yang terhibur, mereka tiba-tiba telah jatuh tersungkur dalam kubangan ekonomi dan mata uang dengan waktu yang singkat dan cepat.&amp;nbsp; Faktanya, bangsa kita tidak pernah serius dalam soal hubungan internasional, lalu sekali lagi hanya bisa menghibur diri dengan ungakapn-ungkapan yang membius, sebagai&amp;nbsp; “bangsa besar.”&amp;nbsp; Bahkan apa sesungguhnya globalisasi itu, kemana arahnya, bangsa kita tidak pernah peduli, karena memang tidak tahu, skenario yang sesungguhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;KACAMATA SUFISTIK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari tiga masalah besar tersebut, kita&amp;nbsp; perlu urai masing-masing pendekatan melalui kacamata Sufistik, sebuah pendekatan dimensi moral; terdalam dari pengalaman teosofis kita, agar ada kejernihan nurani dalam memandang dimensi ke-Indonesiaan dari sisi hakiki yang selama ini terabaikan, namun sesungguhnya sangat fundamental.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Untuk solusi benturan psikhologis dibalik tarik-menarik ideologi kebangsaan, dunia Sufi memandang dari proses pergumulan ini dengan dua kaidah Sufi yang tertera dalam kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, Ulama Sufi besar satu abad paska Al-Ghazali, yang cukup relevan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Kaidah Alhikam pertama, berbunyi, “Tanda-tanda sebuah bangsa terlalu mengandalkan nama besarnya, egoismenya, amaliahnya, adalah hilangnya optimisme masa depan di depan Allah ketika bangsa itu berbuat kesalahan.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Kaidah Alhikam kedua,&amp;nbsp; jika ditafsirkan lebih&amp;nbsp; “berkebangsaan” bisa berbunyi, “Kehendak bangsa yang ingin memasuki dunia serba Ilahi, sementara Tuhan masih memposisikan bangsa itu di wilayah atau alam logika sebab akibat historis, sesungguhnya bangsa itu sedang terseret oleh emosi-emosinya yang masih tersembunyi didalam jiwa bangsa itu.&amp;nbsp; Dan sebaliknya suatu bangsa yang telah diposisikan Allah untuk memandang perspektifnya dari serba Ilahi, tiba-tiba mereka memaksakan dirinya untuk terlibat dalam alam logika sebab akibat, sesungguhnya bangsa itu sedang berada dalam degradasi derajat kebangsaannya.”&lt;br /&gt;Hikmah Sufi itu, menggambarkan tentang etika penyelenggaraan kekuasaan dan politik di negeri kita, agar kembali pada proporsi pandangan hidup berbangsa yang benar:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Manakah yang dijadikan dasar perjuangan ideologis, religius, hubungan-hubungan strategis dan kultur yang hendak dibangun, mengingat masing-masing saat ini berada dalam tumpang tindih yang satu sama lain saling mengintervensi. Tidak jelas dalam praktek kehidupan berbangsa, mana yang masuk sebagai wilayah Ketuhanan, wilayah kemanusiaan, wilayah interaksi&amp;nbsp; kebangsaan yang plural, dan mana wilayah serta tarik menarik budaya dan ideologinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Dunia Sufi memandang persoalan lebih bersifat deduktif, dari wilayah kedalam hakikat kultural, kemudian diwujudkan dalam kerangka besar kebangsaan, mengingat sejarah kebangsaan kita sesungguhnya mendahului sejarah kenegaraan kita. Sehingga formalisme negara, tidak akan kokoh manakala tidak mendasarkan pada kultur kebangsaannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Nasionalisme modern yang&amp;nbsp; dijadikan wacana Tata Indonesia Baru (TIB) tidak bisa melepaskan diri dari tiga masalah besar sebelumnya: Watak ideologis; Etika penyelenggaraan negara dan Tata Dunia Baru dalam pergumulan globalisasi. Ketiganya muncul dalam kerucut demokrasi yang harus dipraktekkan dalam watak kebudayaan kita, dengan etika-etika dan kepastian hukum yang berlaku.&amp;nbsp; Jangan sampai kita terjebak oleh arus besar globalisasi tanpa menyertakan perimbangan dari berbagai dimensi kebangsaan kita secara lebih demokratik, mengingat kesepakatan tentang demokrasi yang hendak kita bangun masih dalam perdebatan konstelatif yang panjang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Misalnya, bagaimana wujud demokrasi dalam praktek birokrasi pemerintahan kita, bagaimana pula model yang akan muncul dalam praktek peradilan kita, bahkan dalam hubungan antar partai dan lembaga-lembaga tinggi negara serta hubungan internasional. Pertanyaan berikut masih harus diselesaikan menyangkut keadilan ekonomi, prinsip-prinsip Hankam yang demokratik, dan hubungan antara daerah dengan pusat dalam kerangka Otonomi Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family: Arial;"&gt;TIGA PENDEKATAN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Proses-proses horisontal kebangsaan itu, menurut dunia Sufi diposisikan menjadi tiga konstelasi besar.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pertama,&amp;nbsp; konstelasi yang berhubungan dengan sistem konstitusi, sistem politik, penegakan HAM serta sistem sosial&amp;nbsp; yang pluralistik ini. Inilah yang disebut sebagai sistem syar’iyat, dimana lapisan-lapisan dunia lahiriyah berinteraksi untuk kepentingan publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Pada sistem syar’iyat, aturan hukum -- namun bukan sebagaimana digerakkan oleh kekuatan-kekuatan&amp;nbsp; formalisme syariat Islam selama ini – ,&amp;nbsp; kita berpijak pada gagasan besar membangun kehidupan terbuka, adil dan memihak pada kepentingan rakyat. Pada level inilah Allah swt, memberikan kebebasan kepada publik untuk menentukan kebajikan publiknya, yang kelak memberi penguatan struktural pada sistem politik, penyelenggaraan negara, dan kemakmuran ekonomi rakyat. Inilah yang disebut kaum Sufi dengan penataan kehidupan lahiriyah&amp;nbsp; (Ishlahudz-Dzowahir).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Kedua, konstelasi&amp;nbsp; yang berhubungan dengan sistem kebudayaan, penguatan akan keyakinan moral dan akhlak bangsa.&amp;nbsp; Sistem ini disebut sebagai metode Thariqat, dimana inspirasi teologis menggerakkan etika publik dan individu.&amp;nbsp; Hubungan teologis dalam kehidupan sosial politik dan ekonomi, hanyalah hubungan inspiratif, karenanya tidak bisa diformulasikan dalam pasal-pasal formal konstitusi. Kelak secara langsung, hubungan ini akan membentuk watak kebangsaan kita dalam sistem kebudayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Konstelasi ini diperlukan mengingat kultur teologis bangsa kita sangat beraneka, satu sama lain membutuhkan akomodasi yang proporsional.&amp;nbsp; Tanpa akomodasi kultural seperti itu, demokratisasi yang kita kembangkan akan mengalami kebuntuan moral, karena demokrasi hanya akan menimbang mayoritas dan minoritas untuk menentukan kalah dan menang.&amp;nbsp; Jika hal demikian diterapkan di negeri ini, kekuatan-kekuatan minoritas akan tertindas oleh diktator mayoritas, sekalipun mayoritas itu mengatasnamakan Tuhan untuk legitimasi politiknya. Cara ini untuk menghindari mafioso minoritas yang ekstrim dalam tata ekonomi dan kekuasaan, sebagaimana telah terjadi di masa Orde Baru dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Etika kebangsaan akan berpijak pada tipikal “Thariqat” ini, yang bia dilaksanakan melalui sistem pendidikan nasional. Dengan demikian, sistem Diknas kita perlu perubahan reformatorik, bukan saja kualitas dunia kependidikan kita yang telah terdegradasi dari kualifikasi pendidikan internasional, mengingat peringkat kita telah turun derajatnya menjadi urutan sangat bawah, dibanding Vietnam yang sudah berada di urutan ke 40, dan Malaysia di urutan ke 12. Tetapi juga, dunia pendidikan kita telah kehilangan watak keluhurannya dalam membentuk watak budi pekerti generasi muda bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Pendidikan kita tidak memberi garansi moral para calon pemimpin dan politisi untuk memiliki etika, juga tidak menjamin seorang pengusaha dan penguasa bisa bebas dari hasrat KKN. Jika ini dibiarkan akan muncul anarkhisme moral yang sangat mengancam seluruh elemen bangsa ini, ketika moral&amp;nbsp; hanya dijadikan alibi untuk menipu publik. Masya Allah!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;Ketiga, konstelasi hakikat, bahwa seluruh muara membangun kebersamaan dalam berbangsa ini harus didasari oleh sebuah tujuan mulia, yaitu memandang Cahaya Ketuhanan dibalik proses bersejarah, bahwa segala muara bangsa ini dariNya, bersamaNya, menuju padaNya, besertaNya, lebur padaNya, hanya bagiNya dan bersandar padaNya. Jika terjadi sungguh sangat bercahaya bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 13.5pt; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial;"&gt;&lt;br /&gt;KHM Luqman Hakim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-5947476524612114804?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/5947476524612114804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=5947476524612114804' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5947476524612114804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5947476524612114804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2010/07/pendekatan-sufistik.html' title='Pendekatan Sufistik'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-8973557412681001705</id><published>2010-06-07T12:36:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T12:36:28.577+07:00</updated><title type='text'>WARA'</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;WARA’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-align: center; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Oleh: Muqoffa Mahyuddin, SAg.&lt;a href="file:///D:/QOFFA/MATERI%20TASAWWUF%20MUQOFFA/fathurrobbani%20wa%20fadlurrohmani%20SYEKH%20'ABDUL%20QODIR%20JAILANI/WARA'.doc#_ftn1" name="_ftnref1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="mso-layout-grid-align: none; text-align: center; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Penyuluh Agama Islam Kokap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Menurut bahasa menahan &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;hal yang tidak layak. Dikatakan tawarro’a artinya merasa tidak enak. Al Waro’ juga sesinonim pengertiannya dengan taqwa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Pengertian wara’ menurut istilah syari’at berasal dari &lt;i&gt;wari’a yari’as, &lt;/i&gt;dambil dari materi &lt;i&gt;waro’a&lt;/i&gt; mengandung makna mencegah diri dan surut. Al Waro’menurut pengertian bahasa juga berarti memelihara dan mencegah diri terhadap artinya meninggalkan suatu yang meragukan Anda, membuang hal yang membuat anda tercela, mengambil hal yang lebih kuat, dan memaksakan diri untuk melakukan hal dengan lebih hati-hati. Wara’ kesimpulannya ialah menjauhi hal-hal yang subhat dan senantiasa mengawasi detikan hati dan jalannya pikiran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ibnu Taimiyah Rmh. Telah mengatakan sehubungan dengan pengetian wara’. Bahwa wara’ artinya sikap hati-hati terhadap hal yang dikhawatirkan kesudahannya, yaitu hal yang telah diketahui status keharamannya dan juga terhadap hal yang masih diragukan status keharamannya, namun bila ditinggalkan tiada kerusakan yang lebih parah daripada mengerjakannya. Hal ini merupakan syarat yang penting sehubungan dengan sebagai hal yang masih diragukan status hukumnya. Demikian pula halnya dengan &lt;i&gt;ihtiyal &lt;/i&gt;(mencari-cari alasan) untuk melakukan hal yang masih diragukan status wajibnya, tetapi pengertiannya berdasarkan sudut pandang ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Ibnul Qoyyim rmh. telah mendefinisikan wara’ dengan pengertian&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;meninggalkan hal yang di khawatirkan akan menimbulkan bahaya dalam kehidupan akhirat nanti. Diantara sarana penghambaan diri dan memohon&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pertolongan kepada Allah termasuk pula wara’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sesungguhnya Allah SWT. telah berfirman : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;'&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;¯&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;»&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;@&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ä&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;z&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;`&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;»&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Í&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;©&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;Ü&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;å&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;·&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;»&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;|&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;¹&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;o&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;b&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;÷&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;×&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;L&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;ì&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;æ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Ç&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Ê&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;È&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Qs. Al Mu’minun(23):51)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Dalam ayat lain telah disebutkan oleh firmanNYa:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ö&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Î&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;g&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;Ü&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Ç&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;Í&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;È&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Dan pakaianmu bersihkanlah,(QS. Al Mudatsir (74): 4)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Yakni bersihkanlah dirimu dari dosa-doa. Dalam ayat ini dipakai ungkapan kinayah (sindiran) untuk menunjukan pengertian diri dengan memakai kata pakaian. Demikianlah menurut sejumlah ulama ahli tahqiq &lt;i&gt;(peneliti)&lt;/i&gt; dari kalangan ulama’ tafsir. Perihalnya sama seperti yang dikatakan oleh Ghailan Ats Tsaqafi dalam ungkapan berikut: ”Segala puji bagi Allah, karena sesungguhnya aku tidak pernah mengenakan pakaian khianat maupun kedoknya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Tidak diragukan lagi bahwa membersihkan diri dari berbagai macam najis dan membebaskannya merupakan bagian dari pembersihan yang diperintahkan, karena dengan merealisasikan hal ini, berarti akan menjadi sempurnalah perbaikan amalan dan akhlaq. Makna yang dimaksud ialah bahwa wara’ akan mensucikan hati seorang hamba dari najis dan kotorannya, sebagaimana air dapat mensucikan pakaian dari kotoran dan najisnya. Demikian itu karena di antara pakaian dan kalbu terdapat hubungan yang jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Sesungguhnya Nabi SAW. Telah menghimpun pengertian wara’ dalam suatu kalimat melalui sabdanya;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;“Termasuk kebaikan Islam seseorang ialah bila ia meninggalkan apa yang tidak berkepentingan baginya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Pengertian makna haditas ini mencakup anjuran untuk meningglkan sesuatu yang bukan menjadi urusannya, baik yang berupa ucapan, pandangan, pendengaran, pukulan tangan, jalan kaki, pikiran maupun semua gerakan, baik yang lahir maupun yang batin. Kalimat ini cukup memberikan pengertian yang memaskan pengertian wara’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Ibrahim bin A’dham telah mengatakan : Wara’ ialah meninggalkan setiap perkara yang syubhat, meninggalkan hal yang menjadi urusanmu, dan meninggalkan hal-hal yang tiada artinya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Tirmidzi telah meriwayatkan sebua hadits yang berpredikat marfu’:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;“Hai Abu Hurairah, jadilah kamu seorang yang memiliki perasaan wara’, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling ahli dalam beribadah!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Seorang hamba tidak akan mencapai hakikat taqwa sebelum meninggalkan hal yang tidak mengapa karena khawatir akan terjerumus ke dalam hal yang ada apanya. Salah seorang dari ulama’ mengatakan “Dahulu kami meninggalkan 70 macam perkara yang halal karena khawatir terjerumus ke dalam perkara yang haram.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Sehubungan dengan topik wara’ ini terdapat masalah yang sangat penting kaitannya dengan wara’, yaitu masalah ilmu, karena sungguhnya wara’ tidak mungkin dapat direalisasikan tanpa ilmu. Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rmh. Telah mengatakan dalam pernyataannya bahwa wara’ dapat direalsasikan dengan sempurna apabila orang yang bersangkutan telah mengetahui hal yang terbaik diantara dua hal yang baik dan hal yang terburuk diantara dua hal yang buruk. Dia mengetahui bahwa hukum syariat itu pada dasarnya dibangun di atas dasar kriteria yang mengacu pada kemaslahatan dan kesempurnaannya atau mengantisipasi tejadinya keusakan dan meminimalisirnya. Karena sesungguhnya barang siapa yang tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang bermaslahat bagi syariat&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan hal-hal yang merusaknya, sudah barang tentu dia tidak mempunyai parameter tertentu terhadap sesuatu yang harus dilakukan an harus ditinggalkannya. Bahkan bisa jadi dia akan meninggalkan hal-hal yang wajib dan justru terjebak ke dalam hal-hal yang diharamkan, dan ironisnya dia menganggap sikapnya sebagai hal yang sesuai dengan citra wara’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Sebagai contohnya, misalnya seseorang enggan melakukan jihad karena yang diangkat menjadi komandannya adalah orang yang fasiq, lalu dia beranggapan bahwa sikapnya itu adalah wara’ Ketika pasukan kaum muslimin telah dibentuk oleh sang amir di bawah pimpinan panglima yang agak fasiq untuk berjihad melawan orang –orang kafir yang datang menyerang negerinya, seseorang dari yang diserbu untuk bergabung mengemukakan keengganannya dan mengatakan;” Aku tidak mau berjihad di belakang orang fasiq ini. ”Jika demikian, apakah yang bakal terjadi? Sudah jelas pasukan musuh akan mudah mengalahkan pasukan kaum muslimin dan mengacak-acak negerinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Salah seorang dari mereka ayahnya meninggal dunia dengan meninggalkan harta syubhat yang cukup banyak, sementara sang ayah mempunyai banyak utang. Ketika orang-orang datang menagih utang&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;ayahnya dan meminta hak mereka, dia mengatakan: “Aku enggan membayar utang-utang ayahku dari harta yang syubhat”. “Wara’ seperti ini tiak dapat dibenarkan dan pelakunya adalah orang yang jahil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Kalau demikian, kebodohan akan membuat seseorang meninggalkan kewajiban, kemudian menganggap&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sikapnya sebagai wara’. Dia enggan melakukan sholat Jumu’ah dan sholat berjama’ah di belakang para imam yang sering melakukan perbuatan bid’ah yang tidak menjurus pada kekafiran atau perbuatan yang fasiq, lalu ia menganggap sikapnya sebagai wara’. Dia pun tidak mau menerima kesaksian para hamba Allah atau mengambil ilmu dari orang ‘alim karena pelakunya masih melakukan bid’ah yang tersembunyi, lalu dia menganggap bahwa sikapnya yang tidak mau mendengar kebenaran yang harus didengarnya itu sebagai perbuatan wara’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Di antara kaidah wara’ ialah apa yang diingatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rhm. melalui ungkapannya; ”Terhadap hal-hal yang diwajibkan dan yang disunahkan tidak boleh dilakukan zuhud maupu wara’. Namun sebaliknya, jika menyangkut hal-hal yang diharamkan dan yang dimakruhkan, maka sudah sepantasnya dilakukan sikap zuhud dan wara’ terhadapnya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Dalam ungkapan yang lain dia mengatakan pula bahwa wara’ ialah menahan diri terhadap hal-hal yang diharamkan, atau terkadang bisa mendatangkan bahaya alias hal-hal yang subhat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Dengan demikian, termasuk ke dalam pengertian wara’ sikap antisipasi terhadap perkara yang diharamkan dan juga terhadap perkara syubhat, sebab adakalanya perkara syubhat itu membahayakan. Karena sesunguhnya barang siapa yang menghindarkan dirinya dari perkara yang subhat, berarti dia telah membersihkan harga diri dan agamanya; dan barang siapa yang terjerumus ke dalam perbuatan yang subhat, pasti akan terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan. Perihalnya sama dengan seseorang yang menggembalakan ternaknya di dekat daerah yang terlarang, tak ayal lagi dia pasti akan melanggarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Adapun bersikap wara’ terhadap hal - hal yang tidak membahayakan atau tidak mengandung resiko yang membahayakan karena dibarengi oleh faktor yang positif mendatangkan manfaat atau dapat menolak bahaya lain yang positif, maka siap seperti ini sama dengan kebodohan dan perbuatan aniaya. Oleh karena itu, terhadap tiga perkara berikut tidak boleh dilkaukan sikap wara’, yaitu hal-hal yang mengandung manfaat yang memadai, kuat, lagi murni, seperti perkara yang murni diperbolekan, perkara yang disunahkan, atau perkara yang diwajibkan. Sesungguhnya sikap wara’ terhadap perkara ini sama dengan kesesatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Sebagaia ulama’ ada yang mengklasifikasikan wara’ terdiri dari tiga tingkatan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;1. Bersifat wajib, yaitu menahan diri dari perkara yang diharamkan, dan berlaku bagi semua orang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;2. Enggan melakukan perkara yang subhat, namun yang melakukan hal ini sedikit jumlahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;3. Menahan diri terhadap banyak halyang dihalalkan dan membatasinya hanya pada hal-hal yang bersifat primer. Sikap ini hanya dilakukan oleh para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada’ (pejuang agama), dan orang-orang yang shalih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dapat disimpulkan dari keterangan di atas bahwa wara’ ialah menahan diri terhadap beberapa hal yang diperbolehkan karena mengandung resiko akan mengakibatkan kelalaian terhadap Allah dan hari akhirat, sedang&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sikapnya itu sesuai dengan tuntunan sunnah. Oleh karena itu, sebagai contohnya orang yang bersangkutan tidak enggan untuk menikah dan makan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Kalau demikian, bererti wara’ ialah menahan diri terhadap hal-hal yang diharamkan, terhadap tiap-tiap pekara syubhat, dan juga terhadap sebagian perkara halal yang jika dilakukan dikhawatirkan akan menjerumuskan diri pelakunya ke dalam perbuatan yang diharamkan. Apabila seseorang hendak menyempurnakan wara’nya karena ingin meraih derajat yang paling tinggi, maka hendaknya dia bersikap wara’ terhadap semua hal yang bukan karena Allah. Selain itu, seandainya seseorang melakuka hal yang diperbolehkan dengan niat yang baik, misalnya makan dengan niat untuk menguatkan diri dalam melakukan ketaatan, tidur dengan niat akan bangun di tengah malam untuk qiyamul lail, serta nikah dengan niat untuk memberi nafkah kepada istri dan beroleh anak, memelihara&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kesucian diri, dan memperbanyak kaum muslimin, dan sebagainya,tentuah hal yang boleh ini berubah statusnya menjadi ketaatan dan amal ibadah. Sehubungan dengan hal-hal seperti ini, seseorang tidak boleh bersikap wara’ terhadapnya, melainkan hanya namun bila dilakukan akan menjerumuskannya ke dalam perbuatan yang diharamkan atau melalaikan hatinya dari mengingat Allah dan hari akhirat. Bersikap wara’ terhadap kasus-kasus seperti ini diperbolehkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Setiap kali seseorang bersikap wara’, maka semakin cepatlah dia dalam melampauai sirath nanti di hari kemudian, kerena semakin ringan beban yang memeberati punggungnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Derajat manusia berbeda-beda di negeri akhirat nanti sesuai dengan perbedaan derajat kewara’an mereka. Wara’&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;ialah menjauhi segala keburukan dengan niat yang tulus, giat menabung kebaikan, dan memelihara iman, dan juga menjauhi batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dalam arti kata seorang muslim harus bersikap waspada jangan sampai mendekati batasan-batasan yang tela ditetapkan oleh Allah, karena sesungguhnya sikap mendekat kepadanya justu akan mendorongnya untuk melampauinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Sesungguhnya Allah telah berfirman : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;«&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;x&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;q&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ç&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ø&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. (QS. Al Baqarah: 187)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="RTL" style="direction: rtl; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;7&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;=&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;Ï&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ã&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;«&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;#&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;x&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;ù&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;$&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB2; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB2;"&gt;r&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;ß&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;G&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB4; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB4;"&gt;÷&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB5; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB5;"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-family: HQPB1; font-size: 11.0pt; mso-ascii-font-family: Arial; mso-bidi-font-family: Arial; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Arial; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: HQPB1;"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. (QS. Al Baqarah: 229)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="tab-stops: 88.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="tab-stops: 88.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Batasan-batasan ini dimaksudkan sebagai penghujung perkara halal yang dilarang untuk didekati, dan dari sisi lain&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;batasan-batasan ini diartikan pula dengan pengertian permulaan dari perkara yang halal, dalam arti kata janganlah kalian melampauai hal-hal yang diperbolehkan oleh Allah bagi kalian dan jangan pula kalian mendekati hal-hal yang diharamkan oleh Allah bagi kalian.&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="tab-stops: 88.0pt; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Faedah wara’;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Terhindar      dari azab Tuhan yang Maha Pemurah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Terhindar      dari hal-hal yang diharamkan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Dijauhkan      dari sikap membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berfaedah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Mendatangkan      kecintaan Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Do’a      yang bersangkutan dikabulkan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Beroleh      keridhoan dari tuhan yang maha pemurah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Manusia      berbeda – beda tingkatannya di dalam surga nanti sesuai dengan perbedaan      tingkatan mereka dalam hal kewara’an.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;Kesimpulan, kendali agama adalah wara’ Seorang ahli fiqih yang zuhud lagi menetapi Sunnah Nabi SAW akan memperoleh pahala yang sangat besar pada hari Pembalasan nanti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 7;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Wates, 7 Juni 2010&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="mso-element: footnote-list;"&gt;&lt;br clear="all" /&gt;  &lt;hr align="left" size="1" width="33%" /&gt;    &lt;div id="ftn1" style="mso-element: footnote;"&gt;  &lt;div class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-justify: kashida; text-kashida: 0%;"&gt;&lt;a href="file:///D:/QOFFA/MATERI%20TASAWWUF%20MUQOFFA/fathurrobbani%20wa%20fadlurrohmani%20SYEKH%20'ABDUL%20QODIR%20JAILANI/WARA'.doc#_ftnref1" name="_ftn1" style="mso-footnote-id: ftn1;" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-special-character: footnote;"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span lang="EN-GB" style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9.0pt; mso-ansi-language: EN-GB; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 9.0pt; mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Penulis adalah penyuluh Agama Islam fungsional Kabupaten Kulon Progo, kuliah pascasarjana Studi Agama dan &lt;st1:personname w:st="on"&gt;&lt;st2:givenname w:st="on"&gt;Resolusi&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:middlename w:st="on"&gt;Konflik&lt;/st2:middlename&gt;  &lt;st2:sn w:st="on"&gt;di UIN&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; Sunan Kalijaga &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta, disampaikan dalam kultum di mushola Kantor Kemenag Kulon Progo&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-8973557412681001705?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/8973557412681001705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=8973557412681001705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/8973557412681001705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/8973557412681001705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2010/06/wara.html' title='WARA&apos;'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-4604607390643022901</id><published>2009-11-25T12:44:00.000+07:00</published><updated>2009-11-25T12:44:08.105+07:00</updated><title type='text'>MAKRIFAT (SERI TASAWWUF)</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;MAKRIFAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Oleh : Muqoffa Mahyuddin, SAg.*)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; text-indent: 0.3pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;MAKRIFAT Adalah mengenali dzat dan sifat Alloh secara benar. Mengenal Allah SWT. merupakan  pengetahuan yang paling sulit sebab tidak ada yang serupa denganNya. Namun demikian, Allah mewajibkan semua makhluk-manusia, jin malaikat, dan setan–untuk mengenali zat, nama, dan sifat-sifatNya. Pengenalan terhadap Allah telah tertanam dalam diri hewan ataupun yang lainnya. Setiap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; text-indent: 0.3pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;entitas mengetahui eksistensi Penciptanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; text-indent: 0.3pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;Allah berfirman :      &lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;(QS. Al Isra’(17):44). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Ini meliputi manusia, malaikat, hewan, benda mati, tumbuhan, udara, tanah, dan air. Allah memuji mereka yang mengenaliNya. Sebaliknya, Dia mencela mereka yang tidak mengenaliNya dan mereka yang megingkarinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Makrifat Allah terbagi dua; bersifat umum dan khusus. Makrifat Allah yang bersifat &lt;b&gt;&lt;i&gt;umum &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang wajib dimiliki setiap mukallaf adalah mengakui eksisitensi-Nya, menyucikanNya dari segala dari segala sesuatu yang tidak sesuai denganNya, serta mengakui segala sifat yang Allah telah tetapkan untuk diriNya, serta mengakui segala sifat  yang Allah tetapkan untuk diriNya. Sementara makrifat yang bersifat &lt;b&gt;&lt;i&gt;khusus&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; adalah kondisi menyaksikan Allah. Ahli makrifat adalah orang yang Allah beri kemampuan untuk menyaksikan zat, sifat, nama, dan perbuatanNya. Adapun orang alim Allah diberikan pengetahuan tentang hal itu, tetapi tidak lewat penyaksian secara langsung, namun lewat keyakinan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Pendapat yang lain menyebutkan, makrifat adalah sejenis keyakinan yang muncul lewat sebuah perjuangan ibadah. Menurut Imam Ghazali, Allah terlampau besar untuk bisa ditangkap oleh panca indera, esensi keagunganNya tak bisa dijangkau oleh akal dan analogi, bahkan keagunganNya tak bisa dijangkau oleh selainNya, serta Mahabesar untuk bisa dijangkau oleh selainNya, serta Mahabesar untukdikenali oleh yang lain.  Tiada yang mengetahui Allah kecuali Allah itu sendiri. Puncak pengetahuan hamba sampai pada satu titik di mana mereka menyadari bahwa mustahil mereka bisa mencapai ma’rifat yang hakiki. Secara sempurna hal itu disadari oleh seorang nabi atau seorang &lt;b&gt;&lt;i&gt;siddiq.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Nabi SAW. Misalnya mengungkapkan hal itu dengan berkata,”Aku tak bisa memberikan pujian yang cukup kepadaMu, Engkau seperti pujian yang Kau berikan untuk diriMu”. Adapun &lt;b&gt;&lt;i&gt;al-shiddiq&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, ia pernah berkata&lt;i&gt;,”Ketidakmampuan untuk mengetahui adalah pengetahuan itu sendiri”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt; yang berpendapat bahwa jiwa manusia setelah berpisah dengan jasad bisa diidentifikasi lewat pengetahuan dan ilmu yang terukir padanya. Tidak ada yang bisa diketahui dan dikenali darinya kecuali pengetahuan tersebut. Karakter manusia akan dikumpulkan berdasarkan bentuk ilmunya, serta jasadnya akan dibangkitkan berdasarkan amal yang dilakukan, apakah baik atau buruk. Ketika jiwa manusia  telah berpisah dengan dunia sebagai alam taklif atau tempat beramal, ia akan memetik hasil yang telah ia tanam. Pengenalan terhadap Allah yang ia peroleh di akhirat takkan lebih dari pengenalan yang ia peroleh dari dunia, kecuali lebih menyingkap dan lebih memperjelas. Seseorang akan menyaksikan dan melihatNya sesuai dengan kualitas makrifatnya kepada Allah serta pengetahuannya terhadap nama dan sifatNya. Sebab, makrifat di dunia akan berubah di akhirat  menjadi sebuah penyaksian, sebagaimana benih berubah menjadi padi.  Seperti halnya orang yang tidak mempunyai benih takkan mempunyai tanaman, demikian pula orang yang tidak memiliki ma’rifat di dunia ia takkan bisa melihat atau menyaksikan Allah di akhirat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Sebagaimana tingkat ma’rifat berbeda-beda, tingkat penyaksian seseorang yang juga berbeda bergantung pada kualitas &lt;b&gt;&lt;i&gt;tahalli&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (menghiasi diri dengan perbuatan mulia). Orang yang ingin menyalakan pelita dan lentera, ia membutuhkan tujuh  hal; batang, kayu, batu pembakaran, korek, tiang, sumbu, dan minyak. Kalau seorang hamba ingin mendapat lentera makrifat; &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; text-indent: 0.3pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;, ia harus memiliki kayu perjuangan. Sebab, Allah berfirman&lt;i&gt;;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Qs. Al Ankabut[29]:69).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; text-indent: 0.3pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;, ia harus mempunyai batu kerendahan diri. Allah berfirman;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS. Al A’raf(7):55)&lt;b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: justify; text-indent: 0.3pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt; Nyala api yang dibutuhkan adalah terbakarnya hawa nafsu. Allah berfirman&lt;i&gt;;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,”(QS. An Nazi’at[79]: 40)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;keempat,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt; koreknya adalah kembali kepada Allah. Allah berfirman;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu Kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).,’(QS Az Zumar[39]:54)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt; &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;kelima,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt; membutuhkan tiang kesabaran. Allah berfirman;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al Anfal[8]:46).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; text-align: left; text-indent: 0.3pt; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;keenam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;, ia membutuhkan sumbu syukur. Allah berfirman&lt;i&gt;;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang Telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu Hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. An Nahl[16]:114)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" dir="rtl" style="direction: rtl; line-height: 150%; text-align: justify; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;ketujuh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-family: Tahoma;"&gt;, ia membutuhkan minyak keridhaan terhadap semua ketentuan Allah. Allah berfirman;&lt;/span&gt;&lt;span lang="AR-SA" style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 10pt;"&gt;Dan Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, Maka Sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri (QS. At Thur [52]:48).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Diceritakan bahwa seorang saleh mempunyai saudara yang telah mati. Lalu di saat tidur  ia memimpikannya. Ia bertanya  kepada saudaranya itu ,”Apa yang telah Allah perbuat kepadamu?” Ia menjawab,”Aku telah dimasukkanNya ke dalam surga. Aku makan, minum, dan menikah”. Bukan itu yang kutanyakan. Apakah engkau menyaksikan Tuhan?. Kata orang sholeh tadi. Saudaranya itu menjawab,”Tidak ada yang bisa melihatnya kecuali orang yang sudah mencapai ma’rifat kepadaNya.”[qoffa]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Ibnu Athoillah Al Askandari, (&lt;i&gt;Miftahul Falah Wa Misbahul Arwah,&lt;/i&gt; Maktabah Al Turats al Islami, Mesir, 2000, hal 124)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;*)Penyuluh Agama Islam fungsional Kandepag Kulon Progo, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga &lt;st1:place w:st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; Program Studi: Studi Agama dan Resolusi Konflik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-4604607390643022901?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/4604607390643022901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=4604607390643022901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4604607390643022901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4604607390643022901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/11/makrifat-seri-tasawwuf.html' title='MAKRIFAT (SERI TASAWWUF)'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-4868182301893952586</id><published>2009-11-19T09:57:00.000+07:00</published><updated>2009-11-19T09:57:18.225+07:00</updated><title type='text'>Daftar+99+Jenis+Makanan+Yang+Di+Klaim+Malaysia+%C2%BB+Istanto+Personal+Blog</title><content type='html'>&lt;a href="http://id.istanto.net/2009/09/28/daftar-99-jenis-makanan-yang-di-klaim-malaysia/"&gt;Daftar+99+Jenis+Makanan+Yang+Di+Klaim+Malaysia+%C2%BB+Istanto+Personal+Blog&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;media resolusi konflik agama, Indonesia, budaya, keluarga dan pribadi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-4868182301893952586?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://id.istanto.net/2009/09/28/daftar-99-jenis-makanan-yang-di-klaim-malaysia/' title='Daftar+99+Jenis+Makanan+Yang+Di+Klaim+Malaysia+%C2%BB+Istanto+Personal+Blog'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/4868182301893952586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=4868182301893952586' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4868182301893952586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4868182301893952586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/11/daftar99jenismakananyangdiklaimmalaysia.html' title='Daftar+99+Jenis+Makanan+Yang+Di+Klaim+Malaysia+%C2%BB+Istanto+Personal+Blog'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-3601735323313438982</id><published>2009-06-01T21:22:00.000+07:00</published><updated>2009-06-01T21:54:13.689+07:00</updated><title type='text'>keperluan yang makin mendesak</title><content type='html'>KEPERLUAN YANG MAKIN MENDESAK&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pada suatu malam seorang  penguasa  tiran  Turkestan  sedang&lt;br /&gt;mendengarkan   kisah-kisah  yang  disampaikan  oleh  seorang&lt;br /&gt;darwis, ketika ia tiba-tiba bertanya tentang Kidir.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Kidir,"  kata  darwis  itu,   "datang   kalau   diperlukan.&lt;br /&gt;Tangkaplah, jubahkan kalau ia muncul, dan segala pengetahuan&lt;br /&gt;menjadi milik Paduka,"&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Apakah itu bisa terjadi atas siapapun?"&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Siapa pun bisa," kata darwis itu.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Siapa pula lebih 'bisa' dariku?" pikir Sang  Raja;  dan  ia&lt;br /&gt;pun mengedarkan pengumuman:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Siapa  yang bisa menghadirkan Kidir Yang Gaib di hadapanku,&lt;br /&gt;akan kujadikan orang kaya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang lelaki miskin dan tua yang  bernama  Bakhtiar  Baba,&lt;br /&gt;setelah  mendengar  pengumuman  itu,  menyusun akal. Katanya&lt;br /&gt;kepada istrinya,&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Aku punya rencana. Kita akan segera kaya,  tetapi  beberapa&lt;br /&gt;lama  kemudian  aku harus mati. Namun, itu tak apalah, sebab&lt;br /&gt;kekayaan kita akan bisa menghidupimu seterusnya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian Bakhtiar menghadap raja  dan  mengatakan  bahwa  ia&lt;br /&gt;akan  mencari Kidir dalam waktu empat puluh hari, kalau Raja&lt;br /&gt;bersedia memberinya seribu keping uang emas. "Kalau kau bisa&lt;br /&gt;menemukan Kidir," kata Raja, "kau akan mendapat sepuluh kali&lt;br /&gt;seribu keping uang emas ini. Kalau  gagal,  kau  akan  mati,&lt;br /&gt;dipancung  ditempat  ini  sebagai peringatan kepada siapapun&lt;br /&gt;yang akan mencoba mempermainkan rajanya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bakhtiar menerima syarat itu. Ia pun pulang  dan  memberikan&lt;br /&gt;uang  itu kepada istrinya, sebagai jaminan hari tuanya. Sisa&lt;br /&gt;hidupnya yang tinggal empat puluh hari  itu  dipergunakannya&lt;br /&gt;untuk merenung, mempersiapkan diri memasuki kehidupan lain.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada  hari  keempat  puluh  ia menghadap raja. "Yang Mulia,"&lt;br /&gt;katanya, "kerakusanmu  telah  menyebabkanmu  berpikir  bahwa&lt;br /&gt;uang akan bisa mendatangkan Kidir. Tetapi Kidir, kata orang,&lt;br /&gt;tidak  akan   muncul   oleh   panggilan   yang   berdasarkan&lt;br /&gt;kerakusan."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang   Raja   sangat   marah.  "Orang  celaka,  kalau  telah&lt;br /&gt;mengorbankan nyawamu; siapa pula kau ini  berani  mencampuri&lt;br /&gt;keinginan seorang raja?"&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bakhtiar berkata, "Menurut dongeng, semua orang bisa bertemu&lt;br /&gt;Kidir,  tetapi  pertemuan  itu  hanya  akan  ada  manfaatnya&lt;br /&gt;apabila  maksud  orang  itu benar. Mereka bilang, Kidir akan&lt;br /&gt;menemui orang selama ia  bisa  memanfaatkan  saat  kunjungan&lt;br /&gt;itu. Itulah hal yang kita tidak menguasainya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Cukup   ocehan  itu,"  kata  Sang  Raja,  "sebab  tak  akan&lt;br /&gt;memperpanjang hidupmu. Hanya tinggal  meminta  para  menteri&lt;br /&gt;yang  berkumpul  di  sini agar memberikan nasehatnya tentang&lt;br /&gt;cara yang terbaik untuk menghukummu."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menoleh ke Menteri Pertama dan berkata,  "Bagaimana  cara&lt;br /&gt;orang itu mati?"&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Pertama menjawab, "Panggang dia hidup-hidup, sebagai&lt;br /&gt;peringatan."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Kedua,  yang  berbicara  sesuai  urutannya  berkata,&lt;br /&gt;"Potong-potong tubuhnya, pisah-pisahkan anggota badannya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Ketiga berkata, "Sediakan kebutuhan hidup orang itu,&lt;br /&gt;agar ia  tidak  lagi  mau  menipu  demi  kelangsungan  hidup&lt;br /&gt;keluarganya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara  pembicaraan  itu  berlangsung,  seorang bijaksana&lt;br /&gt;yang sudah sangat tua memasuki ruang pertemuan. Segera orang&lt;br /&gt;mengajukan pendapat sesuai dengan prasangka yang tersembunyi&lt;br /&gt;dalam dirinya."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Apa maksudmu?" tanya Raja.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Maksudku, Menteri Pertama itu aslinya tukang roti, jadi  ia&lt;br /&gt;berbicara  tentang  panggang-memanggang.  Menteri Kedua dulu&lt;br /&gt;tukang  daging,  jadi  ia  bicara  tentang   potong-memotong&lt;br /&gt;daging.   Menteri  Ketiga,   yang   telah  mempelajari  ilmu&lt;br /&gt;kenegaraan, melihat sumber masalah yang kita bicarakan ini.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catat dua hal ini. Pertama,  Kidir  muncul  melayani  setiap&lt;br /&gt;orang  sesuai  dengan kemampuan orang itu untuk memanfaatkan&lt;br /&gt;kedatangannya. Kedua, Bakhtiar, orang ini--yang kuberi  nama&lt;br /&gt;Baba  karena pengorbanannya-telah didesak oleh keputus-asaan&lt;br /&gt;untuk  melakukan  tindakan  tersebut.  Keperluannya  semakin&lt;br /&gt;mendesak sehingga akupun muncul didepanmu."&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika  orang-orang  itu  memperhatikannya,  orang  tua yang&lt;br /&gt;bijaksana itupun lenyap  begitu  saja.  Sesuai  dengan  yang&lt;br /&gt;diperintahkan Kidir. Raja memberikan belanja teratur kepada&lt;br /&gt;Bakhtiar. Menteri Pertama  dan  kedua  dipecat,  dan  seribu&lt;br /&gt;keping  uang  emas  itu  dikembalikan  ke  kas kerajaan oleh&lt;br /&gt;Bakhtiar dan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana Raja bisa bertemu Kidir lagi, dan apa yang terjadi&lt;br /&gt;antara keduanya? Itu semua ada dalam dongeng di Dunia Gaib.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Catatan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konon,  Bakhtiar  Baba  adalah  seorang  Sufi bijaksana yang&lt;br /&gt;hidupnya sangat sederhana dan tak dikenal orang di  Korasan,&lt;br /&gt;sampai peristiwa yang ada dalam kisah itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah ini,  dikatakan  juga terjadi atas sejumlah besar Syeh&lt;br /&gt;Sufi  lain,  menggambarkan  pengertian  tentang  terjalinnya&lt;br /&gt;keinginan  manusia  dengan "makhluk" lain.  Kidir  merupakan&lt;br /&gt;penghubung antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Judul ini diambil dari sebuah sajak terkenal karya Jalaludin&lt;br /&gt;Rumi:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peralatan  baru  bagi  pemahaman  akan ada apabila keperluan&lt;br /&gt;menuntutnya.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karenanya, O manusia, jadikan  keperluanmu  makin  mendesak,&lt;br /&gt;sehingga kau bisa mendesakkan pemahamanmu lebih peka lagi.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Versi   ini   diucapkan   oleh   seorang  guru  darwis  dari&lt;br /&gt;Afganistan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-3601735323313438982?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/3601735323313438982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=3601735323313438982' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/3601735323313438982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/3601735323313438982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/06/keperluan-yang-makin-mendesak.html' title='keperluan yang makin mendesak'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-1170972135126895655</id><published>2009-06-01T21:13:00.000+07:00</published><updated>2009-06-01T21:17:18.363+07:00</updated><title type='text'>Kisah Mujahid, Ulama dan Dermawan</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(199, 21, 133);"&gt;&lt;span style="font-size: medium;"&gt;Rasulullah bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang pada hari kiamat dihadapkan kepada Allah SWT. Mereka dahulu ketika hidup di dunia adalah orang-orang yang terkemuka dalam hal harta, kedudukan dan Ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang mati syahid di jalan Allah. Ketika hidup di dunia, ia ikut berperang di jalan Allah dan mati terbunuh. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba Syahid itu berkata, “Ya Allah aku dahulu berjuang dijalan Engkau hingga aku mati membela agama Engkau. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau dahulu ingin mati syahid agar manusia memujimu sebagai pahlawan yang gagah berani, sehingga orang-orang yang datang sesudah mu selalu memuji dan mengenang mu. Tidak ada tempat di surga bagi orang-orang yang riya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Seorang ulama pada zamannya. Ia selalu mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada manusia-manusia lainnya. Pengikutnya banyak dan ia amat disegani dan dihormati oleh para pengikutnya. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba yang ulama itu berkata, “Ya Allah aku dahulu mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi hamba-hamba Mu. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan-Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau mengajarkan ilmu kepada manusia agar mereka memandangmu sebagai seorang ulama besar. Orang-orang mencium tanganmu, memuji dan mengenang mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang sangat dermawan semasa hidupnya. Ia banyak menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membantu orang miskin, anak yatim, tempat ibadah, rumah-rumah pendidikan dan lain sebagainya. Ia sangat dikenal orang-orang pada masanya sebagai seorang dermawan dan sangat disegani. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba yang dermawan itu berkata, “Ya Allah aku dahulu banyak menafkahkan harta yang Engkau berikan dijalan-Mu. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan-Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau menafkahkan hartamu agar engkau selalu dipuji dan dikenang sebagai seorang dermawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah melanjutkan, “Demikianlah ketiga-tiganya adalah ahli neraka. Allah memandang kepada hati kalian dalam setiap perbuatan.” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka lakukan dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;” (QS Saba’ [34]:37)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-1170972135126895655?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/1170972135126895655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=1170972135126895655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/1170972135126895655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/1170972135126895655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/06/kisah-mujahid-ulama-dan-dermawan.html' title='Kisah Mujahid, Ulama dan Dermawan'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-6785302175463278066</id><published>2009-06-01T21:11:00.000+07:00</published><updated>2009-06-01T21:12:33.185+07:00</updated><title type='text'>Bayazid dan Orang Bodoh</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bayazid dan Orang Bodoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid, seorang ahli mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga puluh tahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yang digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa saja melanjutkan perbuatannya tiga ratus tahun lagi tanpa mendapatkan kesenangan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengapa begitu?" tanya Si Sok-Saleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba katakan apa obatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Obatnya tak akan bisa kau laksanakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimanapun, katakan sajalah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayazid pun berkata, "Kau harus pergi ke tukang pangkas rambut untuk mencukur janggutmu, (yang terhormat, itu). Lepaskan semua pakaianmu dan kenakan korset. Isi sebuah kantong kuda dengan kenari sampai penuh, lalu gantungkan di lehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, 'akan kuberikan sebutir kenari kepada setiap anak yang memukul tengkukku.' Kemudian lanjutkan perjalananmu ke sidang pengadilan agar semua orang menyaksikanmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi aku tak bisa melakukan itu; coba katakan cara lain yang sama manfaatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu langkah pertama, dan satu-satunya cara," kata Bayazid, "Tetapi sudah aku katakan kepadamu bahwa kau tak akan bisa melakukannya; jadi tak ada obat bagimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Al-Ghazali, dalam Alkemia Kebahagiaan, mempergunakan ibarat ini untuk menekankan pernyataan yang sering diulang-ulangnya bahwa sementara orang, betapapun jujur tampaknya usaha mencari kebenaran itu bagi dirinya sendiri -dan bahkan mungkin juga bagi orang lain- nyatanya kadang-kadang didasari kesombongan atau mencari untung sendiri, hal-hal yang merupakan halangan utama bagi pencarian kebenarannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-6785302175463278066?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/6785302175463278066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=6785302175463278066' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/6785302175463278066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/6785302175463278066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/06/bayazid-dan-orang-bodoh.html' title='Bayazid dan Orang Bodoh'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-3805494402268549509</id><published>2009-06-01T21:08:00.000+07:00</published><updated>2009-06-01T21:09:41.788+07:00</updated><title type='text'>KETIKA AIR BERUBAH</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketika Air Berubah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu, Kidir, Guru Musa, memberi peringatan kepada manusia. Pada hari tertentu, katanya, semua air didunia yang tidak disimpan secara khusus akan lenyap. Sebagai gantinya akan ada air baru, yang mengubah manusia menjadi gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya seorang yang menangkap makna peringatan itu. Ia mengumpulkan air dan menyimpannya di tempat yang aman. Ditunggunya saat yang di sebut-sebut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang dipastikan itu, sungai-sungai berhenti mengalir, sumur-sumur mengering. Melihat kejadian itu, orang yang menangkap makna peringatan itupun pergi ketempat penyimpanan dan meminum airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dari tempat persembunyiannya itu ia menyaksikan air terjun kembali memuntahkan air, orang itu pun menggabungkan dirinya kembali dengan orang-orang lain. Ternyata mereka itu kini berpikir dan berbicara dengan cara sama sekali lain dari sebelumnya; mereka tidak ingat lagi apa yang pernah terjadi, juga tidak ingat sama sekali bahwa pernah mendapat peringatan. Ketika orang itu mencoba berbicara dengan mereka, ia menyadari bahwa ternyata mereka telah menganggapnya gila. Terhadapnya, mereka menunjukkan rasa benci atau kasihan, bukan pengertian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Orang yang dianggap menciptakan kisah ini, Dhun-Nun, seorang Mesir (meninggal tahun 860), selalu dihubung-hubungkan dengan suatu bentuk Perserikatan Rahasia. Ia adalah tokoh paling awal dalam sejarah Kaum Darwis Malamati, yang oleh para ahli Barat sering dianggap memiliki persamaan yang erat dengan keahlian anggota Persekutuan Rahasia. Konon, Dhun-Nun berhasil menemukan arti hieroglip Firaun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-3805494402268549509?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/3805494402268549509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=3805494402268549509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/3805494402268549509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/3805494402268549509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/06/ketika-air-berubah.html' title='KETIKA AIR BERUBAH'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-5285326676102032849</id><published>2009-06-01T21:07:00.001+07:00</published><updated>2009-06-01T21:07:57.082+07:00</updated><title type='text'>KISAH API</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kisah Api&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan- percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak tentang penemuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin bahwa ia setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alat untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu. Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang kelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisa menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan mempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui negeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itu tercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukan bangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya, "Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru menjawab, "Baiklah. Kita akan memulai lagi perjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yang masih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya dan bagaimana mendekatinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan itu diterima dengan suka hati. Para pendeta mengundang mereka menghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketika upacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yang mereka saksikan, guru itu berkata, "Apa ada yang ingin mengatakan sesuatu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengikut pertama berkata, "Demi Kebenaran, saya merasa harus menyampaikan sesuatu kepada rakyat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri, silahkan saja," kata gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapan pemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, "Aku bisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagai perwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu, maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahun-tahun lamanya kalian telah tersesat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi para pendeta itu berteriak, "Tangkap dia!" dan orang itu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai di negeri bangsa yang kedua dan memuja alat-alat pembuatan api. Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencoba menyehatkan akal bangsa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan izin gurunya ia berkata, "Saya mohon izin untuk berbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal. Kalian memuja alat-alat untuk membuat sesuatu, dan bukan hasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menunda kegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacara ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa itu terdiri dari orang-orang yang lebih berakal. Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, "Saudara diterima baik sebagai musafir dan orang asing di antara kami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarah dan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan. Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusaha membuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidak mau mendengarkan Saudara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, mereka menyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur, orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkata kepada pemimpin besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan, yang bisa dipergunakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin begitu," jawab para pemuja Nur, "tetapi yang bisa menembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagi mereka yang menolak menghadapi kenyataan," kata pengikut ketiga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu bid'ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkan tak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukan pendeta yang ditahbiskan menurut adat kami," kata pendeta-pendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisa melanjutkan usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeri bangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depan kerumunan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimana melaksanakannya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadi beberapa kelompok. Beberapa orang berkata, "Itu mungkin benar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahui bagaimana cara membuat api." Ketika orang-orang ini diuji oleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besar ingin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dan tidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuan kemanusiaan. Begitu dalamnya dongeng-dongeng keliru itu merasuk ke dalam pikiran orang-orang itu sehingga mereka yang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakan orang-orang yang goyah, yang tidak akan juga membuat api bahkan setelah diberi tahu caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kelompok lain yang berkata, "jelas dongeng itu tidak benar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar ia mendapat kedudukan di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelompok lain lagi berkata, "Kita lebih suka dongeng itu tetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsa kita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudian ternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinya dengan bangsa kita ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsa yang kelima; di sana pembuatan api dilakukan sehari-hari, dan orang-orang juga sibuk melakukan hal-hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Guru berkata kepada pengikut-pengikutnya, "Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidak ingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar mereka bahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Mereka membayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka ingin mempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari, bukan apa yang pertama-tama harus mereka pelajari. Kalau kalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisa mengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewa untuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dan kemampuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Untuk menjawab pertanyaan "Apakah orang barbar itu?" Ahmad al-Badawi (meninggal tahun 1276) berkata, "Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitu tumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkan atau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewat pengembangan dan penerapan terus-menerus terhadap usaha mencapai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena mereka sangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan diri mereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika mereka berbicara dan bertindak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen dan orang Islam, tetapi ditolak oleh orang-orang Kristen karena menolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pendiri kaum Badawi Mesir.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-5285326676102032849?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/5285326676102032849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=5285326676102032849' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5285326676102032849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/5285326676102032849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/06/kisah-api.html' title='KISAH API'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-7729208500043569775</id><published>2009-06-01T21:03:00.000+07:00</published><updated>2009-06-01T21:05:24.545+07:00</updated><title type='text'>MIMPI DAN IRISAN ROTI</title><content type='html'>&lt;h2 align="center"&gt;    MIMPI DAN IRISAN ROTI  &lt;/h2&gt;  &lt;p&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan  melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan  dan tenaga bersama.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal  sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa  yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai  persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan  dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka  bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan  menentukan apa yang harus dilakukan.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. "Inilah  mimpiku," kata yang pertama. "Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa  digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana  yang mengatakan kepadaku, 'Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan  masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian."  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  "Aneh sekali," kata musafir kedua. "Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas  melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat  seorang lelaki maha tahu, berkata, 'Kau berhak akan makanan itu lebih dari  kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus  cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia."  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata  apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti  dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam."  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;b&gt;Catatan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Syah&lt;/b&gt; Mohammad Gwath  Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata,  yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi  sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model kuno. Ia merupakan  Guru yang telah melahirkan lebih dari empat belas Kaum dan sangat dihargai  oleh Maharaja India, Humayun.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  Meskipun ia dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya  dianggap oleh golongan pendeta sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya  mereka menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad,  karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan pikiran yang istimewa tidak bisa  dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, yang merupakan  tempat ziarah &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Sufi&lt;/b&gt; yang sangat penting.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen yang tersebar  di kalangan pendeta pada abad pertengahan.  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-7729208500043569775?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/7729208500043569775/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=7729208500043569775' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/7729208500043569775'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/7729208500043569775'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2009/06/mimpi-dan-irisan-roti.html' title='MIMPI DAN IRISAN ROTI'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-3396263033771100547</id><published>2008-12-01T18:58:00.000+07:00</published><updated>2008-12-01T18:59:16.579+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; width: 680px; height: 24px;" class="contentpaneopen"&gt; &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="contentheading" width="100%"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Meninjau Kembali Gerakan Religio-Politik Islam [2]    &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;       &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;     &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;        &lt;td class="buttonheading" width="100%" align="right"&gt;     &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;              &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt; &lt;table style="text-align: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px;" class="contentpaneopen"&gt;   &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;  &lt;td class="createdate" valign="top"&gt;   &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt; &lt;td valign="top"&gt; &lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:'Georgia','serif';" &gt;3&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:'Georgia','serif';" &gt;0 pakar Islam dari berbagai Negara menyoroti fenomena geliat politik umat Islam di Asia pasca 11 september 2001. Dimasa depan politik Islam akan berada di tangan kelompok non-liberal. Bukan kelompok radikal liberal&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;   &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=";font-family:'Georgia','serif';" &gt;Oleh: &lt;strong&gt;Hamid Fahmy Zarkasyi *&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face  {font-family:Georgia;  panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0cm;  margin-right:0cm;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 80, 77);font-family:'Georgia','serif';font-size:130%;"  &gt;Dalam tulisan kemarin penulis memprediksi, dimasa depan politik Islam akan berada di tangan kelompok non-liberal dan bukan kelompok radikal atau liberal&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Angel Rabasa dari Rand Corporation Amerika Serikat,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;memuji sistimatika paparan penulis hanya saja ia tidak setuju dengan kesimpulannya dan mempertanyakan klassifikasi liberal dan non-liberal. Penulis jelaskan bahwa&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Liberal mendahulukan konteks, sedangkan non-liberal bervariasi ada yang mendahulukan teks, ada yang mendahulukan teks tapi menggunakan akal, ada yang seimbang antara teks dan konteks. Namun dari kelompok non-liberal terdapat kelompok yang tekstual yang diantaranya cenderung bersikap ekstrim dan radikal. Maka dari itu terdapat dua kutub ekstrim disini, pertama kelompok yang terlampau tekstual dan kelompok yang terlalu kontekstual yaitu liberal. Namun non-liberal masih dalam domain &lt;em&gt;worldview&lt;/em&gt; Islam, sedangkan liberal telah dihegemoni oleh &lt;em&gt;worldview&lt;/em&gt; Barat &lt;em&gt;postmodern&lt;/em&gt;. Kondisinya kini kelompok liberal berhadapan dengan kelompok non-liberal yang tekstual maupun yang tekstual-rasional-kontektual. Konflik menjadi memanas ketika diketahui bahwa kelompok liberal mendapat dukungan dana besar dari Negara Amerika Serikat dan Negara Barat lainnya. Jika dukungan ini terus berlangsung dimasa depan, maka akan terjadi konflik yang berbahaya dan akan memunculkan kebencian umat Islam Indonesia terhadap Amerika Serikat.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Professor Hisae Nakanisihi dari Universitas Osaka mengejar dengan pertanyaan sejauh mana perbedaan liberal dan non-liberal sehingga saling berhadapan begitu serius. Penulis jawab dengan hanya satu contoh yang kini gencar di promosikan pejuang gender bahwa menurut penafsiran kelompok liberal homoseksualisme dan lesbianisme dibolehkan dalam Islam. Pandangan ekstrim yang tentu bertentangan dengan pendapat mayoritas umat Islam dan bahkan umat manusia. Jawaban ini ternyata cukup mengejutkan para peserta, khususnya dari utusan Negara-negara Islam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Dari jawaban penulis ini akhirnya Sohail, Tamimi, Badoui dan Wan Mohd Nur menganggap masalah campur tangan AS kenegara-negara Islam sebagai sesuatu yang negatif. Persoalannya campur tangan AS bukan hanya masalah politik tapi sudah masuk dalam masalah pemikiran, khususnya dalam memahami konsep-konsep penting dalam bidang sosial, politik dan bahkan keagamaan. Kerancuan konsep akan mengakibatkan kesalah fahaman terhadap Islam. Hanya karena mendukung prinsip demokrasi, kata Wan Daud, Muslim didorong untuk mengakui kebenaran agama lain. Ini adalah suatu kesalah fahaman akibat kesalahan konsep yang tidak semestinya terjadi. Sedangkan bagi Tamimi karena kesalahan memahami standar moderasi telah mengakibatkan kesan pada orang Barat bahwa semua Muslim adalah radikal, fundamentalis dan teroris. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Pertanyaan penting yang jawabannya ditunggu pihak JIIA adalah di tangan kelompok manakah masa depan politik Islam?&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Jawabannya hampir serempak ditangan kelompok moderat, yaitu kelompok Muslim mayoritas di negara-negara Islam. Tidak ditangan liberal ataupun ditangan radikal. Pertanyaan selanjutnya adalah mengenai konsep moderasi. Siapakah kelompok moderat itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Moderasi Muslim&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Makna istilah moderat sebenarnya menjadi rebutan. Terdapat sedikit perbedaan dikalangan cendekiawan Muslim tentang istilah ini, namun terdapat perbedaan tajam antara cendekiawan Muslim kebanyakan dan peneliti Barat.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Diaa Rashwan, Direktur &lt;em&gt;Program for the Study of “islamis” Movement&lt;/em&gt; &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;al-Ahram Center for Politic and Strategic Studies&lt;/em&gt;, Kairo, membuat klassfikasi berdasarkan gerakan. Klasifikasinya juga sangat simple: “moderat vs ekstrim”, “radikal vs damai”.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Baginya gerakan-gerakan kelompok Islam yang oleh Barat disebut “islamis” itu sebenarnya adalah gerakan sosial politik Muslim yang menganggap kerja mereka berada dalam masyarakat Muslim yang memerlukan kebijakan politik berdasarkan &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt; syariah. Sedangkan gerakan keagamaan Muslim yang disebut “jihadi”, “salafi”, “takfiri” atau lainnya itu lebih fokus pada masalah keimanan dan kepercayaan, dan menganggap masyarakat dimana mereka hidup sebagai tidak Islami. Akhirnya kelompok ini berjuang untuk meng-Islamkan masyarakat baik melalui pengajaran ataupun usaha-usaha dakwah atau berperang. Bagi kelompok ini politik tidak penting, karena ia adalah sarana bukan tujuan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Dengan klasifikasi ini Rashwan meletakkan gerakan &lt;em&gt;Ikhwan Muslimum&lt;/em&gt; kedalam kategori gerakan sosial politik dengan platform Islam dan bukan gerakan keagamaan yang menekankan pada masalah keimanan. Maka dari itu gerakan ini tidak mempersoalkan keislaman individual atau masyarakat, tapi berjuang untuk menggerakkan masyarakat Muslim dan Negara Muslim sesuai dengan &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt; hukum Islam. Namun, Rashwan segera menggaris bawahi bahwa gerakan keagamaan seperti jihadi, salafi dan takfiri itu pada mulanya tidak radikal dalam pengertian Barat. Radikalisme hanyalah kelompok kecil dalam gerakan keagamaan seperti salafi atau lainnya dan bukan dalam semua gerakan keagamaan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Sedangkan moderat dalam gerakan Islam tidak selalu berarti menerima ide-ide dari Barat, tapi lebih menempuh jalan hikmah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Berbeda dari Dia Rashwan, Angel Rabasa membuat definisinya sendiri tentang makna moderat yang khas Barat. Sebelumnya ia membedakan antara “islamis” dan “moderat”. “Islamis” adalah gerakan politik Islam berdasarkan interpretasi salafi. Gerakan untuk memobilisasi kekuatan politik dan ideologi politik. Sedangkan moderat adalah gerakan yang tidak berusaha untuk merekonstruksi masyarakat agar sejalan dengan idealisme masa lalu yang diidamkan, tidak menyesatkan atau menindas suatu sistim kepercayaan yang berbeda atau merasionalisasikan penggunaan kekerasan terhadap mereka yang dianggap kafir. Yang lebih penting lagi menurut Rabasa moderat adalah mereka yang mendukung demokrasi, persamaan gender, HAM, kebebasan beragama, menghormati perbedaan, menerima sumber hukum yang tidak berasal dari agama atau mazhab tertentu, dan yang paling penting adalah menentang terrorisme dan kekerasan yang tidak mendasar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Definisi Rabasa segera mendapat sanggahan dan karena itu Prof. Keiko Sakai dari &lt;em&gt;Department of Foreign Studies&lt;/em&gt;, Tokyo University mempertanyakan siapa sebenarnya yang berhak menentukan definisi. Nampaknya ia melihat ada perebutan definisi moderat antara Islam dan Barat definisi moderat. Penulis segera merespon pertanyaan Sakai, bahwa moderat atau tidaknya suatu sikap dalam kaitannya dengan Islam harus dilihat dari bagaimana ia memperlakukan teks dan bersikap pada konteks. Moderasi adalah keseimbangan antara teks dan konteks. Masalahnya dalam standar politik definisi moderat terlalu berpihak pada konteks politik dan melupakan teks. Juga dalam bidang sosial keagamaan, seperti kasus Aminah Wadud sholat Jum’at di gereja bukan pengamalan dan pemahaman berdasarkan teks, tapi praktek keagamaan yang terlampau kontekstual hanya untuk merespon faham gender dan feminisme Barat sehingga melupakan teks. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Rashwan setuju dengan tolok ukur penulis dan ia menambahkan bahwa radikalisme baiknya dikaitkan dengan politik saja, ekstrimisme dikaitkan dengan keagamaan dan politik, sedang konservativisme adalah bersifat sosial dan lebih baik dikaitkan dengan masalah internal umat. Penulis juga mengkritik standar moderasi yang ditentukan oleh Rabasa, karena hanya merujuk kepada konteks gerakan politik masa kini dengan konsep-konsep yang didominasi Barat. Jika merujuk kepada konsep-konsep Islam pengertian moderat itu tentu akan berbeda. Sebab Islam memiliki definisinya sendiri mengenai HAM, kebebasan beragama, hak-hak wanita dan lain sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Bagi Sohail, sifat moderat tidak perlu didefinisikan, karena ia adalah watak Islam itu sendiri yang dimasa lalu menyebar ke Asia Selatan dan Tenggara. Jika Islam yang tersebar waktu tidak moderat tentu tidak akan sampai ke kawasan itu.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Namun, Wan Mohd Nor menyela, definisi istilah penting harus merujuk kepada otoritas dimana masyarakat itu berada. Dan tidak wajar jika didefinisikan oleh &lt;em&gt;outsider&lt;/em&gt;, al-Biruni contohnya, ketika dia menulis tentang agama Hindu, ia berkonsultasi kepada pemuka-pemuka Hindu tentang ajaran agama itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Secara kebetulan pendapat Prof. Wan sejalan dengan atau dikuatkan oleh pendapat Prof. Badoui Abdelmajid, guru besar Peradaban Arab-Islam pada &lt;em&gt;Higher Training School&lt;/em&gt; di Tunis. Dalam makalahnya yang secara khusus mengkaji Islam dan moderasi itu ia menegaskan bahwa moderasi adalah esensi Islam itu sendiri. Moderasi dapat disifati dengan stablitas dan perubahan. Stabil dikaitkan dengan masalah keimanan sedangkan perubahan berkaitan dengan interaksi sosial yang memang terus berubah. Ajaran untuk bersikap moderat dalam Islam terdapat dalam hal keyakinan, ibadah, hubungan social dan dalam kehidupan nyata. Inilah yang menjadi tolok ukur moderasi dalam kaitannya dengan gerakan sosial dan politik Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Radikalisme &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Istilah dan gerakan yang memiliki daya tarik tinggi adalah radikalisme dan ekstrimisme. Sebenarnya radikalisme adalah fenomena global dan tidak hanya berkaitan dengan Islam. Dalam agama Kristen terdapat gerakan radikal, dalam agama Hindu perusak masjid Babri di India adalah Hindu radikal dan dalam agama Yahudi,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;pembunuh Isaac Rabin adalah Yahudi radikal. Begitulah Seyed Rasoul Musavi memulai presentasinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Ia kemudian membagi pemahaman terhadap radikalisme kedalam tiga pendekatan: tekstual dan situasional. Pendekatan tekstual, menurutnya, adalah pemahaman terhadap teks Al-Quran secara tekstual sehingga mengakibatkan sikap radikal, dan ini merujuk kepada kelompok Salafi. Situasional maksudnya radikal yang disebabkan oleh situasi umat Islam karena pengaruh kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah kondisi politik Islam yang oppresif sedangkan eksternal adalah campur tangan Barat kedalam ranah politik Islam. Karena pengaruh ekternal inilah gerakan radikal yang bersumber pada nasionalisme, liberalisme maupun sosialisme yang kesemuanya sekuler wujud didunia Islam. Radikal dalam membela atau menolak Barat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Kita dapat saja mengalahkan berbagai jenis gerakan radikal di atas, kata Mousavi tapi kemudian akan timbul gerakan lain yang serupa atau yang lebih berbahaya. Solusi yang ditawarkan Musavi cukup menarik, yaitu Barat, khususnya Amerika Serikat (AS), perlu merubah kebijakan, pola fikir dan perilaku mereka. Jadi, pendudukan, invasi, sanksi-sanksi dan intervensi harus diakhiri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Sejalan dengan pandangan Mousavi, Prof. Wan Mohd Nor melacak sumber radikalisme dari faktor internal dan ekternal. Yang internal disebabkan oleh de-tradisionalisasi dan de-sufisasi dalam diskursus keislaman dan etika, serta hilangnya otoritas keagamaan dan politik, sedangkan yang eksternal dipicu oleh problem-problem umat Islam seperti masalah Palestina, Thailand Selatan, Filipina Selatan, Asia Tengah, Kashmir. Selain itu sikap &lt;em&gt;double-standard&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Islamphobia&lt;/em&gt; Barat terhadap Islam juga memicu sikap radikal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Solusi yang ditawarkan Prof.Wan lebih mendasar dari Mousavi yaitu perlunya reformasi internal pendidikan umat Islam. Ini dilakukan dengan re-tradisionalisasi pendidikan Islam dan menekankan pada penguasaan dan pengamalan nilai-nilai moralitas. Jadi bukan westernisasi atau liberalisasi pendidikan Islam, karena liberalisasi justru &lt;em&gt;counter-productive&lt;/em&gt;. Selain itu perdamaian abadi di Timur Tengah perlu diciptakan, problem Muslim minoritas juga harus diselesaikan, Barat hendaknya mendukung pemerintah yang bersih, adil dan tidak korup, jika tidak maka masyarakat akan membenci Barat.&lt;span&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Nampaknya, keberatan Muslim secara keseluruhan untuk dikaitkan dengan radikalisme dan ekstrimisme dapat diterima peserta. Keiko Sakai setuju agar kita tidak selalu mengkaitkan ekstrimisme dengan Islam, kita perlu memahami kasus per kasus serta faktor-faktor yang memotivasi timbulnya tindak radikal dan ekstrim. Namun, Rabasa tanpa sungkan-sungkan menuding bahwa gerakan radikal dalam Islam disebabkan oleh adanya gerakan politik keagamaan dari Mesir, yaitu gerakan Jihadi. Tudingan ini dibantah Rashwan, sebab, alasannya, gerakan Jihad di Mesir itu asalnya tidak ada konotasi radikalisme atau ekstrimisme yang menjurus kepada kekerasan fisik. Namun, setelah adanya perang Afghanistan, gerakan Jihad berkembang menjadi gerakan radikal dan ekstrim, dan apa yang terjadi di Afghanistan adalah karena hasil strategi AS. Rabasa menolak tapi Rashwan tetap bertahan dan mengklaim bahwa dia tahu banyak tentang gerakan Islam di Mesir sebelum tahun 90an. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Diskusi dalam siymposium diatas sangat penting bagi mendudukkan berbagai posisi gerakan keagamaan dan politik Islam. Peninjauan kembali stigma yang dilabelkan kepada gerakan politik Islam diharapkan dapat mengoreksi pandangan negatif Barat terhadap Islam. Artinya sebelum menjelaskan tentang keadaan sosial dan politik umat Islam serta masa depannya para pengamat perlu memahami kedudukan masing-masing kelompok dalam peta hubungan Islam dan Barat. Symposium ini cukup berhasil melakukan hal itu. Simposium dianggap sukses oleh JIIA, karena semua partisipan aktif bertukar fikiran dalam suasana dialogis yang hidup. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Nampaknya, JIIA telah memperoleh gambaran bahwa mayoritas di berbagai negara Muslim adalah moderat. Yang tidak kalah penting adalah bahwa simposium telah memberi banyak masukan kepada &lt;em&gt;RAND corporation&lt;/em&gt; dari AS. &lt;em&gt;RAND&lt;/em&gt; adalah salah satu &lt;em&gt;think tank&lt;/em&gt; pemerintah AS untuk mengatur strategi penyebaran liberalisme kenegara-negara Islam pasca tragedi 11 september.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Diantara masukan terpentingnya adalah bahwa AS ternyata tidak hanya menumpas teroris, tapi juga menumpas pemikiran umat Islam. Sebab&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;ekstrimis dan radikal hanyalah segelintir orang yang perlu diwaspadai bersama. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Sebenarnya, liberalisai yang ditebarkan AS tidak mampu meredam ekstrimis dan teroris, tapi malah menggilas keyakinan dan pemikiran umat Islam. Bagi Muslim bahaya teroris tidak sebesar bahaya intervensi AS dalam membantu kelompok ekstrim liberal. Sebab dengan program liberalisasi pemikiran keagamaan kebencian umat Islam terhadap AS menjadi semakin bertambah dan dapat mengakibatkan konflik yang lebih serius dimasa depan. &lt;strong&gt;[habis]&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:'Georgia','serif';"&gt;Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt;  &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-3396263033771100547?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/3396263033771100547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=3396263033771100547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/3396263033771100547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/3396263033771100547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2008/12/meninjau-kembali-gerakan-religio.html' title=''/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-4801804171831810810</id><published>2008-08-03T17:02:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T09:03:29.635+07:00</updated><title type='text'>"Gebrakan Ilmiah NU Pasuruan Bongkar Kebohongan Aktivis Gender"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SJWC5LfnqcI/AAAAAAAAAJw/JEXD7QkuEHQ/s1600-h/1_765140232m.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SJWC5LfnqcI/AAAAAAAAAJw/JEXD7QkuEHQ/s200/1_765140232m.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230230461110266306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:180%;" &gt; "Gebrakan Ilmiah NU Pasuruan Bongkar Kebohongan Aktivis Gender"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Belum lama ini, (September 2004), Rabithatul Ma'ahid Islamiyah&lt;br /&gt;(RMI), Cabang Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menerbitkan sebuah buku&lt;br /&gt;berjudul "Menguak Kebatilan dan Kebohongan Sekte FK3". RMI adalah&lt;br /&gt;organisasi ikatan Pondok Pesantren di bawah Naungan Organisasi Nahdhatul&lt;br /&gt;Ulama (NU). Buku ini merupakan hasil kajian ilmiah Forum Kajian Islam&lt;br /&gt;Tradisional Pasuruan (FKIT), yang beranggotakan kyai-kyai muda dari&lt;br /&gt;berbagai pesantren, seperti Abdulhalim Mutamakkin, Muhibbul Aman Ali, HA&lt;br /&gt;Baihaqi Juri, M. Idrus Ramli, dan sebagainya.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Para kyai itu merasa resah dengan terbitnya sebuah buku berjudul&lt;br /&gt;"Wajah Baru Relasi Suami-Istri, Telaah Kitab 'Uqud al-Lujayn', karya Imam&lt;br /&gt;Nawawi al-Bantani, seorang ulama terkenal yang dijuluki 'Sayyid Ulama&lt;br /&gt;Hijaz'. Maka mereka melakukan diskusi ilmiah intensif lebih dari 20 kali,&lt;br /&gt;dan hasilnya keluarlah sebuah buku ilmiah yang menarik ini. Tentu saja,&lt;br /&gt;aktivitas ilmiah ini sangat membanggakan, mengingat begitu besarnya&lt;br /&gt;perhatian para elite NU terhadap masalah-masalah politik, seputar&lt;br /&gt;pemilihan Presiden tahun 2004. Sebagai 'ulama' pewaris para Nabi, para&lt;br /&gt;kyai itu tampaknya tidak melupakan tugasnya untuk menjaga aqidah umat, di&lt;br /&gt;tengah situasi dan kondisi yang tidak terlalu mendukung perjuangan ilmiah&lt;br /&gt;mereka. Menyimak isi buku ini, bisa dikatakan, para kyai muda itu memiliki&lt;br /&gt;daya intelektual dan penguasaan literatur-literatur Islam yang cukup&lt;br /&gt;mendalam. Ratusan kitab-kitab klasik dikaji dan disajikan dengan baik&lt;br /&gt;dalam buku ini.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   KH Abdulhalim Mutamakkin, Ketua RMI Kabupaten Pasuruan, dalam&lt;br /&gt;pengantarnya menyatakan, bahwa mengkritisi sebuah karya memang perbuatan&lt;br /&gt;yang terpuji dalam rangka mencari suatu kebenaran. Akan tetapi apabila&lt;br /&gt;dilakukan dengan cara dan tujuan yang tidak benar atau oleh orang yang&lt;br /&gt;tidak memiliki cukup ilmu untuk memahami karya yang bersangkutan, maka&lt;br /&gt;harus diluruskan. KH Ahmad Subadar, Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pasuruan,&lt;br /&gt;menulis dalam pengantarnya, "Saya telah melihat dan membaca risalah ini,&lt;br /&gt;dan saya mengambil kesimpulan, bahwa risalah ini adalah benar-benar&lt;br /&gt;menegakkan ajaran Rasululah saw, dan meluruskan paham orang yang salah,&lt;br /&gt;melenceng dari tuntunan ulama'una al-salaf.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Telaah kritis para ulama Jawa Timur ini sungguh menyejukkan. Di&lt;br /&gt;tengah kegersangan situasi intelektual, mereka mau dan berani berbicara&lt;br /&gt;yang benar, mereka berani melawan arus besar, Gerakan yang mengatasnamakan&lt;br /&gt;kesetaraan gender, yang justru disebarkan oleh para elite NU sendiri. Apa&lt;br /&gt;yang mereka sebut sebagai "Sekte FK3" (Forum Kajian Kitab Kuning), yang&lt;br /&gt;melakukan tindakan kebatilan dan kebohongan, adalah orang-orang yang cukup&lt;br /&gt;terkenal di kalangan NU sendiri. Di situ ada nama Sinta Nuriyah&lt;br /&gt;Abdurrahman Wahid, Masdar F. Masudi, Husen Muhammad, Lies Marcus, dan&lt;br /&gt;sebagainya. Namun, para kyai dari kota kecil di Jawa Timur itu tidak&lt;br /&gt;gentar dan mampu membuktikan, bahwa buku yang diterbitkan oleh FK3, yang&lt;br /&gt;mengkritik kitab 'Uqud al-Lujayn, adalah buku yang bertaburan dengan&lt;br /&gt;kebatilan dan kebohongan. Bagi kaum Muslimin yang tidak mempunyai&lt;br /&gt;kemampuan dan keakraban dalam membaca karya-karya klasik ulama Islam,&lt;br /&gt;memang bisa terpengaruh. Apalagi yang memang menginginkan masuknya paham&lt;br /&gt;kesetaraan gender ala Barat dalam masyarakat Islam.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Orang-orang yang membawa ideologi kesetaraan gender ke dalam&lt;br /&gt;pondok-pondok pesantren adalah juga orang-orang yang mempelajari&lt;br /&gt;kitab-kitab klasik dan mencantumkan rujukan mereka pada karya-karya klasik&lt;br /&gt;ulama Islam. Namun, melalui buku terbitan RMI Pasuruan ini, kebohongan dan&lt;br /&gt;kebatilan kelompok FK3 itu dibongkar satu persatu.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Misalnya, penilaian FK3 terhadap hadits "Barangsiapa yang&lt;br /&gt;meniru-niru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka." Terhadap hadits&lt;br /&gt;ini, FK3 menulis: "jalur hadits ini dhaif sebagaimana ditetapkan oleh&lt;br /&gt;al-Sakhawi dalam Kitab "al-Maqashid al-Hasanah". Pendapat itu dijernihkan&lt;br /&gt;oleh FKIT, dengan menyebutkan, bahwa al-Albani dalam "Irwa' al-Ghalil fi&lt;br /&gt;Takhrij Ahadits Manar al-Sabil" (hadits no 1269), menyatakan hadits itu&lt;br /&gt;sahih. Kata-kata Sakhawi juga dipotong. Aslinya merupakan ungkapan dari&lt;br /&gt;al-Munawi dalam Faidh al-Qadir, yang berbunyi: "Al-Sakhawi berkata, sanad&lt;br /&gt;hadits Ibnu Umar dhaif akan tetapi memiliki beberapa syahid. Ibnu Taimiyah&lt;br /&gt;berkata, sanadnya jayyid, dan Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari,&lt;br /&gt;sanadnya hasan." FK3 memilih komentar al-Sakhawi karena menilai sanadnya&lt;br /&gt;dhaif, dan tidak ingin menggunakan hadits itu.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Contoh lain, adalah sebuah hadith tentang larangan berkhalwat&lt;br /&gt;(berudua-duaan) antara laki-laki dan wanita, yang dikatakan FK3 sebagai&lt;br /&gt;hadits dhaif. Padahal, ada hadits lain dengan makna yang sama yang sahih.&lt;br /&gt;Tetapi hal ini tidak disebutkan oleh FK3. Contoh lain adalah soal&lt;br /&gt;kepemimpinan laki-laki terhadap wanita, sesuai ayat 34 surat an-Nisa':&lt;br /&gt;"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah&lt;br /&gt;melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita),&lt;br /&gt;karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka."=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   FK3 menulis komentar tentang ayat ini bahwa : "Mayoritas ulama fiqih&lt;br /&gt;dan tafsir berpendapat bahwa qiwamah (kepemimpinan) hanyalah terbatas pada&lt;br /&gt;laki-laki dan bukan pada perempuan, karena laki-laki memiliki keunggulan&lt;br /&gt;dalam mengatur, berfikir, kekuatan fisik dan mental. Kata-kata FK3 itu&lt;br /&gt;dikritik FKIT, dengan disebutkan, bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan&lt;br /&gt;diantara ulama fiqih dan tafsir tentang kepemimpinan laki-laki dalam rumah&lt;br /&gt;tangga termasuk dalam kepemimpinan negara (imamah). Masalah kepemimpinan&lt;br /&gt;laki-laki ini dibahas dengan panjang lebar dan tampak bahwa argumentasi&lt;br /&gt;FK3 atau aktivis kesetaraan gender, memang tidak kuat dan hanya&lt;br /&gt;dicocok-cocokkan dengan kemauan dan tujuan ideologi kesetaraan gender,&lt;br /&gt;yang belum tentu cocok dengan Islam.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Soal kepemimpinan laki-laki ini dihujat oleh FK3, dengan menyatakan,&lt;br /&gt;bahwa "di masa sekarang dalam bidang ekonomi atau sosial, banyak perempuan&lt;br /&gt;yang lebih unggul daripada laki-laki."=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Argumentasi FK3 ini sangatlah lemah, sebab sejak dulu, ada saja&lt;br /&gt;wanita yang lebih unggul dari laki-laki. Khadijah r.a. adalah seorang&lt;br /&gt;wanita bangsawan dan kaya raya dan banyak mempekerjakan laki-laki,&lt;br /&gt;termasuk Rasulullah saw, di masa mudanya. Siti Aisyah r.a., juga seorang&lt;br /&gt;wanita yang unggul dalam kepemimpinan dan intelektual, melebihi banyak&lt;br /&gt;kaum laki-laki di zaman itu. Belum lama ini terbit sebuah kitab fiqih&lt;br /&gt;hasil ijtihad ulama perempuan terkemuka, yaitu Aisyah r.a. berjudul&lt;br /&gt;"Mausu'ah Fiqh 'Aisyah Ummu al-Mu'minin Hayatuha wa Fiqhuha", setebal 733&lt;br /&gt;halaman. Hasil ijtihad beliau sebagai seorang perempuan, tidak berbeda&lt;br /&gt;dengan hasil ijtihad para mujtahid laki-laki. Namum, seringkali tuduhan&lt;br /&gt;kepada para mujtahid dan fuqaha ditimpakan, bahwa fiqih didominasi oleh&lt;br /&gt;laki-laki, dan ajaran agama ditafsirkan berdasarkan kepentingan&lt;br /&gt;laki-laki."=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Demikianlah kajian FKIT Pasuruan yang perlu ditelaah dna&lt;br /&gt;didiskusikan lebih jauh, khususnya bagi kalangan NU, dan kaum Muslim pada&lt;br /&gt;umumnya. Sebab, saat ini begitu gencar serangan terhadap ajaran-ajaran&lt;br /&gt;Islam yang dinilai para aktivis gender ala sekular-Barat tidak cocok&lt;br /&gt;dengan zaman. Tuduhan-tuduhan bahwa ajaran Islam banyak didominasi oleh&lt;br /&gt;kaum laki-laki, seperti datang bertubi-tubi, sehingga bantak yang kemudian&lt;br /&gt;meragukan ketulusan dan kecanggihan ijtihad para ulama terdahulu. Padahal,&lt;br /&gt;sepanjang sejarah Islam, begitu juga banyak diantara ulama-ulama Islam&lt;br /&gt;adalah wanita. Tetapi, mereka tidak pernah menggugat masalah kepemimpinan&lt;br /&gt;laki-laki dalam rumah tangga, atau berbagai masalah yang dipersoalkan oleh&lt;br /&gt;aktivis kesetaraan gender, seperti sekarang ini. Kepemimpinan bukan hanya&lt;br /&gt;soal "hak", tetapi juga tanggung jawab. Artinya, bagi laki-laki, tanggung&lt;br /&gt;jawab itu belaku di dunia dan akhirat. Dalam soal kepemimpinan negara pun,&lt;br /&gt;banyak rakyat yang lebih pintar dan mahir dalam kepemimpinan dari kepala&lt;br /&gt;negaranya. Oleh karena itu, seyogyanya, wanita memilih calon suaminya yang&lt;br /&gt;"sekufu" atau laki-laki yang memang mampu menjadi pemimpin. Bisa saja&lt;br /&gt;istri lebih pintar dari suaminya, tetapi hak kepemimpinan memang ada pada&lt;br /&gt;suaminya, termasuk hak talak. Pemimpin yang baik, pasti akan memanfaatkan&lt;br /&gt;kepintaran istrinya. Ini bukan masalah baru, sudah banyak rumah tangga&lt;br /&gt;yang sukses, meskipun istri lebih pandai dari suaminya, dan tetap ia&lt;br /&gt;menghormati kepemimpinan suaminya. Ini bukan soal tinggi atau rendah&lt;br /&gt;martabat sebagai manusia, tetapi adalah soal tanggung jawab dan pembagian&lt;br /&gt;tugas.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Masalah kesetaraan gender memang saat ini begitu menggejala dan&lt;br /&gt;menjadi proyek yang banyak menyediakan dana. Beberapa waktu lalu, Tim&lt;br /&gt;Pengarusutamaan Gender Departemen Agama telah memproduksi legal draft&lt;br /&gt;Kompilasi Hukum Islam yang sangat kontroversial dan 'ajaib', yang tidak&lt;br /&gt;berpijak pada metodologi Islam, tetapi pada prinsip-prinsip kesetaraan&lt;br /&gt;gender, pluralisme, nasionalisme, dan sebagainya. Tanggal 25 Oktober 2004&lt;br /&gt;lalu, Harian Kompas menurunkan tulisan seorang wanita aktivis Jaringan&lt;br /&gt;Intelektual Muda Muhammadiyah, berjudul "Khatib Perempuan". Tulisan itu&lt;br /&gt;menggugat, mengapa tidak ada khatib jumat atau salat tarawih yang&lt;br /&gt;perempuan. "Tak adakah kesempatan bagi dai perempuan untuk berkhotbah?"&lt;br /&gt;Dari sekian ribu masjid di Tanah Air, tulisnya, tak satu pun perempuan&lt;br /&gt;menjadi khatib. Satu-satunya perempuan yang ia dengar berani berkhotbah&lt;br /&gt;Jumat di hadapan pria adalah Prof Amina Wadud, sarjana Muslim terkemuka.&lt;br /&gt;Ia naik mimbar Masjid Claremont Main Road di Cape Town di Afrika Selatan.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Menurut dia, secara umum, khatib adalah orang yang menyampaikan&lt;br /&gt;ajaran agama atau khotbah sebelum shalat Jumat atau kegiatan keagamaan&lt;br /&gt;lain. Untuk itu, seorang khatib harus memiliki kecakapan dan pengetahuan&lt;br /&gt;agama yang baik. Dan kini yang memiliki kecakapan dan pengetahuan agama&lt;br /&gt;yang cukup tak hanya laki-laki. Terbukti, kini mubalig perempuan telah&lt;br /&gt;bermunculan. Sayangnya, mereka tetap tidak bisa menjadi khatib maupun iman&lt;br /&gt;shalat di masjid. Mereka hanya bisa menjadi khatib atau imam di rumah atau&lt;br /&gt;pelbagai majelis taklim di kalangan perempuan sendiri.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Jelaslah, kata wanita ini, perempuan tidak boleh berkhotbah di&lt;br /&gt;masjid bukanlah karena ketidakmampuan mereka. Dalil-dalil yang menolak&lt;br /&gt;perempuan untuk berkhotbah "harus dipahami secara kontekstual, sesuai&lt;br /&gt;dengan situasi dan kondisi budaya saat dalil itu dikemukakan, sebab&lt;br /&gt;prinsip utama dalam Islam adalah musawah, hak yang sama antara laki-laki&lt;br /&gt;dan perempuan, tidak mengenal pembatasan dan diskriminasi dalam&lt;br /&gt;pelaksanaan ibadah."=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kata dia: "Kala situasi sekarang berbeda dengan dulu, keamanan telah&lt;br /&gt;sepenuhnya dijamin, dai-dai perempuan pun bermunculan, masihkah kita tidak&lt;br /&gt;mau memberi kesempatan bagi perempuan untuk berkhotbah atau memimpin&lt;br /&gt;shalat di masjid? Barangkali di antara kita belum ada yang berani tampil&lt;br /&gt;seperti Prof Amina Wadud. Namun, setidaknya kita berani bertanya dalam&lt;br /&gt;diri kita: apa yang sebenarnya kita takutkan dan apa yang kita&lt;br /&gt;pertahanankan jika perempuan bicara di masjid? Apakah ada yang akan merasa&lt;br /&gt;bakal kehilangan otoritasnya sebagai pemimpin agama dalam masyarakat?&lt;br /&gt;Ataukah rasa maskulinitas kita sedang terancam?"=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Wanita ini sedang menampilkan dirinya sebagai 'mujtahid' yang merasa&lt;br /&gt;lebih hebat dari ribuan ulama, termasuk ulama-ulama wanita, seperti&lt;br /&gt;Sayyidah Aisyah r.a. Sepanjang 1500 tahun, dan di belahan dunia mana pun,&lt;br /&gt;ulama Islam tidak pernah berpikir semacam ini. Jika fiqih dipengaruhi oleh&lt;br /&gt;waktu dan tempat atau budaya, di mana-mana kaum Muslim selama ribuan tahun&lt;br /&gt;punya pendapat yang sama tentang banyak masalah fiqih. Tentu ada&lt;br /&gt;perbedaan, tetapi bukan karena perbedaan budaya. Lalu, apakah yang&lt;br /&gt;dimaksud dengan musawat? Apakah itu berarti persamaan dalam segala hal&lt;br /&gt;antara laki-laki dan wanita? Jika si wanita ini merasa mampu dan berhak&lt;br /&gt;menjadi khatib Jumat, apakah dia mau hukum salat Jumat juga wajib baginya?&lt;br /&gt;Apakah si wanita ini lalu merasa menjadi terhormat jika dapat berkhotbah&lt;br /&gt;Jumat?=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tanpa dia sadari, atau mungkin dia sadari, si wanita yang mengaku&lt;br /&gt;dari aktivis organisasi intelektual Islam ini, sebenarnya sedang&lt;br /&gt;membongkar agamanya sendiri. Dengan dalil "musawat" dia bisa membongkar&lt;br /&gt;apa aja yang dikehendaki, yang penting sama dengan laki-laki. Dia bisa&lt;br /&gt;menuntut hak talak, karena perempuan juga bisa mentalak suaminya. Wanita&lt;br /&gt;juga bisa menuntut untuk masuk masjid, meskipu sedang haid, karena&lt;br /&gt;sekarang sudah ada pembalut wanita yang mampu menahan ceceran darah. Di&lt;br /&gt;masa turunnya ayat, pembalut wanita belum ada. Wanita juga bisa mencari&lt;br /&gt;nafkah dan menjadi kepala keluarga. Wanita juga tidak harus melahirkan dan&lt;br /&gt;menyusui anaknya, karena dia bisa menyewa orang lain untuk melahirkan dan&lt;br /&gt;menyusui anaknya. Kelebihan seperti dalam surat an-Nisa ayat 34, menurut&lt;br /&gt;mereka, bukan kelebihan berdasarkan jenis kelamin.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Inilah pemahaman yang keliru. Secara umum, hingga kini, dalam soal&lt;br /&gt;fisik saja, laki-laki memang lebih unggul dari perempuan. Meskipun secara&lt;br /&gt;perseorangan, banyak wanita lebih unggul dan lebih kuat secara fisik. Bisa&lt;br /&gt;dipastikan, juara tinju dunia kelas berat wanita, Lamya Ali, misalnya,&lt;br /&gt;lebih kuat pukulannya dan akan menang bertinju melawan Komar, pelawak yang&lt;br /&gt;kini menjadi anggota DPR. Banyak wanita jago angkat besi atau bela diri&lt;br /&gt;yang mungkin saja lebih kuat fisiknya ketimbang suaminya. Tetapi, secara&lt;br /&gt;umum, tetap saja laki-laki lebih kuat. Para aktivis kesetaraan gender&lt;br /&gt;sebenarnya mengakui hal ini. Maka mereka tidak memprotes, bahwa dalam&lt;br /&gt;bidang olah raga, kaum wanita sebenarnya telah didiskriminasi dan&lt;br /&gt;diperhinakan dengan sadis, dengan dibeda-bedakan kelompok pertandingannya&lt;br /&gt;dengan laki-laki. Jika para aktivis kesetaraan gender ini konsisten, maka&lt;br /&gt;mereka harusnya memprotes hal itu, dan menuntut, agar tidak ada lagi&lt;br /&gt;pembedaan pertandingan tinju laki-laki dan tinju wanita, angkat besi&lt;br /&gt;laki-laki dan angkat besi wanita, sepakbola laki-laki dan perempuan, gulat&lt;br /&gt;laki-laki dan gulat wanita, bulu tangkis laki-laki dan wanita, dan&lt;br /&gt;sebagainya.=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Para aktivis kesetaraan gender ini tidak menuding, bahwa olimpiade,&lt;br /&gt;Sea-games, dan sebagianya, adalah rekayasa kaum laki-laki, yang&lt;br /&gt;mendiskriminasi wanita, karena memperlakukan wanita sebagai makhluk lemah.&lt;br /&gt;Nyatanya, aktivis kesetaraan gender hanya berani menuduh-nuduh para ulama,&lt;br /&gt;para fuqaha, bahwa mereka merakayasa hukum agama untuk kepentingan&lt;br /&gt;laki-laki. Tuduhan yang sebenarnya sangat jahat, karena dilakukan&lt;br /&gt;serampangan. Pada 21 November 2004, seorang yang mengaku aktivis liberal,&lt;br /&gt;menulis di Harian Jawa Pos, bahwa ada seorang wanita, bernama Maryam&lt;br /&gt;Mirza, yang melakukan khotbah shalat Id, di Amerika Serikat. Penulis ini&lt;br /&gt;sangat bangga bahwa ada wanita bisa khotbah Id, sehingga ia puji&lt;br /&gt;habis-habisan, dengan kata-katanya berikut:=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   "Penampilan Maryam Mirza memang bahkan bisa dikatakan "revolusioner"&lt;br /&gt;- bukan hanya buat Muslim Amerika, tapi untuk seluruh dunia Islam.&lt;br /&gt;Kesetaraan gender dalam Islam memang terlalu banyak dikatakan dan terlalu&lt;br /&gt;sedikit dilaksanakan... Mudah-mudahan pada Idul Fitri tahun depan, kita di&lt;br /&gt;Indonesia - kalaupun mustahil diharap di Arab Saudi -- pun bisa menikmati&lt;br /&gt;tampilnya khatib perempuan dalam salat Id. Jika Maryam Mirza bisa, seperti&lt;br /&gt;kata jamaah salat Id di Washington itu, tentu para perempuan Muslim lain&lt;br /&gt;di mana pun bisa."=20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Memang, banyak wanita yang mampu menjadi khatib. Tetapi, ironis&lt;br /&gt;sekali cara berpikir seperti ini, bahwa wanita menjadi khatib Id&lt;br /&gt;dibanggakan, hanya karena "WTS" (Waton Suloyo/asal beda dengan yang lain).&lt;br /&gt;Jangankan menjadi khatib, sekarang pun banyak wanita Muslimah yang bisa&lt;br /&gt;membuat pesawat terbang dan menjadi cendekiawan-cendekiawan unggul, tanpa&lt;br /&gt;perlu menjadi khatib Id. Apa yang perlu dibanggakan dengan hal semacam&lt;br /&gt;ini? Sepanjang sejarah Islam, banyak wanita menjadi pejuang unggul, tanpa&lt;br /&gt;perlu menuntut menjadi khatib. Cut Nya' Din, tetap dihormati dan dipuji&lt;br /&gt;sebagai pahlawan. Cut Mutiah, namanya tetap harum. Mereka tidak berbuat&lt;br /&gt;hal yang aneh-aneh untuk menjadi terkenal. Kalau si penulis artikel itu&lt;br /&gt;ingin ada wanita jadi khatib shalat Id di Indonesia, biarlah istrinya&lt;br /&gt;sendiri, yang jadi imam salat baginya, dan jadi khatib untuk keluarganya&lt;br /&gt;sendiri. Biarlah dia memberi contoh, untuk dirinya sendiri, dan&lt;br /&gt;mempertanggung jawabkannya kepada Allah SWT di Hari Akhirat nanti. Ibnu&lt;br /&gt;al-Mundzir, dalam Kitab al-Ijma', (hal. 44) menjelaskan, bahwa soal imam&lt;br /&gt;dan khatib ini sudah merupakan ijma' di kalangan sahabat. Para Ulama Islam&lt;br /&gt;pun tidak pernah berbeda dalam soal ini. Wallahu a'lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-4801804171831810810?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/4801804171831810810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=4801804171831810810' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4801804171831810810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4801804171831810810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2008/08/gebrakan-ilmiah-nu-pasuruan-bongkar.html' title='&quot;Gebrakan Ilmiah NU Pasuruan Bongkar Kebohongan Aktivis Gender&quot;'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SJWC5LfnqcI/AAAAAAAAAJw/JEXD7QkuEHQ/s72-c/1_765140232m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-2172103258682818926</id><published>2008-07-27T08:18:00.000+07:00</published><updated>2008-07-27T08:19:31.185+07:00</updated><title type='text'>AWAS BUKU SYI'AH</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;a href="http://blog.vbaitullah.or.id/2002/09/08/31-awas-buku-syiah/" rel="bookmark"&gt;AWAS Buku Syi’ah&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;div class="postdate"&gt;Posted on September 8th, 2002 by admin&lt;/div&gt;      &lt;p&gt;Jika kita ke toko buku, terkadang tertarik dengan suatu buku. Namun jangan tergesa-gesa dahulu untuk membelinya. Lihat dulu pengarangnya. Apakah dari Ahlus Sunnah wal jama’ah atau bukan. Kalo perlu, lihat juga penerjemahnya (untuk yang bahasa Indonesia) dan penerbitnya. Jangan sampai kita salah di dalam memilih buku.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada kesempatan ini kami bawakan daftar buku-buku syiah yang kami dapatkan dari situs salah satu yayasan syiah di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud kami ini tidak lain dan tidak bukan agar kita tidak tersesat dalam memilih buku. Kita tahu dan belajar kejelekan bukan untuk kita amalkan tapi untuk kita jauhi.&lt;/p&gt; &lt;span id="more-31"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;table border="1" bordercolor="#000000" cellpadding="4" cellspacing="0" width="100%"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr bgcolor="#ffcc00" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;&lt;b&gt;PENERBIT&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;&lt;b&gt;JUDUL&lt;br /&gt;      BUKU DAN PENGARANG&lt;/b&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Lentera&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ar-Risalah, Syaikh Ja?far Subhani&lt;/li&gt;&lt;li&gt;As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba?i Bahrul Ulum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Musawi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Musawi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Musawi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fiqih Imam Ja?far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fiqih Imam Ja?far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fitrah, Murthadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Jufri (editor) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keutamaan &amp;amp; Amalan Bulan Rajab, Sya?ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Handawi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja?far Shadiq &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metodologi Dakwah dalam &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an, Husain Fadhlullah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memahami Esensi &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;AL&lt;/b&gt;-Qur?an, S.M.H. Thabatabai &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenal Diri, Ali Shomali &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim Muhammad Jawad&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja?farian &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perkawinan Mut?ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu Mustofa (editor) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an (1), Murtadha Muthahhari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an (2), Murtadha Muthahhari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suara Keadilan, George Jordac &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja?far Subhani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pustaka Hidayah&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;14 Manusia Suci, WOFIS IRAN &lt;/li&gt;&lt;li&gt;70 Salawat Pilihan, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Ustads Mahmud Samiy &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Agama Versus Agama, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akibat Dosa, Ar-Rasuli &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Mahalati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Najdiy &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belajar Mudah Ushuluddin, Dar &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Haqq &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gerakan Islam, A. Ezzati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imam Ali Bin Abi Thalib &amp;amp; Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imam Husain bin Ali &amp;amp; Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imam Muhammad &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Baqir &amp;amp; Imam Ja?far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imam Musa &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Kadzim &amp;amp; Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Inilah Islam, SMH Thabataba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Agama Protes, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Musawi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Sejuta &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt;, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Sejuta &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; [1], Murthadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah Sejuta &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; [2],Murthadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja?far Subhani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari &amp;amp; Thabathaba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menolak Isu Perubahan &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran, Rasul Ja?farian &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja?far Shadiq &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-syifiy &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari &amp;amp; Baqir Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja?far Murtadha &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Amili &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perjalanan-Perjalanan Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari&amp;amp; M. Baqir Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reformasi Sufistik, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salman &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Sabitiy &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sejarah dalam Perspektif &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran, M Baqir As-Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja?far Subhani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tentang Dibenarkannya Syafa?at dalam Islam, Syaikh Ja?far Subhani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tujuan Hidup, M.T. Ja?fari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ummah dan Imamah, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wanita Islam &amp;amp; Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Gaffar&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;MIZAN       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;40 Hadis [1], Imam Khomeini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;40 Hadis [2], Imam Khomeini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;40 Hadis [3], Imam Khomeini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;40 Hadis [4], Imam Khomeini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dialog Sunnah Syi?ah, A Syafruddin &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Musawi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat Sains Menurut &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran, Mahdi Gulsyani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gerakan Islam, A Ezzati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; Islam, Sayyid M.H. Thabathaba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha?iri Yazdi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Aktual, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Alternatif, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi?ah, A Syafruddin &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Musawi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jilbab Menurut &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Qur?an &amp;amp; As Sunnah, Husain Shahab&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kasyful Mahjub, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Hujwiri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari?ati&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lentera Ilahi Imam Ja?far Ash Shadiq &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengungkap Rahasia &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an, SMH Thabathaba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Baqir &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Naraqi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Renungan-renungan Sufistik, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syi?ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sirah Muhammad, M. Hashem &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tauhid Dan Syirik, Ja?far Subhani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ulama Sufi &amp;amp; Pemimpin Ummat, Muhammad &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Baqir&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;YAPI&lt;br /&gt;      JAKARTA&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Abdullah Bin Saba? dalam Polemik, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abdullah Bin Saba? Benih Fitnah, M Hashem &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cara Memahami &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Qur?an, S.M.H. Bahesti &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi Mastal &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keluarga Muslim, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Balaghah Foundation &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kenabian, Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mi?raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perjuangan Melawan Dusta, Bi?that Foundation &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perjanjian Ilahi Dalam &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an, Abdul Karim Biazar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rasionalitas Islam, World Shi?a Muslim Org. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syahadah, Ali Shari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Askari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tauhid, Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wajah Muhammad, Ali Shari?ati&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;YAPI&lt;br /&gt;      Bangil &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Akal dalam &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Kafi, Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Habsyi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajaran- ajaran &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran, Sayid T Burqi &amp;amp; Bahonar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Majlisi &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qummi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hawa Nafsu, M Mahdi &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Shifiy &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Yahfufi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Habsyi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Habsyi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Metode Alternatif Memahami &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran, Bi Azar Syirazi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Habsyi &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Rosdakarya&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Catatan Kang Jalal, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fatimah Az Zahra, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Khalifah Ali Bin Abi Thalib, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meraih Cinta Ilahi, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; fatihah: Mukaddimah, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Bil Ma?tsur, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Zainab &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qubra, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Hadi       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Milal wan-Nihal, Ja?far Subhani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fiqh Praktis, Hasan Musawa &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;CV&lt;br /&gt;      Firdaus &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani(et. &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Mizan: Surat &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Fatihah, S.M.H. Thabathaba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara?ati &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pustaka Firdaus &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Saat Untuk Bicara, Sa?di Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Risalah&lt;br /&gt;      Masa &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty &amp;amp; Bahonar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty &amp;amp; Bahonar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt; Khatib, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Allamah As Shafi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty &amp;amp; Bahonar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syi?ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tauhid Pembebas Mustadh?afin, Sayyid Ali Khamene?i&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tuntunan Puasa, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Balagha &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Qonaah       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pendekatan&lt;br /&gt;        Sunnah Syi?ah, Salim &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Bahansawiy &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Bina Tauhid &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Memahami &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Qur?an, Murthadha Muthahhari &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Mahdi       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Tafsir &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Mizan: Mut?ah, S.M.H. Thabathabai &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Ihsan       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Kautsar       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Habsyi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Habsyi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sunnah Syi?ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Habsyi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Suyuti&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Baqir       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Kasyi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Badai Pembalasan, Muhsin Labib  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membela Para Nabi, Ja?far Subhani  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Suksesi, M Baqir Shadr  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Habsyi &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Bayan       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;As-Sajjad       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja?far Subhani&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jihad Akbar, Imam Khomeini &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nabi Tersihir, Ali Umar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nikah Mut?ah Ja?far, Murtadha &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Amili &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quzwainy&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Basrie&lt;br /&gt;      Press &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pintu Ilmu&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Siapa,&lt;br /&gt;      Mengapa Ahlul Bayt, Jamia?ah &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Ta?limat &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Islamiyah Pakistan &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;       Ulsa Press &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tragedi Mekkah Dan Masa Depan &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Haramain, Zafar Bangash&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abu Dzar, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Aqidah Syi?ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Muzhaffar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari?ati&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Gua Hira &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kepemimpinan&lt;br /&gt;        Islam, Murtadha Muthahhari&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Grafiti       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Islam Syi?ah: Allamah M.H. Thabathaba?i &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria?ti&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Effar&lt;br /&gt;      Offset&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah &amp;amp; Syi?ah Sulaim &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Basyari &amp;amp; Syaraduddien  &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; ?Amili &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Shalahuddin&lt;br /&gt;      Press &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari?ati &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Panji Syahadah, Ali Syari?ati. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari?ati&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Ats-Tsaqalain       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Sunnah&lt;br /&gt;      Syi?ah dalam Dialog, Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Habsyi &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pustaka       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Kehidupan&lt;br /&gt;      Yang Kekal, Morteza Muthahari &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Darut&lt;br /&gt;      Taqrib &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Rujuk&lt;br /&gt;      Sunnah Syi?ah, M Hashem &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Muntazhar       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Fiqh Praktis Syi?ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Gramedia       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Biografi&lt;br /&gt;      Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Toha&lt;br /&gt;      Putra &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Keutamaan&lt;br /&gt;      Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Gerbang&lt;br /&gt;      Ilmu &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Tafsir&lt;br /&gt;      &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Jawad       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Amalan Bulan Ramadhan Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Kaff &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mi?raj Ruhani [1], Imam Khomeini  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mi?raj Ruhani [2] Imam Khomeni  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Hakimi  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini &amp;amp; Imam Ali Khamene?i &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Jami?ah &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Ta?limat &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Islamiyah&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Tuntutan Hukum Syari?at, Imam Abdul Qasim&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Sinar&lt;br /&gt;      Harapan &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Revolusi Iran, Nasir Tamara &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Mulla&lt;br /&gt;      Shadra &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama?ah, Hasan Abu Ammar  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Duta Ilmu &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Wasiat Imam Ali, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Majlis Ta?lim Amben &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       114 Hadis Tanaman, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Syeikh Radhiyuddien &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Grafikatama&lt;br /&gt;      Jaya &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Tipologi Ali Syari?ati &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Nirmala       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Hisab       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Abu&lt;br /&gt;      Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Ananda       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari?ati &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;       Iqra &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari?ati &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Fitrah       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Lentera&lt;br /&gt;      Antarnusa &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Sa?di  Bustan, Sa?di &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pesona       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Rajawali&lt;br /&gt;      Press &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari?ati &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Bina&lt;br /&gt;      Ilmu &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Demonstran Iran dan Jum?at Berdarah di Makkah, HM Baharun &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pustaka&lt;br /&gt;      Pelita &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;1. Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Tijani &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Samawi  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu ?Alama &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pustaka       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Filsafat Shadra, Fazlur Rahman  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Haji, Ali Syari?ati  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reaksi Sunni-Syi?ah, Hamid Enayat  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Pustaka Jaya &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;al&lt;/b&gt;-Ridlawi &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Islamic Center &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Huda &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Huda (1) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Huda (2)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja?far Hadi  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Hudan&lt;br /&gt;      Press &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Yayasan Safinatun Najah &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;1. Manakah Jalan Yang Lurus (1), &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manakah Jalan Yang Lurus (2), &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manakah Jalan Yang Lurus (3), &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manakah Shalat Yang Benar (1), &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Amanah Press&lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;       Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;  Yayasan &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Salafiyyah &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Khadijah &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Kelompok&lt;br /&gt;      Studi Topika &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Hud-Hud&lt;br /&gt;      Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Muthahhari&lt;br /&gt;      Press/Muthahhari Papaerbacks &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (1) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (2)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (3)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (4)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (5)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (6)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (7)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (8)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (9) &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (10)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (11)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (12)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (13)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (14)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (15)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (16)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jurnal &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; (17)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Shahifah Sajjadiyyah, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(153, 255, 153);"&gt;Jalaluddin&lt;/b&gt; Rakhmat (penyunting)  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Abu Dzar, Ali Syariati  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemimpin Mustadha?afin, Ali Syariati  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Serambi       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jantung &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an, Syeikh Fadlullah Haeri &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelita &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Qur?an, Syeikh Fadlullah Haeri&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;Cahaya       &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt;Membangun&lt;br /&gt;      Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri &lt;/td&gt; &lt;/tr&gt; &lt;tr bgcolor="#ffffcc" valign="top"&gt; &lt;td width="19%"&gt;(Non Mentioned) &lt;/td&gt; &lt;td width="81%"&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Quran dalam Islam, MH Thabathabai &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt; Mulk, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keutamaan Membaca Surah &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Isra &amp;amp; &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Kahfi, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bunga Rampai Pendidikan, Husein &lt;b style="color: black; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;Al&lt;/b&gt;-Habsyi &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt;-&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; Sholawat ,Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt;-&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; Puasa, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt;-&lt;b style="color: black; background-color: rgb(160, 255, 255);"&gt;Hikmah&lt;/b&gt; Kematian, Taufik Yahya &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wirid Harian, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Kumay,l Non Mentioned  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Harian, Non Mentioned  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Shobah, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Jausyan Kabir, Non Mentioned  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keutamaan Shalat Malam Dan Do?anya, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Nutbah, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Tawassul, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Untuk Anak, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Do?a Khatam Qur?an, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur?an, Non Mentioned&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Amalan Bulan Sya?ban dan Munajat Sya?baniyah, Non Mentioned &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-2172103258682818926?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/2172103258682818926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=2172103258682818926' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/2172103258682818926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/2172103258682818926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2008/07/awas-buku-syiah.html' title='AWAS BUKU SYI&apos;AH'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-8500637812342618784</id><published>2008-07-18T22:07:00.001+07:00</published><updated>2008-12-12T09:03:29.926+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SICyFk7_eYI/AAAAAAAAAJQ/aclwJ39ZEs4/s1600-h/ada%2Bpa%2Bqoffa.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SICyFk7_eYI/AAAAAAAAAJQ/aclwJ39ZEs4/s200/ada%2Bpa%2Bqoffa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5224371376634165634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;POLITIK, AGAMA &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;DAN&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;KEBEBASAN&lt;/st1:middlename&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;BERBICARA&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Oleh :&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Muqoffa&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Mahyuddin&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Pendahuluan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membicarakan asal usul gagasan kemerdekaan Eropa tentunya membicarakan tentang akar liberalisme modern pada abad ke-17, ketika pemerintahan feodal sedang berjuang untuk memerdekakan diri mereka sendiri dari hegemoni Paus dan gereja (&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Kristen&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Katholik&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;). Pada saat itu, bangsa-bangsa yang merdeka dan berdaulat belum ada. Setiap &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;kota&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt; atau kerajaan berada di bawah perwalian pangeran atau bangsawan. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt; bangsawan atau penguasa feodal ini, pada gilirannya, di bawah pengaruh pendeta setempat dan &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Paus&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:middlename st="on"&gt;Suci&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Roma&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;. Negara yang paling kacau adalah Italia. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; sinilah muncul seorang Filosof bernama Niccolo &lt;st1:sn st="on"&gt;Machiavelli&lt;/st1:sn&gt; (1469-1527) yang bukunya &lt;i&gt;The Prince&lt;/i&gt;, memberikan kerangka filsafat yang kemudian dikenal dengan Machiavellianisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengikuti pembebasan negara-negara dari hegemoni Gereja Katholik dan Paus, pemikiran yang bebas dan ilmiah bererti membebaskan dirinya dari hegemoni inkusisi yang menakutkan. Hasilnya adalah kekangan tradisi keagamaan dan otoritas atas pemikiran dan kehidupan rakyat menjadi longgar; tetapi ia meminta korban ilmuan besar seperti &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Galileo&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Galilei&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; (1564-1642) Pemikiran yang bersifat investigatif dan akal yang sedang berkembang tidak lagi mengalami kekakuan, stagnasi dan tirani kependetaan Katholik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Langkah selanjutnya dalam Renaisans Eropa adalah reformasi keagamaan dan Protestanisme yang dilakukan di bawah pimpinan &lt;st1:givenname st="on"&gt;Marthin&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Luther&lt;/st1:sn&gt; (1483-1546), &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;John&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Calvin&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; (1509-1564), dan yang lainnya. &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Umat&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Protestan&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; menolak tahayul dan larangan-larangan agama Katholik. Mereka bertujuan kembali kepada kemurnian ajarannya yang sederhana, spiritualitas dan kebebasan. Demikian juga mereka berjuang bagi kebebasan berseni dan berbudaya.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Gerakan ini memuncak pada pencarian bagi kebebasan sosial dan politik dituntut oleh revolusi Prancis yang Agung (1789-1799) dan Rezim demokratis lainnya. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt; pelopor gerakan ini adalah &lt;st1:givenname st="on"&gt;Jean&lt;/st1:givenname&gt; – &lt;st1:givenname st="on"&gt;Jacques&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Rousseau&lt;/st1:sn&gt; (1712-1778), &lt;st1:givenname st="on"&gt;Francois&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;Marie&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Voltaire&lt;/st1:sn&gt; (1694-1778), &lt;st1:givenname st="on"&gt;Charles&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;de  Scondat&lt;/st1:sn&gt;, &lt;st2:personname st="on"&gt;Baron &lt;st1:sn st="on"&gt;de   Montesquie&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; (1689-1755) dan para ensiklopedis lainnya (Para Filosof Prancis abad ke-18) yang umumnya anti tahayul, atheis dan agnostik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Melihat sejarah Eropa di atas akan memunculkan pertanyaan: Apakah benar bahwa politik liberal dan gerakan intelektual yang telah memicu Eropa menuju lompatan besar pada hakikatnya adalah gerakan anti agama, anti gereja dan anti pendeta? Apakah gerakan liberal tersebut berhubungan dengan kebebasan berbicara ?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertama, kita perlu menjelaskan asal usul pertentangan gereja terhadap kebebasan. Pertanyaannya adalah: Apakah antagonisme ini disebabkan oleh kondisi doktrin dan sejarah tertentu, atau sebuah akibat dari nilai universal yang dimiliki semua agama dari waktu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ke waktu? Jawabannya cukup sederhana. Dengan mengesampingkan persoalan kebenaran dan otentitas agama, tampaknya cukup beralasan untuk berharap bahwa Tuhan yang, secara divinisi, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa, berkuasa serta mengetahui kebaikan dan kejahatan, adalah mempunyai kualifikasi yang lebih baik untuk menilai apa yang pantas bagi manusia ketimbang manusia itu sendiri. Apakah kepercayaan ini masih menyisakan pilihan bagi pemeluknya ketimbang menyerahkan sepenuhnya tanpa syarat kepada kehendak Tuhan? Lebih lagi para pendeta dan gereja, yang menganggap diri mereka sebagai penerus Yesus dan wakil Tuhan - dan ulama lain yang menganggap diri mereka sendiri sebagai penjaga umat Tuhan-pasti berharap agar masyarakat mengikuti mereka, dan untuk mensubordinasikan akal dan ilmu pengetahuan kepada perintah-perintah Tuhan yang diwahyukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Doktrin tersebut di atas tidak menyisakan ruang bagi kebebasan dan berkehendak manusia untuk mengatur urusan mereka sendiri dan untuk mempertanyakan-setidaknya menolak – wakil Tuhan yang mengklaim bebas dari kesalahan karena status mereka sebagai pengganti Nabi. Jadi tampaknya akal manusia dan peraturan agama sama-sama eskslusif. Berbeda dengan sabda &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Nabi&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;Muhammad&lt;/st1:middlename&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;SAW.&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, -&lt;i&gt;Pemerintah bisa tetap hidup meskipun tidak beriman, tetapi akan hancur bila tidak adil &lt;/i&gt;- tampak bahwa peraturan absolut dari ulama' sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan masyarakat, jika tidak menginginkan masyarakat melepaskan agama secara keseluruhan. Konsekuensinya, demokrasi, ilmu pengetahuan, investigasi, keahlian dan pengetahuan, tampak sebagai akibat yang pasti dari sikap mencela agama dan ulama'. Sementara menerima kedaulatan Tuhan dan ihwal pengurusan bumi oleh gereja dan ulama' akan mengakibatkan tirani, perbudakan, inkuisisi&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn3" name="_ftnref3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan kekerasan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ironisnya adalah bahwa hukum Tuhan di&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;muka bumi yang berasal dari "langit" memerlukan pengawasan, sensor, penahanan dan siksaan. Kekerasan terhadap orang-orang dalam dan orang-orang luar sama-sama dianggap sebagai esensi mencari keadilan dan kemurahan hati. Dalam masyarakat seperti ini, kritisisme terkecil, perselisihan, pelanggaran dalam persoalan-persoalan ritual, aministrasi, politik dan bahkan dalam persoalan pribadi akan dianggap pelanggaran terhadap Tuhan dan wakil-wakilNya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemerintah yang beragama, tidak seperti negara-negara beraliran Marxist, tidak bisa mentolerir kebebasan berpendapat dan kritisisme. Kebebasan berpendapat dan berkumpul, juga pemogokan dan demonstrasi adalah sesuatu yang tak terpikirkan; penilaian partai yang berkuasa dan eksekusinya akan cepat dan bersifat ketegoris. Baik pemerintah beragama maupun Marxist mengakui kebebasan dan rasionalis hanya bagi pengikut-pengikutnya yang patuh. Bagi yang lainnya, kebebasan hanya berarti pengrusakan, kekacauan, percampuran, pencelaan terhadap ideologi dan rezim yang berkuasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertanyaan selanjutnya adalah apakah seluruh utusan Tuhan, khususnya pendiri agama Islam, menyetujui praktik agama Kristen pada abad pertengahan Apakah nabi-nabi Allah mengajarkan kita untuk menghasut mengadakan revolusi berdarah di muka bumi, meningkatkan keragu-raguan, menghancurkan gerakan-gerakan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;anti revolusi, menyebar bibit-bibit kebencian dan pertentangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Al&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Qur’an&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; telah menjelaskan misi para rasul, baik secara langsung, melalui perintah-perintah, maupun tidak langsung, melalui penjelasan secara umum tentang rencana penciptaan Tuhan. Apa yang kita pelajari dari sejarah rasul dan slogan kita.” Tidak ada Tuhan Selain Allah,” adalah bahwa misi Rasul untuk memerdekakan manusia, bukan untuk memperbudak, yaitu membebaskan manusia dari apa dan dari siapa? Sal;ah satu jawabannya adalah dari raja-raja, orang-orang yang kaku, dan orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan kekayaan, dari para penindas pada masanya. Dalam QS. 20: 47 dan 44, yang membicarakan nabi Musa secara khusus, Tuhan memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk berkata kepada Fir’aun ,” &lt;i&gt;Kirimkanlah bani Israil &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kepada kami (hingga kami bisa membawa mereka kepada wilayah dan bangsa mereka sendiri) dan janganlah menindas mereka,”….Mereka diperintahkan untuk tidak mengutuk dan menghinanya, tetapi “berbicara dengan lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut (kepada Allah dan akibat-akibat dari tindakanNya,”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Agama dan Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Konfrontasi antara gereja-gereja abad pertengahan dan gerakan liberal menyebabkan pemisahan antara agama dan politik barat. Konflik yang bertanggungjawab atas tersebarnya kekecewaan para intelektual dan ilmuan terhadap agama, terus berlangsung sampai abad ke-20. Dalam dunia Islam situasinya sangat berbeda.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn4" name="_ftnref4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; kalangan muslim Sunni [sekte terbesar dalam Islam] dan di bawah khalifah-khalifah [Sunni], pemerintah mendominasi agama dan ulama. Raja adalah pemimpin agama dan sekaligus pemimpin masyarakat. Ia adalah orang-orang yang menunjuk para imam salat &lt;st1:sn st="on"&gt;Jum’at&lt;/st1:sn&gt; , para gubernur dan menteri-menteri. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt; hakim ditunjuk oleh khalifah, sehingga mereka tidak dapat menentang hukum yang ditentukan oleh khalifah. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt; khalifah adalah penguasa tertinggi, hakim agung dan sekaligus bendaharawan. Mereka menganggap diri mereka sbagai pengejawantahan dari ayat al-Qur’an&lt;i&gt;:”Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan orang-orang yang berkuasa di antara kamu,”&lt;/i&gt;(QS:4:59). Oleh karena itu para khalifah itu mengklaim diri sebagai penguasa dan otokrat yang abslut. Semakin jauh kita melacak Islam pada masa-masa awal, semakin banyak kita mendapatkan tirani sperti ini. Setelah “&lt;i&gt;al-Khulafa’ al Rasyidin&lt;/i&gt;” hak warga negara untuk mengkritik dan berbeda pendapat dengan pemimpin mereka hilangkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; kalangan ulama’ syi’ah, keadaannya sungguh berbeda. Karena mereka adalah minoritas yang tertindas, mereka tidak berbicara tentang persoalan pemerintah dan politik. Pada awal masa pemberontakan terhadap khalifah Umayyah dan Abbasiah secara berturut-turut memerintah antara 661-750, dan 750-1258, dan selama masa kemerdekaan secara perlahan-lahan dari rezim Bagdad, pemerintahan Sunni dan Syi’ah di Iran kembali ke rezim monarki absolut. Walaupun sejumlah raja, seperti Mahmud Ghaznawi (971-1030) Atau bangsa Daylami (dikenal juga dengan bangsa Buwaihi), Safawi dan Qajar (dinasti Pesia secara berturut-turut memerintah antara 945-1055, 1502-1736, dan 1794-1925) adalah orang-orang yang berorientasi kepada agama dan berlagak saleh, dan meskipun secara umum mereka menghomati ulama dengan sangat tinggi, agama dan politik tetap terpisah dalam segala aspek. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt; pemimpin syi’ah terpisah dari negara dan mereka tidak tertarik pada urusan-urusan sosial, administrasi dan politik. Mereka mendapatkan shodaqoh lainnya langsung dari masyarakat dan para pedagang. Hingga terjadinya revolusi konstitusional &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Iran&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt; (1906), para ulama masih jarang terlibat dalam persoalan-persoalan hukum. Etapi sebagian besar dari mereka melibatkan diri mereka dalam pendidikan, kesarjanaan, dan mengeluarkan maklumat. Karena pimpinan agama tertinggi sering mendapat keluhan dari masyarakat, sekali-kali mereka memprotes dan menasehati pemerintah, atau, mereka secara singkat mengintervensi ke dalam fungsi-fungsi eksekutif negara.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn5" name="_ftnref5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam menekankan kebebasan berpendapat dan beragama, cukuplah bagi kita untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan memilih yang terbaik antaranya….&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn6" name="_ftnref6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Islam membolehkan perbedaan pendapat, bahkan dalam wilayah ajaran-ajaran agama, apalagi dalam persoalan-persoalan administrasi dan pemerintahan.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn7" name="_ftnref7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Ayat-ayat Setan-Salman Rushdi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:black;"&gt;Dari waktu ke waktu suatu masyarakat multicultural harus memancarkan situasi di dalamnya yang terdapat budaya dan perselisihan paham moral antara masyarakat yang berbeda menuju kedepan dan menciptakan suatu cisis. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; tahun terakhir tidak ada peristiwa lain yang mempunyai ilustrasi ketegangan ini lebih dari yang kontroversi melingkupi Salman&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn8" name="_ftnref8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dengan &lt;i&gt;The Satanic Versesnya&lt;/i&gt; &lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn9" name="_ftnref9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;color:black;"  &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;( 1988). Tidak sama dengan Midnnight’s Children (Anak-Anak Tengah Malam) ( 1983), suatu pekerjaan lebih rendah di dalam yang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dirinya menulis tentang &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pakistan, ayat-ayat setan sebagai kiasan untuk kematian dan &lt;i&gt;ressurection&lt;/i&gt;, Hal tersebut menguji tatacara di dalam diri, yang mana &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ditempelkan di dalam bahasa tertentu, pola teladan hubungan dan lingkungan sosial dan alami, menyusun kembali dirinya sendiri sebagai jawaban atas perubahan pada mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn10" name="_ftnref10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Fatwa&lt;/i&gt; merupakan istilah Islam lain yang kini dikenal Barat karena penggunaannya melawan &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Salman&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Rushdi&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, penulis The Satanic Verses (1988). Istilah ini berarti pendapat atau keputusan resmi mengenai sebuah pokok hukum Islam. Sebuah fatwa dapat dikeluarkan oleh setiap pemimpin agama menyangkut berbagai topik. Ia tidak memiliki status hukum dan sebenarnya, harus diratifikasi dalam suatu pengadilan yang sesuai, jika akan menyandang status hukum. Jangkauan otoritas fatwa secara umum juga terbatas secara geografis serta budaya, dalam ruang lingkup otoritas pemuka muslim yang mengeluarkan fungsin fatwa tersebut.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn11" name="_ftnref11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;Fatwa Imam &lt;st1:sn st="on"&gt;Khomaeini&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; yang menentukan, yang menghukum mati Salman Rushdi karena novelnya The Satanic Verses (1988), perlu diletakkan dalam konteks historis ini. &lt;st1:sn st="on"&gt;Di Iran-sebagaimana&lt;/st1:sn&gt; yang sesungguhnya terjadi di sebagian dunia muslim-novel ini dipandang sebagai upaya sengaja menghina dan mengejek tokoh-tokoh yang dihormati dalam Islam. Seiap tokoh agama di &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Iran&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt; akan melakukan apa yang telah dilakukan &lt;st1:sn st="on"&gt;Khomeini&lt;/st1:sn&gt;. Penting untuk diingat bahwa muslimdi negara-negara Islam dilindungi oleh undang-undang penghinaan. &lt;st1:sn st="on"&gt;Di Pakisan&lt;/st1:sn&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Iran&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt; , mengolok-olok &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Al&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Qur’an&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; dan Nabi adalah sebuah pelanggaran konstitusi. Intinya disini bukanlah bahwa muslim menghormati &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Al&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Qur’an&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; dan Nabi karena hal itu terdapat dalam konstitusi mereka, tetapi lebih pada pengertian bahwa konstitusi mereka mencerminkan harapan muslim dengan mewujudkan tuntutan publik ini dalam hukum-hukumnya. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Al&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Qur’an&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn12" name="_ftnref12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; atau  negara-negara yang sebagian besar penduduknya muslim, tak seorangpun berpikir untuk menghina Nabi atau &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:black;"&gt;Realisme Megic mengambil format berbeda tergantung jujur abstrak yang diadopsi oleh pengarang [itu]. sajak/ayat Yang satanic beroperasi pada suatu untuk [yang] tingkat rendah abstrak. Rushdi menenun arround [yang] naratif nya mengkhayal tetapi para laki-laki dan perempuan dapat dikenal dan tidak suatu kenyataan [yang] disusun kembali. campuran seperti itu Af sihir realisme dan sejarah antasized adalah sesuai untuk menyelidiki kelahiran dan menyebar pergerakan historis sangat penting di (dalam) wich individu agung dan tiheir pengikut mengaktipkan pergerakan di (dalam) wich individu agung dan pengikut mereka mengaktipkan mereka sendiri dan khayalan dan dongeng satu sama lain, menghasilkan emosi kuat dan bentuk kembali [yang] kehadiran [yang] dibayangkan mereka [yang] ia terang suatu mengkhayal masa lampau dan masa depan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sinopsis akhir cerita &lt;i&gt;ayat-ayat setan&lt;/i&gt; adalah Dalam kilas balik kehidupan Mahound yang berseting di &lt;a href="file:///D:/wiki/Jahiliyah" title="Jahiliyah"&gt;Jahiliyah&lt;/a&gt; yang berupa mimpi atau penglihatan dari Gibreel, dikisahkan bahwa sang "Messenger" (perantara) dihadapkan pada pilihan sulit untuk berkompromi dengan adat &lt;a href="file:///D:/wiki/Politeisme" title="Politeisme"&gt;politeisme&lt;/a&gt;. Pada saat ia ingin memperkenalkan sistem &lt;a href="file:///D:/wiki/Monoteisme" title="Monoteisme"&gt;monoteisme&lt;/a&gt; yang diwahyukan kepadanya, hal tersebut ditentang oleh masyarakat setempat. Pada puncaknya ia harus memilih antara mengakui ketiga dewi utama Jahiliyah (&lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Allat (belum dibuat)"&gt;Allat&lt;/a&gt; - bentuk wanita dari &lt;a href="file:///D:/wiki/Allah" title="Allah"&gt;Allah&lt;/a&gt;, &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Uzza (belum dibuat)"&gt;Uzza&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Manah (belum dibuat)"&gt;Manah&lt;/a&gt;) sebagai setara dengan &lt;a href="file:///D:/wiki/Allah" title="Allah"&gt;Allah&lt;/a&gt; dan seluruh penduduk Jahiliyah akan menyembah Allahnya Mahound, atau ia dapat bersikeras untuk menolak dewi-dewi tersebut dan akan dimusuhi/diasingkan. Setelah ia mengundurkan diri untuk mencari wahyu, pertama-tama ia kembali dengan menyatakan bahwa ia mendapatkan wahyu dari Gabriel bahwa ketiga dewi tersebut akan diakui setara dengan Allah; namun kemudian setelah ia naik gunung lagi, ia kembali dengan menyatakan bahwa wahyu sebelumnya adalah dari setan dan harus dimusnahkan dari semua catatan tertulis yang telah dibuat, sebagai akibatnya ia dan pengikutnya melarikan diri dari Jahiliyah. Dua &lt;i&gt;sequence&lt;/i&gt; pendek lainnya yang menceritakan tentang Mahound mengisahkan tentang tokoh bernama &lt;st1:sn st="on"&gt;Ayesha&lt;/st1:sn&gt;, yang diceritakan merupakan anak perempuan muda yang menjadi istri Mahound, dan awal mula sistem poligami dalam kepercayaan yang disebarkan oleh Mahound. &lt;i&gt;Sequence&lt;/i&gt; ketiga mengisahkan tentang seorang pengikut Mahound, yaitu juru tulisnya dari Turki, yang mencatat semua syair (karena wahyu yang disampaikan kepada Mahound dibacakan seperti puisi sesuai dengan tradisi oral masyarakat saat itu) yang diutarakan oleh Mahound; juru tulis tersebut menjadi benci dengan Mahound karena ia beberapa kali menyelamatkan Mahound dan pengikutnya namun tidak pernah diakui jasanya, kemudian bibit ketidakpercayaannya membuatnya menguji apakah benar wahyu Mahound berasal dari malaikat. Diceritakan ia merubah beberapa kata-kata kecil pada saat ia mencatat apa yang dikatakan Mahound tanpa sepengetahuan Mahound. Hasilnya ternyata Mahound yang mendengar ulang apa yang dituliskan tidak menyadari perubahan yang terjadi. Sang juru tulis akhirnya berkesimpulan bahwa wahyu tersebut tidak lain adalah hasil rekaan Mahound sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Protes Orang Islam &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:black;"&gt;Segera setelah penerbitan &lt;i&gt;ayat-ayat setan&lt;/i&gt; pada &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;26 September 1988, Orang Islam Britania mulai berkampanye memprotes novel tersebut. Keberatan mereka disebabkan &lt;i&gt;pertama,&lt;/i&gt; buku tersebut memberi suatu pemahaman Islam yang tidak akurat dan menyebarkan atau mengucapkan kepalsuan. Buku tersebut sangat nampak tidak &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dekat dengan sejarah aslinya. Dalam keadaan seperti ini orang Islam melakukan mengatakan mereka berhak untuk memberi penghormatan kepada iman mereka yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;integritasnya diakui dan merupakan warisan/pusaka budaya mereka. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, Orang Islam berargumentasi bahwa ayat-ayat setan satanic adalah &lt;i&gt;“vilifactory kasar”&lt;/i&gt; menghina, mengandung kutukan dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membahas wanita-wanita dan manusia-nya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang mereka anggap suci dan yang dianggap suci adalah penjaga/wali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Logika&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:givenname&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;Ceramah&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Politis&lt;/st1:sn&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Walaupun debat melingkupi &lt;i&gt;ayat-ayat setan&lt;/i&gt; mempunyai beberapa corak tidak biasa, sebagian besar timbul dari fakta bahwa hal tersebut melibatkan agama, suatu yang mengagetkan dan baru-baru ini tiba-tiba minoritas imigran dan suatu acara penguburan kematian, adalah tidaklah untuk representative publik berdebat di depan umum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan debat tersebut menyertakan budaya, religius dan minoritas susila khususnya. Karena itu menawarkan pengertian yang mendalam berharga ke dalam alam, batas-batas dan struktur publik berdebat di dalam suatu masyarakat multicultural, akan berguna bagi kelanjutan sebagian dari pelajaran penting nya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn13" name="_ftnref13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:black;"&gt;Salah satu pertimbangan untuk ini harus lebih dulu mengatur fakta bahwa dua kelompok mengenal hanya sedikit jalan hidup satu sama lain . Orang Islam yang merasa disusahkan oleh &lt;i&gt;ayat-ayat setan&lt;/i&gt; untuk macam alasan menyebutkan lebih awal&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;color:black;"&gt; Lagipula, pertimbangan yang mereka kedepankan di dalam publik bukanlah pertimbangan riil mereka, dan karenanya mereka merasa diasingkan dan dikacaukan pengikut mereka. Tidak sedang dalam ceramah yang liberal pada atas kemerdekaan berbicara, mereka juga menemukan diri mereka sering ada dalam pilihan yang salah dan tanpa alternatif lain dikalahkan oleh lawan liberal mereka secara alami paling senang merasa serumah dengan tradisi itu.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn14" name="_ftnref14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Multikulturalisme&lt;/span&gt;&lt;/st1:givenname&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;Dalam&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Masyarakat&lt;/st1:givenname&gt;&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Majemuk&lt;/st1:sn&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam dunia ilmu-ilmu sosial telah muncul semacam kesadaran, bahwa penelitian sosial tidak pernah boleh berhenti pada pengumpulan data-data semata. Penelitian sosial haruslah menekankan dan mengajarkan nilai-nilai yang berguna bagi kehidupan bersama. Hal yang sama kiranya juga berlaku di dalam penelitian-penelitan mengenai multikulturalisme. Seorang ilmuwan sosial asal Swedia, &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;&lt;i&gt;Gunnar&lt;/i&gt;&lt;/st1:givenname&gt;&lt;i&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Myrdal&lt;/st1:sn&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st2:personname&gt;, mempunyai pendapat menarik tentang hal ini.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn15" name="_ftnref15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt; baginya ilmu-ilmu sosial haruslah melibatkan sesuatu yang lebih dari sekedar penggambaran fakta-fakta. Dalam arti ini ilmu sosial haruslah menyentuh problem-problem mendasar kehidupan manusia, seperti soal nilai dan makna. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, setelah menggambarkan fakta ilmu-ilmu sosial haruslah menjelaskan keterkaitan antara fakta-fakta yang beragam tersebut tersebut. Ilmu sosial haruslah mampu menunjukkan relasi yang memberikan kerangka berbagai data yang ada. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, di dalam ilmu-ilmu sosial problem mengenai sudut pandang sangatlah penting untuk diperhatikan. Suatu masalah bisa begitu signifikan di lihat dari satu sudut pandang tertentu, tetapi juga bisa menjadi sangat tidak signifikan jika dilihat dari sudut pandang lain. Seorang ilmuwan sosial haruslah memberikan argumen yang kuat, jika ia hendak memutuskan bahwa satu sudut pandang dianggap lebih penting daripada sudut pandang lain. &lt;st1:sn st="on"&gt;Myrdal&lt;/st1:sn&gt; merumuskan pandangannya ini dalam konteks analisisnya problem multikulturalisme &lt;st1:sn st="on"&gt;di Amerika&lt;/st1:sn&gt;. Pertanyaan yang menjadi fokusnya adalah struktur, institusi, dan kebijakan macam apakah yang diperlukan untuk mencapai tujuan akhir yang sesuai dengan konstitusi dasar Amerika?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pertanyaan itu tentunya kurang relevan untuk kita. Akan tetapi problematika yang muncul akibat fakta adanya kehidupan bersama antara orang-orang yang berasal dari kultur maupun agama yang berbeda jelas sangat relevan untuk &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt;. Dalam hal ini tentunya kita bisa banyak belajar dari pada peneliti dan ilmuwan yang sudah banyak melakukan analisis di bidang ini. Pelajaran yang ditarik bisa di level deskripsi data, tetapi juga lebih dari itu, yakni suatu konsep tentang masyarakat multikultural, seperti &lt;st2:country-region st="on"&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:place&gt;&lt;/st2:country-region&gt;, yang ideal. Pada bagian ini, saya akan mencoba untuk menelusuri beberapa pendapat &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;John&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Rex&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; mengenai problematika multikulturalisme di dalam masyarakat majemuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Multikulturalisme untuk Masyarakat Majemuk&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Mari&lt;/st1:givenname&gt; kita telusuri beberapa gagasan mengenai tata masyarakat di dalam konteks masyarakat majemuk. Teori sosiologi klasik biasanya selalu berfokus pada konflik-konflik sosial yang muncul di dalam masyarakat yang kurang lebih homogen. Pada 1939 &lt;st1:sn st="on"&gt;Furnivall&lt;/st1:sn&gt; membuat terobosan baru dengan mencoba memahami dinamika dan problematika masyarakat plural.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn16" name="_ftnref16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Kebetulan juga ia mencoba mempelajari dinamika masyarakat &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt; pada saat itu. Ia menemukan fakta menarik. &lt;st1:sn st="on"&gt;Di Indonesia&lt;/st1:sn&gt; banyak orang yang berasal dari beragam latar belakang suku dan agama hidup di dalam daerah yang sama. Akan tetapi interaksi sesungguhnya justru dilakukan di dalam pasar, dan bukan di tempat tinggal mereka. Artinya walaupun setiap orang hidup di dalam wilayah yang memiliki nilai moral dan agama yang berbeda-beda, tetapi mereka bisa bertemu di pasar. Pasar dianggap sebagai tempat yang tidak memiliki kontrol moral ataupun religius partikular. &lt;st1:sn st="on"&gt;Di Eropa&lt;/st1:sn&gt; kapitalisme berkembang sangatlah lambat, dan melibatkan interaksi yang luar biasa rumit dengan nilai-nilai moral di dalam budaya maupun agama. Hal ini tidaklah terjadi di &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt;. Perkembangan kapitalisme di &lt;st2:country-region st="on"&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:place&gt;&lt;/st2:country-region&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn17" name="_ftnref17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; selalu melibatkan pasar, di mana relasi yang terjadi adalah relasi dominasi antara kelompok yang satu atas kelompok yang lain.&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Suatu masyarakat disebut sebagai masyarakat majemuk, jika masyarakat tersebut memenuhi satu dari dua definisi berikut ini. Pertama, masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari komunitas etnik yang berbeda-beda. Komunitas etnik tersebut hidup terpisah-pisah, dan masing-masing memiliki moralitasnya sendiri. Yang kedua, masyarakat majemuk adalah masyarakat yang hidup di dalam satu komunitas yang sama, namun dipisahkan satu sama lain oleh pasar. Pada titik ini ada baiknya kita bertanya, apakah masyarakat majemuk semacam itu akan mendorong terciptanya semacam moralitas bersama untuk memampukan mereka hidup bersama secara harmonis, atau mereka justru akan menciptakan relasi dominatif antara kelompok yang kuat terhadap kelompok yang lemah, di mana justru relasi dominatif itu yang akan menjadi pengikat kehidupan bersama?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu sosiolog yang mencoba menganalisis hal ini adalah &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;M.G&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Smith&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn18" name="_ftnref18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Menurutnya suatu masyarakat yang homogen selalu memiliki seperangkat aturan sistem sosial yang uniter. Artinya masyarakat tersebut mempunyai seperangkat aturan yang mengatur kehidupan privat, religius, hukum, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Akan tetapi masyarakat majemuk tidaklah memiliki hal semacam itu. Masyarakat majemuk ditandai dengan beragamnya perangkat aturan nilai yang digunakan untuk menata kehidupan sosial manusia, dan masing-masing aturan nilai tersebut bersifat total hanya bagi orang-orang yang berada di dalam kultur ataupun agama tertentu. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam masyarakat semacam ini tidak ada sabuk pengikat kehidupan bersama. Bahkan menurut Smith, masyarakat majemuk justru diikat oleh adanya dominasi kelompok yang satu atas kelompok yang lain. Jadi elemen yang mengikat masyarakat majemuk untuk tetap eksis sebagai masyarakat justru adalah dominasi. Dalam konteks ini Smith menawarkan suatu model untuk menjelaskan terjadinya diskriminasi rasial di dalam masyarakat majemuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentu saja model ini bukanlah suatu model yang ideal bagi masyarakat multikultur. Untuk mencoba merumuskan model ideal bagi suatu masyarakat multikultur, kita pertama-tama perlu untuk membedakan wilayah privat dan wilayah publik dari kehidupan sosial. &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;menawarkan&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; tiga model dalam konteks ini. Pertama, kita dapat memikirkan sebuah masyarakat yang memiliki ruang publik yang tunggal, namun justru mendorong terciptanya perbedaan di dalam ruang privat. Kedua, kita dapat membayangkan sebuah model masyarakat, di mana masyarakat sekaligus mendorong kesatuan di dalam ruang publik maupun di dalam ruang privat. Kesatuan tersebut tentunya didasarkan pada seperangkat nilai-nilai moral yang disepakati bersama. Ketiga, suatu masyarakat juga dapat mendorong perbedaan dan mengakui pluralitas nilai sekaligus di ruang publik, dan di dalam ruang privat. Masyarakat multikultur yang ideal, menurut &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, adalah masyarakat yang memenuhi model pertama, di mana setiap orang dan setiap kelompok diberi kebebasan untuk mengekspresikan nilai-nilai maupun &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt;&lt;/span&gt; hidup mereka, namun tetap mengacu terus pada ruang publik bersama sebagai satu kesatuan. Model kedua adalah model yang dipakai oleh praktek-praktek kolonialisme, seperti pada sistem Apartheid di Afrika Selatan.&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya tertarik untuk membahas lebih jauh pandangan &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt; mengenai ruang privat dan ruang publik ini. Menurutnya refleksi tentang ruang publik dan ruang privat masihlah jarang ditemukan di dalam teori-teori sosiologi klasik. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt; pemikir klasik cenderung untuk memandang masyarakat sebagai kumpulan institusi yang saling terhubung, dan kemudian membentuk satu sistem tunggal. Pandangan semacam ini dengan mudah dapat ditemukan di dalam pemikrian Talcott Parsons,&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn19" name="_ftnref19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; serta para pemikir &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Strukturalis&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Perancis&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, seperti Althusser.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn20" name="_ftnref20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Mereka cenderung untuk berpendapat bahwa ruang publik dibentuk oleh semacam moralitas bersama, dan moralitas itu pula yang mengatur kehidupan ruang privat melalui institusi-institusi sosial, seperti institusi agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Institusi-institusi sosial yang ada sekarang sangatlah didasarkan pada paradigma fungsionalis semacam ini. Sistem ekonomi dan sistem hukum telah dilepaskan dari tata nilai tradisional, dan mengadopsi tata nilai yang sama sekali baru. Tentu saja nilai-nilai kultural dan nilai-nilai agama tradisional tidak otomatis sama sekali lenyap. Akan tetapi praktek-praktek yang didasarkan atas tata nilai tradisional tidak pernah boleh mencampuri kinerja sistem-sistem sosial yang ada, baik sistem politik, ekonomi, maupun hukum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Teori-teori sosiologi klasik cenderung untuk memfokuskan analisisnya pada sistem nilai yang berlaku di dalam sebuah masyarakat. Sistem nilai itulah yang menjadi aturan moral yang menata kehidupan masyarakat tersebut. &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Ferdinand&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;T&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;?nnies pernah menulis, bahwa suatu masyarakat harus mendasarkan kerja sama dan interaksinya pada suatu dasar yang bersifat historis.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn21" name="_ftnref21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Durkheim&lt;/st1:sn&gt; juga pernah menulis tentang “solidaritas organik” (organic solidarity) yang didasarkan pada pembagian kerja (division of labour). Solidaritas organik ini dibedakannya dari solidaritas mekanik pada masyarakat kecil yang didasarkan pada kekeluargaan (kinship).&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn22" name="_ftnref22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Solidaritas organik ini juga dibedakan dari logika yang menjalankan suatu masyarakat egoistik, di mana nilai-nilai yang menata kehidupan bersama terletak pada beberapa individual yang dominan saja. Beragam pandangan ini semakin dilengkapi oleh Weber, ketika ia menulis bahwa etika Protestan dan &lt;st1:givenname st="on"&gt;Calvin&lt;/st1:givenname&gt; mendorong terciptanya rasionalisasi di bidang agama. Dalam konteks ini, kehidupan bersama semakin didasarkan pada otoritas legal-rasional, dan bukan lagi pada otoritas religius-metafisis.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn23" name="_ftnref23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam arti ini proses perubahan sosial, pembentukan sistem negara modern, dan pembentukan sistem ekonomi kapitalis didorong oleh rasionalitas moral dan hukum di dalam masyarakat. Dengan inilah, menurut Parsons, problematika mengenai bagaimana terbentuknya tatanan masyarakat untuk mencegah ‘perang semua melawan semua’ dapat diselesaikan. Akan tetapi proses rasionalisasi bidang-bidang kehidupan ini tampaknya tidak berjalan secara universal. Seperti yang pernah dirumuskan oleh &lt;st1:sn st="on"&gt;Furnivall&lt;/st1:sn&gt;, proses terbentuknya sistem negara modern dan sistem ekonomi kapitalis berdasarkan kehendak bersama tidaklah terjadi &lt;st1:sn st="on"&gt;di Indonesia&lt;/st1:sn&gt;. &lt;st1:sn st="on"&gt;Di Indonesia&lt;/st1:sn&gt; proses rasionalisasi identik dengan proses kolonialisasi dan dominasi dunia kehidupan bangsa &lt;st2:country-region st="on"&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:place&gt;&lt;/st2:country-region&gt; oleh kekuatan-kekuatan asing dari Eropa. Tidak seperti di &lt;st2:country-region st="on"&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:place&gt;&lt;/st2:country-region&gt;, proses pembentukan sistem di Eropa berjalan paralel dengan proses perubahan kulturalnya, sehingga terjadi kesinambungan yang harmonis di antara keduanya.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn24" name="_ftnref24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt; sebagai kultur publik (public culture).&lt;/span&gt; Inilah yang disebut &lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kultur publik ini terlihat dengan jelas di dalam moralitas publik, hukum, dan agama yang didasarkan pada rasionalitas. Munculnya kultur publik ini juga menandakan berakhirnya kultur rakyat (folk culture) yang terwujud di dalam moralitas, hukum, dan agama rakyat. Hukum, politik, dan moralitas yang didasarkan pada rasionalitas ini kemudian memiliki fungsi sosial yang baru. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; satu sisi, elemen-elemen publik ini mengikat orang-orang yang berbeda untuk bisa hidup di dalam satu komunitas tertentu. Tidak hanya mengikat, elemen-elemen publik ini juga memberikan orang-orang tersebut identitas sosial yang solid. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; sisi lain, elemen publik ini juga memberikan apa yang Parsons sebut sebagai “pemeliharaan pola dan pengaturan tegangan” (pattern maintenance and tension management). Parsons juga lebih jauh berpendapat, bahwa kehidupan di dalam dunia yang rumit dan plural ini hanya mungkin, jika orang memiliki semacam ‘ruang tenang’ yang memungkinkan mereka untuk merasa nyaman. Ruang tenang inilah yang disebutnya sebagai ruang intim.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentu saja, pengandaian-pengandaian yang ada di dalam masyarakat multikultur itu hanya mungkin, jika masyarakat telah mengalami perubahan menjadi masyarakat bermentalitas modern. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam masyarakat yang masih sederhana, seluruh kehidupan masyarakat diatur oleh seperangkat aturan nilai tertentu. Hal yang sama kiranya berlaku di dalam masyarakat multikultur, walaupun dengan pola yang berbeda. Seperangkat nilai yang didasarkan pada moralitas bersama haruslah diterapkan untuk mengatur kehidupan sosial masyarakat dalam skala yang masif. Sementara, perangkat nilai yang sama haruslah juga memungkinkan individu-individu yang ada di masyarakat tersebut untuk memperoleh kenyamanan dan stabilitas eksistensial. Masyarakat multikultur haruslah memiliki perangkat nilai semacam itu. Dengan kata lain adalah suatu keharusan, bahwa perangkat nilai yang didasarkan pada moralitas bersama dapat mengatur kehidupan masyarakat, baik di dalam ruang publik maupun di dalam ruang privat. Tanpa perangkat nilai semacam itu, kehidupan bermasyarakat di dalam masyarakat multikultur tidak akan mungkin dapat terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;&lt;strong&gt;Institusionalisasi&lt;/strong&gt;&lt;/st1:givenname&gt;&lt;strong&gt;  &lt;st1:middlename st="on"&gt;Ruang&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Publik&lt;/st1:sn&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam masyarakat multikultur, menurut &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, ruang publik dan ruang privat seringkali bersinggungan. Ketika bersinggungan, tegangan dan konflik kepentingan pun tidak dapat dihindarkan. Bidang-bidang yang kiranya menandai persinggungan itu adalah bidang pendidikan dan bidang politik. Pendidikan dan pengaruh ideologi politik terasa dari ruang publik sampai ke dalam ruang privat. Ketika sudah terhubung di dalam ruang publik, pendidikan dan ideologi politik pun kini juga berurusan dengan hukum dan ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hukum menentukan bagaimana orang, baik secara individual dan komunal, dapat hidup bersama dan terintegrasi secara positif ke dalam masyarakat. Inilah yang kiranya menandai ciri dari masyarakat modern, bahwa orang-orang yang berasal latar belakang berbeda dapat terintegrasi secara positif ke dalam masyarakat. “&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam masyarakat multikultur yang ideal”, demikian tulis &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;John&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Rex&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, “bagaimanapun juga, kita mengandaikan bahwa semua individu secara setara terintegrasi dan dan bahwa mereka memiliki kesetaraan di hadapan hukum.”&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn25" name="_ftnref25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; Ideal semacam ini tidak akan pernah tercapai ke dalam realitas, jika banyak orang masih mengalami diskriminasi di hadapan hukum, atau hak-haknya sebagai warga negara tidak lagi diakui sepenuhnya.&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam konteks politik misalnya, kelompok-kelompok yang berbeda di dalam masyarakat multikultur seringkali juga memiliki kekuatan politis yang berbeda-beda pula. Ini tentu saja bukanlah suatu kondisi yang ideal. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam masyarakat multikultur yang ideal, kelompok-kelompok sosial yang berbeda haruslah memiliki kekuatan politik yang setara. Kesetaraan ini dapat dirasakan dalam bentuk partisipasi yang setara di dalam kehidupan-kehidupan publik, maupun di dalam proses-proses pembuatan keputusan yang terkait dengan kehidupan bersama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu bidang yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bersama adalah bidang ekonomi. Artinya, bidang ekonomi haruslah memiliki seperangkat aturan moral yang memungkinkan bidang tersebut bisa ditata demi kepentingan publik. Bidang ekonomi haruslah mengalami proses institusionalisasi. Proses ini melibatkan proses tukar menukar dan kompetisi antara penjual dengan penjual, ataupun pembeli dengan pembeli. Proses tukar menukar dan kompetisi ini haruslah dibebaskan dari penggunaan kekerasan ataupun pemaksaan. Moralitas yang berlaku di dalam bidang ekonomi adalah moralitas pertukaran yang damai (peaceful bargaining). Upaya untuk mempertahankan proses pertukaran yang adil dan harmonis sangatlah menentukan tingkat keberadaban suatu masyarakat multikultur.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn26" name="_ftnref26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan tetapi, walaupun masyarakat multikultur telah memiliki seperangkat tata nilai yang dianggap sebagai moralitas bersama, hal ini sama sekali tidak menjamin bahwa masyarakat tersebut akan selalu hidup dalam keadaan damai. Seringkali, upaya-upaya untuk mewujudkan tujuan-tujuan politis menghasilkan konflik politik yang lebih besar intensitasnya. Upaya-upaya politis tersebut tidak pernah boleh menyangkal hak-hak individual seorang pun, terutama atas dasar alasan-alasan perbedaan etnis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian, proses pembentukan hukum, politik, dan ekonomi merupakan suatu proses institusionalisasi ruang publik. Proses institusionalisasi tersebut haruslah didasarkan pada nilai-nilai moral yang telah disepakati bersama. Nilai-nilai moral yang sama jugalah yang dapat digunakan untuk menata kehidupan privat yang berkaitan dengan moralitas dan agama. Akan tetapi, terutama pada praktek politik welfare state, ruangp publik, dengan menggunakan kekuasaan birokratis politiknya, bisa memaksakan otoritasnya juga pada persoalan-persoalan agama maupun moralitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam batas tertentu, ekspansi kekuasaan birokrasi negara ini memiliki dampak negatif. Negara, misalnya, memiliki kekuatan untuk melakukan intervensi ke dalam ekonomi melalui mekanisme kontrol kepemilikan, dan campur tangan melalui subsidi maupun peraturan hukum. Lebih dari itu, negara juga memiliki otoritas untuk ikut campur tangan dalam soal-soal moralitas privat maupun keluarga. Mekanisme intervensi ini tentu saja juga mempunyai dampak positif, yakni memungkinkan terjadinya pembagian kekayaan yang merata. Negara juga memiliki otoritas untuk menjamin berfungsinya serikat buruh, sekaligus memastikan bahwa setiap orang, apapun sukunya, memiliki pekerjaan yang layak.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn27" name="_ftnref27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Dengan otoritas politiknya, negara juga bisa menjamin bahwa setiap orang yang tidak memiliki pekerjaan memperoleh pendapatan secukupnya. Negara juga bisa membentuk suatu instansi pemerintahan yang memperhatikan problem-problem di dalam keluarga maupun problem individual. Semua ini tentunya membutuhkan pelampauan batas antara ruang publik maupun ruang privat. Dalam arti ini, negara wajib untuk melampaui batas ruang publik dan ruang privat, dan menjamin bahwa kepentingan yang lebih besar dan lebih universal dapat tercapai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam bukunya, T. Marshall pernah berpendapat bahwa di dalam masyarakat multikultur, negara tidak hanya memenuhi hak-hak politik maupun hak-hak legal rakyatnya, tetapi juga hak-hak sosial maupun kultural warganya. Harapannya adalah, dengan diperhatikan hak-hak sosial maupun kulturalnya, warga bisa memahami bahwa kepentingan bersama lebih penting dari sekedar kepentingan kelas sosial semata. Dengan kata lain, rakyat jadi memiliki loyalitas yang otentik pada negaranya, dan bukan hanya pada kelas sosialnya semata. &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;menulis&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; begini, “banyak dari perasaan identifikasi yang dimiliki individu dulunya hanya pada ruang privat, kini ditransfer ke level negara.”&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn28" name="_ftnref28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Setiap orang menghargai dan menghormati kepentingan partikular kelas sosialnya, tetapi lebih dari itu, setiap orang lebih menghargai dan menghormati kepentingan negaranya yang melingkupi kelas sosial yang lebih luas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memang, yang terjadi disini adalah seolah peran keluarga kini telah digantikan oleh negara. Akan tetapi, tidak ada yang salah dengan hal ini, terutama ketika justru negara dapat menjalankan fungsi sosialisasi dan penanaman nilai-nilai secara lebih efektif daripada keluarga. Pada titik inilah ruang publik dan ruang privat menyatu. Namun, ketika negara dengan otoritas politiknya mulai mencampuri urusan pendidikan, ada beberapa masalah baru muncul.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan, Ruang Publik, dan Ruang Privat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam masyarakat modern, pendidikan setidaknya memiliki tiga fungsi. Pertama, pendidikan berfungsi untuk memilih individu-individu sesuai dengan kriteria keahlian mereka, untuk kemudian mempersiapkan mereka menempati peran-peran tertentu di dalam masyarakat. Peran-peran sosial tersebut tentunya sesuai dengan apa yang menjadi keahlian mereka. Kedua, pendidikan juga mengajarkan kemampuan-kemampuan praktis yang dibutuhkan oleh setiap orang untuk mempertahankan hidupnya, seperti untuk bekerja di bidang industri, ekonomi, ataupun bidang-bidang lainnya. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st1:givenname&gt; ketiga, pendidikan berfungsi untuk mengajarkan nilai-nilai moral. Fungsi terakhir inilah yang seringkali mengalami konflik dengan kepentingan privat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memang adalah wajar, jika pemerintah ikut campur dalam soal pendidikan. Yang terpenting adalah, proses pendidikan ini tidak bersifat eksklusif. Sejauh pengajaran nilai-nilai moral tersebut terkait dengan moralitas kehidupan bernegara, maka sebenarnya campur tangan pemerintah di dalam pendidikan dapatlah dibenarkan. Akan tetapi, setiap kultur di dalam masyarakat memiliki nilai-nilai partikularnya sendiri yang dijunjung tinggi. Masalah muncul, ketika nilai-nilai partikular tersebut bertentangan dengan moralitas kehidupan bernegara yang diajarkan secara umum oleh pemerintah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Konflik semacam ini banyak terjadi &lt;st1:sn st="on"&gt;di  Inggris&lt;/st1:sn&gt;. Orang-orang &lt;st2:place st="on"&gt;Asia&lt;/st2:place&gt; yang tinggal di Inggris seringkali sudah merencanakan pernikahan anak-anak mereka, ketika anak-anak mereka masih dalam usia muda. Dalam beberapa kesempatan, sekolah seirng mengadakan kegiatan berenang bersama, dan kegiatan ini seringkali bertentangan dengan nilai-nilai &lt;st2:place st="on"&gt;Asia&lt;/st2:place&gt; yang tidak memperbolehkan wanita yang sudah menikah memakai pakaian renang di hadapan orang yang bukan suaminya. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt; pemikir dan aktivis feminisme juga memberikan tanggapan kritis mengenai praktek ini. Mereka berpendapat bahwa pernikahan haruslah muncul dari keinginan individual, dan bukan karena kehendak orang tua. Praktek semacam ini dianggap sebagai praktek yang menindas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tentu saja, pandangan itu tidaklah disetujui oleh keluarga yang masih meyakini nilai-nilai ketimuran tertentu. Perjodohan, menurut mereka, adalah tanda kepedulian orang tua pada anak perempuannya, yakni bahwa anak perempuannya sudah ada yang menjaga dan mengusahakan kebahagiaannya. Kemungkinan untuk memperoleh calon suami yang baik juga jauh lebih besar di dalam proses perjodohan, daripada jika hanya mengandalkan pencarian yang acak dan romantis, seperti yang kiranya menjadi cita-cita banyak gadis Eropa. Benturan budaya juga terjadi, ketika kultur Eropa yang sangat terbuka pada seksualitas berhadapan dengan kultur ketimuran tertentu yang masih menempatkan seks sebagai persoalan privat semata. &lt;st2:place st="on"&gt;Para&lt;/st2:place&gt;&lt;/span&gt; feminis, dalam hal ini, menuntut diperbesarnya kebebasan kaum perempuan untuk mengekspresikan seksualitas mereka. Akan tetapi, hal ini secara langsung bertentangan dengan nilai-nilai ketimuran.&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Data tentang terjadinya benturan-benturan nilai semacam itu bisa diperpanjang lagi. Yang penting untuk diketahui adalah bahwa benturan itu terjadi, dan frekuensinya semakin sering sekarang ini. Sebuah masyarakat yang ingin memberi tempat bagi keberagaman kultural sekaligus tetap hendak menjamin kesetaraan kesempatan bagi semua pihak, haruslah berhadapan dengan benturan-benturan nilai semacam ini. Juga diperlukan kesadaran, bahwa pemerintah tetap dapat menjamin kesetaraan partisipasi sosial semua pihak sekaligus tetap memberikan ruang bagi pluralitas kultural anggota masyarakatnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti sudah dilihat sebelumnya, pendidikan merupakan bidang yang kental dengan benturan nilai semacam ini. Banyak kultur yang merasa, bahwa sistem pendidikan yang dilangsungkan oleh pemerintah tidaklah menampung nilai-nilai kultural mereka. Oleh sebab itu, mereka kemudian menuntut untuk diberikannya kesempatan mendirikan sekolah yang mengajarkan secara langsung nilai-nilai kultural mereka. Hal ini banyak terjadi, baik &lt;st1:sn st="on"&gt;di  Eropa&lt;/st1:sn&gt;, Amerika, maupun &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt;, dan belum ada kebijakan yang jelas tentang hal ini. Banyak orang-orang yang berasal dari kultur minoritas lalu memutuskan untuk menanamkan nilai-nilai kultural mereka di luar jam sekolah. Hal yang sebenarnya ingin saya tekankan disini adalah, bahwa walaupun kultur minoritas haruslah belajar dari kultur mayoritas, tetapi kultur mayoritas tetap juga harus belajar dari kultur minoritas. Proses ini tentunya akan mendorong terciptanya penghormatan terhadap kesetaraan kultur di dalam masyarakat majemuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Persoalan tentang bahasa juga menimbulkan banyak dilema. Bagi kelompok minoritas kultural, pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan bahasa kultur mereka sudah sejak dahulu dianggap sebagai sesuatu yang penting. Hal ini tentunya haruslah mendapatkan akomodasi lebih jauh. &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Menurut&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;John&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Rex&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, adopsi penggunaan bahasa kultur minoritas justru dapat mendorong terjadinya asimilasi yang positif di dalam masyarakat majemuk. Pengakuan terhadap keberadaan bahasa kultur minoritas justru dapat mendorong terciptanya kesetaraan sosial di dalam masyarakat multikultur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang ingin ditekankan disini adalah, bahwa tegangan internal di dalam sistem pendidikan haruslah diakui keberadaanya terlebih dahulu, termasuk tegangan antara kepentingan privat dan kepentingan publik di dalam sistem pendidikan. Sekolah, sebagai agen pendidikan, haruslah mengajarkan ketrampilan dan moralitas publik kepada warga negara. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st1:givenname&gt;&lt;/span&gt; lebih dari itu, komunitas sebagai keseluruhan haruslah berpartisipasi di dalam proses pendidikan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan bahasa, agama, dan moral-moral privat. Hanya dengan begitulah masyarakat multikultur yang harmonis dapat terwujud.&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Memang, persoalan pendidikan di dalam masyarakat multikultur selalu berkisar di dalam perdebatan ini, apakah pendidikan harus mengacu pada kepentingan untuk mempertahankan kultur minoritas tertentu, atau untuk mengabdi pada kepentingan publik luas secara keseluruhan? Jika pendidikan terlalu mengabdi pada kepentingan publik yang lebih luas, maka identitas kultural akan terancam musnah. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st1:givenname&gt; sebaliknya, jika pendidikan terlalu berfokus pada nilai-nilai kultural yang bersifat partikular, maka nilai-nilai publik yang lebih luas juga dapat terancam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Persoalan diperumit dengan problematika kebijakan yang terkait dengan kesejahteraan sosial seluruh warga negara. Banyak ahli berpendapat, bahwa kebijakan yang terkait dengan kesejahteraan sosial warga negara haruslah sensitif terhadap perbedaan kultur dan kepercayaan. Jadi diperlukan adanya kesadaran multikulturalisme di dalam kebijakan-kebijakan politik yang terkait dengan kesejahteraan sosial. Penerapan kesadaran semacam ini memang sangatlah sulit. Yang seringkali terjadi bukanlah para pemegang kebijakan publik memiliki kesadaran akan pentingnya penghargaan terhadap kultur minoritas, melainkan orang-orang yang berasal dari kultur minoritas dipaksa menyesuaikan diri dengan keinginan dan kultur para pemegang kebijakan publik. Dilihat secara khusus ataupun secara umum, persoalan pendidikan di dalam masyarakat multikultur masihlah merupakan problematika yang terbuka, dan menuntut refleksi lebih jauh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;&lt;strong&gt;Struktur&lt;/strong&gt;&lt;/st1:givenname&gt;&lt;strong&gt;  &lt;st1:middlename st="on"&gt;Dasar&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;Ruang&lt;/st1:middlename&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Privat&lt;/st1:sn&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt; dalam masyarakat multikultur, anggota masyarakat yang mayoritas memandang keluarga dan komunitas mereka sebagai bagian integral dari keseluruhan masyarakat. Anggota masyarakat ini berfungsi secara maksimal di dalam dinamika sistem sosial yang ada. Sementara itu, anggota masyarakat yang berasal dari kultur minoritas mengalami nasib yang sama sekali berbeda. Bagi mereka, keluarga dan komunitas mereka merupakan bagian dari sistem sosial yang lain; yang berbeda. Mereka seolah berasal dari kebudayaan yang sama sekali berbeda dari kebudayaan yang dominan di dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Juga di dalam masyarakat multikultur, orang-orang yang berasal dari kultur dominan hidup harmonis sebagai bagian dari sistem sosial secara keseluruhan. Proses pendidikan di dalam keluarga pun relatif tidak bermasalah, karena nilai-nilai pendidikan di dalam keluarga searah dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat. Akan tetapi, hal yang sama kiranya tidak berlaku bagi orang-orang yang berasal dari kultur minoritas. Mereka harus menyeimbangkan antara pendidikan nilai-nilai kultural mereka yang khas di satu sisi, dan pendidikan berkaitan dengan nilai-nilai publik yang lebih luas di sisi lain. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st1:givenname&gt; bagi orang-orang yang berasal dari kultur minoritas, pernikahan tidak pernah bisa menjadi melulu soal individu. Pernikahan, bagi mereka, adalah soal pertukaran nilai antara satu kultur dengan kultur lainnya. Pernikahan adalah suatu proses asimilasi budaya yang tentunya menuntut banyak pertimbangan dari berbagai dimensi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pernikahan adalah salah satu &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; yang paling efektif untuk melakukan proses asimilasi budaya. Proses ini membuat orang tidak lagi bersandar melulu pada nilai kultural mereka yang spesifik, tetapi juga mampu melihat realitas dari sudut pandang kultur yang berbeda. &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;berpendapat&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, bahwa proses asimilasi setidaknya memiliki empat akibat.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn29" name="_ftnref29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;Pertama,&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt; proses asimilasi juga memungkinkan diselesaikannya berbagai dilema moral ataupun sosial, yang muncul akibat dari benturan budaya di dalam masyarakat multikultur. &lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, proses asimilasi juga memungkinkan kultur yang bersangkutan untuk menyampaikan kepentingan-kepentingan mereka dengan menggunakan ‘bahasa-bahasa’ yang bisa dimengerti secara publik, tepat karena interaksi di antara kultur yang berbeda tersebut telah terjadi sebelumnya. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st1:givenname&gt; &lt;i&gt;keempat,&lt;/i&gt; proses asimilasi juga memungkinkan terciptanya nilai-nilai dan identitas baru, yang didasarkan pada interseksi berbagai nilai kultural yang beragam di dalam masyarakat multikultur.&lt;/span&gt; proses asimilasi dapat menolong suatu kultur untuk mampu melepaskan diri dari isolasi sosial yang mungkin saja mereka alami. &lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nilai dan aturan moral, yang merupakan hasil dari proses interseksi berbagai kultur yang beragam tersebut, nantinya akan menjadi sistem nilai yang bersifat otonom yang mampu menjelaskan pola ideal hubungan antar manusia, maupun hubungan dasar antara manusia dengan alam. Tentu saja, nilai hasil proses interseksi berbagai kultur tersebut tidaklah dapat menggantikan seluruhnya peran yang tadinya dimiliki oleh identitas kultural. Sebut saja bahwa, nilai-nilai masyarakat modern tidak akan pernah sepenuhnya dapat menggantikan nilai-nilai tradisional yang telah diyakini sebelumnya. Akan tetapi, nilai-nilai modern hasil interseksi beragam kultur tersebut tetap mampu berperan di dalam menciptakan solidaritas bagi masyarakat sebagai keseluruhan, maupun kenyamanan eksistensial bagi individu yang terkait. Dua hal yang kiranya menjadi kebutuhan utama dari sebuah masyarakat multikultur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nilai-nilai modern itulah yang, menurut Parsons, akan menjadi alat untuk mempertahankan pola-pola berlaku di masyarakat, dan mengatur tegangan-tegangan sosial yang muncul akibat benturan antar kultur.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn30" name="_ftnref30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Nilai-nilai tersebut memberikan identitas bagi individu-individu di dalam masyarakat multikultur, sekaligus membantu mereka untuk mengatasi berbagai problematika yang muncul, baik dalam konteks moral maupun material. Jika semua anggota masyarakat sudah menjalankan nilai-nilai tersebut ke dalam praktek sosial, maka nilai-nilai modern akan menjadi bagian integral dari masyarakat secara keseluruhan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi tetaplah harus disadari, keberadaan kultur minoritas tidak pernah dapat dipandang sebagai ancaman bagi kesatuan sebuah masyarakat. Keberadaan kultur minoritas, menurut &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, juga tidak pernah dapat dianggap sebagai suatu celah bagi terjadinya ketidaksetaraan kultural.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn31" name="_ftnref31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Masyarakat multikultur haruslah menerima perbedaan kultural yang ada di dalamnya, sekaligus menjamin terciptanya kesempatan yang sama bagi setiap warganya. Jika yang pertama terlalu ditekankan, maka yang terjadi adalah ketidaksetaraan kultural yang akan bermuara pada kesenjangan ekonomi, sosial, maupun politik. Sementara, penekanan berlebihan pada aspek kedua justru akan menciptakan suatu bentuk pemerintahan totaliter baru yang tertutup pada semua bentuk perbedaan. Keduanya tidaklah boleh terjadi di dalam masyarakat multikultur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Haruslah diakui, bahwa kultur minoritas memiliki &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; hidup dan &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; memandang dunia yang berbeda, jika dibandingkan dengan kultur dominan. Bagi beberapa orang, ide-ide yang muncul dari kultur minoritas terdengar revolusioner. Sementara, bagi beberapa orang lainnya, &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; hidup kultur minoritas seolah terlihat sangat asing. Apakah ini berarti bahwa kultur minoritas itu berbahaya, dan harus ditekan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;John&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Rex&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, berpendapat bahwa keberadaan kultur minoritas tidak bisa dicap sebagai suatu bahaya ataupun ancaman tertentu.&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftn32" name="_ftnref32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Hal ini berangkat dari suatu fakta sederhana, bahwa tidak ada satupun kultur di muka bumi ini yang sepenuhnya homogen. Kultur, dalam arti Marxian, selalu bisa ditafsirkan sebagai suatu bentuk perjuangan kelas (class struggle). Kelas pekerja telah membentuk semacam organisasi bersama yang berbasiskan pada solidaritas sosial untuk kemudian menantang tatanan sosial yang sudah mapan, sekaligus mempertanyakan otoritas kultur dominan yang sudah lama memerintah sebelumnya. Tentu saja, konflik tidak terelakkan. Akan tetapi, konflik disini adalah suatu proses yang harus ditempuh untuk merumuskan suatu bentuk identitas kultural yang baru. Tatanan sosial multikultural yang ada sekarang sebenarnya juga bisa dilihat dengan menggunakan kerangka teoritis ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semua bentuk kultur bisa hidup bersama di dalam masyarakat multikultur. Hanya kultur yang menolak kesetaraan kesempatan dari individu ataupun kelompoklah yang tidak bisa menjadi bagian dari masyarakat multikultur. Masyarakat multikultur sekaligus juga adalah, dalam bahasa &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, masyarakat yang menolak semua bentuk rasisme dan diskriminasi di dalam segala bentuknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;, di dalam masyarakat multikultur, kita harus membedakan secara jelas antara ruang publik dan ruang privat. &lt;i&gt;Ruang publik&lt;/i&gt; adalah ruang, di mana setiap individu diikat oleh satu set &lt;st1:givenname st="on"&gt;norma-norma&lt;/st1:givenname&gt; yang menjamin kesetaraan kesempatan di dalam segala bidang. Sementara, &lt;i&gt;ruang privat&lt;/i&gt; adalah ruang, di mana setiap keragaman kultur diberi tempat, dan diberi pengakuan sepenuhnya. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;, ruang publik mencakup dunia hukum, politik, dan ekonomi. Ruang publik mencakup pula pendidikan, sejauh pendidikan terkait dengan pembentukan moralitas publik yang harus dimiliki oleh semua warga negara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Ketiga&lt;/i&gt;, pendidikan moral, terutama yang terkait dengan sosialisasi dan penanaman ajaran-ajaran religius, haruslah tetap berada di dalam ruang privat. &lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;, keberadaan nilai-nilai kultur minoritas tetaplah harus dipertahankan, karena nilai-nilai tersebutlah yang memberikan makna dan identitas bagi setiap orang yang hidup di dalam kelompok tersebut. Nilai-nilai tersebut mencakup mulai dari tata organisasi sosial yang ada di masyarakat, sampai keyakinan religius yang menjadi ciri unik dari kelompok kultur minoritas yang ada. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st1:givenname&gt; kelima, konflik dan benturan budaya antara kultur minoritas dan kultur dominan tidaklah terelakkan. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st1:givenname&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; yang mungkin, supaya masyarakat yang terdiri dari beragam kultur bisa hidup secara harmonis bersama.&lt;/span&gt; dalam masyarakat multikultur, benturan tersebut haruslah dimaknai sebagai bagian dari dialog, dan dialog adalah satu-satunya &lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apakah &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st2:country-region&gt;&lt;/st2:place&gt; sudah siap mewujudkan masyarakat semacam itu? Saya rasa tidak. &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Kehidupan&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;di   Indonesia&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; sekarang ini hampir sama sekali tidak memberikan peluang bagi kelompok minoritas untuk berkembang. Bahkan bisa dikatakan, bahwa masyarakat kita masihlah jatuh pada apa yang disebut &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt; sebagai masyarakat totaliter yang menolak hampir semua bentuk perbedaan &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; hidup, &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; pandang, dan &lt;st1:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st1:givenname&gt; beragama. Cita-cita tentang kehidupan masyarakat multikultur yang harmonis masih jauh dari jangkauan tangan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR&lt;/b&gt;&lt;/st1:givenname&gt;&lt;b&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;PUSTAKA&lt;/st1:sn&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style=""&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Al Qur’an al Karim&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ahmed, Akbar S, Living Islam,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand hingga Stornoway&lt;/i&gt;, Bandung, Mizan, 1977,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Bhikhu&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Parekh&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, &lt;i&gt;Politics, Religion &amp;amp; Free Speech in Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory &lt;/i&gt;(&lt;st2:city st="on"&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;Cambridge&lt;/st2:place&gt;&lt;/st2:city&gt;, Massachutts: Harvard University Press, 2002) hal. 304&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Charles Kurzman (Ed.), &lt;i&gt;Agama dan kebebasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dalam&lt;i&gt; Wacana Islam Liberal, Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-isu Global&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jakarta; Paramadinal, 2001, hal 88.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;E &lt;st1:sn st="on"&gt;Durkheim&lt;/st1:sn&gt;, &lt;i&gt;The Division of Labour in Society&lt;/i&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:state st="on"&gt;Illinois&lt;/st2:state&gt;&lt;/st2:place&gt;, Free Press, 1933.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 42.55pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;F.&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Tinnies&lt;/st1:sn&gt;, &lt;i&gt;Community and Association&lt;/i&gt;, &lt;st2:city st="on"&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;London&lt;/st2:place&gt;&lt;/st2:city&gt;, Routledge and &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Kegan&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Paul&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, 1963, dalam &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, 1997.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;Furnivall&lt;/st2:city&gt;,&lt;/i&gt; &lt;st2:country-region st="on"&gt;Netherlands&lt;/st2:country-region&gt; &lt;st2:country-region st="on"&gt;India&lt;/st2:country-region&gt;, &lt;st2:city st="on"&gt;Cambridge&lt;/st2:city&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:placename st="on"&gt;Cambridge&lt;/st2:placename&gt; &lt;st2:placetype st="on"&gt;University&lt;/st2:placetype&gt;&lt;/st2:place&gt; Press, 1939.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Gunnar&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Myrdal&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, &lt;i&gt;The American Dilemma: The Negro Problem and Modern Democracy,&lt;/i&gt; &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:state st="on"&gt;New York&lt;/st2:state&gt;&lt;/st2:place&gt;, Harper &amp;amp; Row, 1944, seperti dalam &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, ibid, hal. 205.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;John Rex, &lt;/span&gt;“Multicultural and Plural Societies”,&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt; dalam &lt;/span&gt;The Ethnicity Reader&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;, Montserrat Guibernau dan John Rex (eds), Great Britain, Polity Press, 1997.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Louis&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Althusser&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, For &lt;st1:sn st="on"&gt;Marx&lt;/st1:sn&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;London&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Lane&lt;/st1:givenname&gt;, 1969.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Max&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Weber&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, &lt;i&gt;The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism&lt;/i&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;London&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Allen&lt;/st1:givenname&gt; an Unwin, 1930.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Smith, &lt;i&gt;The Plural Society in the British West Indies&lt;/i&gt;, &lt;st2:city st="on"&gt;&lt;st1:sn st="on"&gt;Berkeley&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:city&gt; and &lt;st2:city st="on"&gt;Los Angeles&lt;/st2:city&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:placetype st="on"&gt;University&lt;/st2:placetype&gt; of &lt;st2:placename st="on"&gt;California&lt;/st2:placename&gt;&lt;/st2:place&gt; Press, 1965.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="margin-left: 45pt; text-indent: -42.55pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Talcott Parsons, &lt;i&gt;The Social Systems&lt;/i&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;London&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, Tavistock, 1952.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;   &lt;hr style="height: 3px;font-size:78%;" align="right"  width="33%"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalijaga Yogyakarta, Program Studi Agama dan Filsafat, Konsentrasi Studi Agama dan &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Resolusi&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Konflik&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;. Penyuluh Agama Islam Fungsional Kandepag Kulon Progo &lt;st1:sn st="on"&gt;DI Yogyakarta&lt;/st1:sn&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Renessaince pada abad ke-15 dan ke-16 dimulai dengan perhatian baru terhadap seni &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Yunani&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;di Italia&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, khususnya setelah munculnya teknologi percetakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn3"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref3" name="_ftn3" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Inkuisisi bertentangan dengan &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Al&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Qur'an&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, yang menyatakan: &lt;i&gt;"Wahai orang-orang yang beriman! Hindarilah kebanyakan prasangka, sebagian prasangka adalah dosa. Maka, janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah kamu menggunjing sebagian yang lain." (QS.49:12)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn4"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref4" name="_ftn4" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Charles Kurzman (Ed.), &lt;i&gt;Agama dan kebebasan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dalam&lt;i&gt; Wacana Islam Liberal, Pemikiran Islam Kontemporer Tentang Isu-isu Global&lt;/i&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jakarta; Paramadinal, 2001, hal 88.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn5"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref5" name="_ftn5" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;, 89.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn6"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref6" name="_ftn6" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; QS.39:17-18&lt;i&gt;:”Berikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, Yaitu orang-orang yang mendengarkan Kalam dan mengikuti yang terbaik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Allah, dan mereka itulah orang-orang yang bijaksana.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn7"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref7" name="_ftn7" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Charles&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Kurzman&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; (Ed.), &lt;i&gt;Ibid.,&lt;/i&gt; 93.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn8"&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref8" name="_ftn8" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;&lt;i&gt;Salaman&lt;/i&gt;&lt;/st1:givenname&gt;&lt;i&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Rushdie&lt;/st1:sn&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st2:personname&gt; adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pengarang" title="Pengarang"&gt;pengarang&lt;/a&gt; sejumlah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buku" title="Buku"&gt;buku&lt;/a&gt;. Rushdie dilahirkan di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/India" title="India"&gt;India&lt;/a&gt; pada 19 Juni&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1947" title="1947"&gt;1947&lt;/a&gt;, namun tinggal di dan berkebangsaan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris" title="Inggris"&gt;Inggris&lt;/a&gt;. Ia merupakan seorang pengarang penting di akhir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Abad_XX&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Abad XX (belum dibuat)"&gt;abad ke-20&lt;/a&gt; yang terkenal karena campuran unik antara sejarah dan realisme magis dalam karyanya. Sebanyak 13 buku karangannya telah memenangi sejumlah penghargaan, termasuk Booker Prize untuk &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Midnight%27s_Children&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Midnight's Children (belum dibuat)"&gt;Midnight's Children&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; pada 1981 dan Booker of Bookers untuk novelnya pada tahun 1993. Ia bersembunyi setelah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ayatollah_Khomeini" title="Ayatollah Khomeini"&gt;Ayatollah Khomeini&lt;/a&gt; (pemimpin Iran) mengeluarkan fatwa pada tahun 1989 yang memerintahkan kaum &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muslim" title="Muslim"&gt;Muslim&lt;/a&gt; untuk membunuhnya karena dianggap menghina &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam" title="Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; atas bukunya yang berjudul &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/The_Satanic_Verses" title="The Satanic Verses"&gt;The Satanic Verses&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Ia menulis buku pada 1988, berjudul &lt;i&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Satanic_Verses&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Satanic Verses (belum dibuat)"&gt;Satanic Verses&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Buku ini memasukkan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan" title="Tuhan"&gt;Tuhan&lt;/a&gt; dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Islam" title="Islam"&gt;Islam&lt;/a&gt; (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Allah" title="Allah"&gt;Allah&lt;/a&gt;) sebagai tokoh. Banyak &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Negara" title="Negara"&gt;negara&lt;/a&gt; melarang buku ini. Mereka menemukan buku ini menyerang Islam, dan melarang sejumlah toko buku menjualnya.&lt;sup&gt;[&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Mengutip_sumber" title="Wikipedia:Mengutip sumber"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="vertical-align: baseline;"&gt;rujukan?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;] &lt;/sup&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pemimpin_Agung_Iran&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pemimpin Agung Iran (belum dibuat)"&gt;Pemimpin Agung Iran&lt;/a&gt; saat itu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ayatollah_Khomeini" title="Ayatollah Khomeini"&gt;Ayatollah Khomeini&lt;/a&gt; berpidato di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Radio" title="Radio"&gt;radio&lt;/a&gt; tentang Rushdie. Ia berkata bahwa Rushdie telah keluar dari Islam (murtadin). Rushdie dan sang penerbit buku diberi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Fatwa" title="Fatwa"&gt;fatwa&lt;/a&gt; mati. Pada 1989, pemerintah Inggris mulai melindungi Rushdie, bahkan tanggal 7 Maret 1989 Iran memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Inggris karena masalah ini. Pada 1990, Rushdie menulis &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Esai" title="Esai"&gt;esai&lt;/a&gt;, mencoba membuktikan ia masih beriman pada Islam. Istri pertamanya adalah &lt;st1:givenname st="on"&gt;Clarissa&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Luard&lt;/st1:sn&gt;, dengan masa pernikahan 1976-1987 dan lahir seorang anak bernama &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Zafar&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Rushdie&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;. Istri keduanya adalah seorang novelis Amerika bernama &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Marianne_Wiggins&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Marianne Wiggins (belum dibuat)"&gt;Marianne Wiggins&lt;/a&gt;, yang menikah pada 1988 dan cerai pada 1993. Istri ketiganya adalah &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Elizabeth&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;West&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; (1997-2004) dengan seorang anak bernama Milan Rushdie. Sejak 2004, ia menikahi aktris dan model India &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Padma_Lakshmi&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Padma Lakshmi (belum dibuat)"&gt;Padma Lakshmi&lt;/a&gt; dan kemudian bercerai pada pertengahan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2007" title="2007"&gt;2007&lt;/a&gt;. Pada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/16_Juni" title="16 Juni"&gt;16 Juni&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/2007" title="2007"&gt;2007&lt;/a&gt;, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Salman&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Rushdie&lt;/st1:sn&gt; memperoleh anugerah gelar kebangsawanan dari &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Ratu&lt;/st1:givenname&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Elizabeth_II" title="Elizabeth II"&gt;Elizabeth  II&lt;/a&gt;. Bersama seorang wartawan CNN dan agen ganda KGB, ia menerima gelar  ksatria yang menandai perayaan ulang tahun &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Ratu&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Elizabeth&lt;/st1:sn&gt; &lt;st1:namesuffix st="on"&gt;II&lt;/st1:namesuffix&gt;&lt;/st2:personname&gt;. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Iran" title="Iran"&gt;Iran&lt;/a&gt; mengecam  keputusan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Inggris" title="Inggris"&gt;Inggris&lt;/a&gt;  untuk menganugerahi gelar ksatria kepadanya dan mengatakan penganugerahan itu  menghina dunia Islam. Penganugerahan gelar keksatriaan (&lt;i&gt;knighthhood&lt;/i&gt;)  telah memicu pertengkaran diplomatik dengan sejumlah negara. &lt;st1:givenname st="on"&gt;Menurut&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;kantor&lt;/st1:sn&gt; berita  IRNA, &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Kementrian&lt;/st1:givenname&gt;   &lt;st1:middlename st="on"&gt;Luar&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Negeri&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;  &lt;st2:country-region st="on"&gt;Iran&lt;/st2:country-region&gt; memanggil &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Duta_Besar_Inggris_untuk_Iran&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Duta Besar Inggris untuk Iran (belum dibuat)"&gt;Duta Besar&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Geoffrey_Adams&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Geoffrey Adams (belum dibuat)"&gt;Geoffrey Adams&lt;/a&gt; dan menyatakan bahwa  keputusan pemberian gelar merupakan "langkah provokatif" yang  membuat berang kaum Muslim. &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pakistan" title="Pakistan"&gt;Pakistan&lt;/a&gt; juga memanggil &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Komisioner_Tinggi_Inggris&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Komisioner Tinggi Inggris (belum dibuat)"&gt;Komisioner Tinggi Inggris&lt;/a&gt;  &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Robert_Brinkley&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Robert Brinkley (belum dibuat)"&gt;Robert Brinkley&lt;/a&gt;. Sekitar 20 aktivis  &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Partai_Aliansi_Islam_Malaysia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Partai Aliansi Islam Malaysia (belum dibuat)"&gt;Partai Aliansi Islam  Malaysia&lt;/a&gt; (&lt;st2:stockticker st="on"&gt;PAS&lt;/st2:stockticker&gt;) berdemonstrasi  di depan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Komisi_Tinggi_Inggris&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Komisi Tinggi Inggris (belum dibuat)"&gt;Gedung Komisi Tinggi Inggris&lt;/a&gt;  di &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kuala_Lumpur" title="Kuala Lumpur"&gt;Kuala  Lumpur&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/st2:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn9"&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref9" name="_ftn9" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;i&gt;The Satanic Verses&lt;/i&gt; adalah &lt;a href="file:///D:/wiki/Novel" title="Novel"&gt;novel&lt;/a&gt; ke-empat karya &lt;a href="file:///D:/wiki/Salman_Rushdie" title="Salman Rushdie"&gt;Salman Rushdie&lt;/a&gt;, yang pertama kali diterbitkan pada tahun &lt;a href="file:///D:/wiki/1988" title="1988"&gt;1988&lt;/a&gt;, dan sebagian terinspirasikan dari kisah hidup &lt;a href="file:///D:/wiki/Muhammad" title="Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt;. Judulnya merujuk pada apa yang diketahui sebagai &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Ayat-ayat setan (belum dibuat)"&gt;ayat-ayat setan&lt;/a&gt;. Dalam novel ini, sang tokoh utama yang bernama Mahound (yang kemungkinan besar merujuk pada &lt;a href="file:///D:/wiki/Muhammad" title="Muhammad"&gt;Muhammad&lt;/a&gt;) diceritakan secara kilas balik paralel dengan dua tokoh utama lainnya Gibreel Farishta dan &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Saladin&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Chamcha&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;. Di &lt;a href="file:///D:/wiki/Britania_Raya" title="Britania Raya"&gt;Britania Raya&lt;/a&gt;, novel ini diterima dengan baik oleh para &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Kritikus (belum dibuat)"&gt;kritikus&lt;/a&gt;, dan menjadi finalis &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Booker Prize (belum dibuat)"&gt;Booker Prize&lt;/a&gt; rahun 1988, walaupun dikalahkan oleh &lt;i&gt;&lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Oscar and Lucinda (belum dibuat)"&gt;Oscar and Lucinda&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; karya &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Peter Carey (belum dibuat)"&gt;Peter Carey&lt;/a&gt; yang memenangkan &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Whitbread Award (belum dibuat)"&gt;Whitbread Award&lt;/a&gt; 1988 untuk novel terbaik tahun itu. Namun di komunitas Muslim, novel ini menghasilkan &lt;a href="file:///D:/w/index.php" title="Kontroversi (belum dibuat)"&gt;kontroversi&lt;/a&gt; yang luar biasa. Buku ini tidak boleh beredar di &lt;a href="file:///D:/wiki/India" title="India"&gt;India&lt;/a&gt;, dan banyak dibakar pada &lt;a href="file:///D:/wiki/Demonstrasi" title="Demonstrasi"&gt;demonstrasi&lt;/a&gt; di &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Britania&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Raya&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;. Novel ini juga menyulutkan &lt;a href="file:///D:/wiki/Kerusuhan" title="Kerusuhan"&gt;kerusuhan&lt;/a&gt; di &lt;a href="file:///D:/wiki/Pakistan" title="Pakistan"&gt;Pakistan&lt;/a&gt; pada tahun &lt;a href="file:///D:/wiki/1989" title="1989"&gt;1989&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn10"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref10" name="_ftn10" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Bhikhu&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Parekh&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, &lt;i&gt;Politics, Religion &amp;amp; Free Speech in Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory &lt;/i&gt;(&lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;Cambridge&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, Massachutts: Harvard University Press, 2002) hal. 295&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn11"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref11" name="_ftn11" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Ahmed, Akbar S, &lt;i&gt;Living Islam,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand hingga Stornoway&lt;/i&gt;, Bandung, Mizan, 1977, hal 28.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn12"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref12" name="_ftn12" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.,&lt;/i&gt; hal 172&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn13"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref13" name="_ftn13" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Bhikhu&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Parekh&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, &lt;i&gt;Ibid., &lt;/i&gt;hal. 304&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn14"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref14" name="_ftn14" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;, hal.305&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn15"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref15" name="_ftn15" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Gunnar&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Myrdal&lt;/st1:sn&gt;, &lt;i&gt;The American Dilemma: The Negro Problem and Modern Democracy,&lt;/i&gt; &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:state st="on"&gt;New York&lt;/st2:state&gt;&lt;/st2:place&gt;, Harper &amp;amp; Row, 1944, seperti dalam &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, ibid, hal. 205.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn16"&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref16" name="_ftn16" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Lihat, &lt;st2:city st="on"&gt;&lt;i&gt;Furnivall&lt;/i&gt;&lt;/st2:city&gt;&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; &lt;st2:country-region st="on"&gt;Netherlands&lt;/st2:country-region&gt; &lt;st2:country-region st="on"&gt;India&lt;/st2:country-region&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;Cambridge&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, Cambridge University Press, 1939, seperti dalam &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, 1997, hal. 207.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn17"&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref17" name="_ftn17" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Lihat, &lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;John Rex,&lt;/span&gt; “Multicultural and Plural Societies”, dalam The Ethnicity Reader, Montserrat Guibernau dan John Rex (eds), &lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Great Britain, Polity Press, 1997&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;, hal. 208&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn18"&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref18" name="_ftn18" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Lihat, Smith, &lt;i&gt;The Plural Society in the British West Indies&lt;/i&gt;, Berkeley and Los Angeles, University of California Press, 1965.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn19"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref19" name="_ftn19" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Lihat&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Talcott&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt; Parsons, &lt;i&gt;The Social Systems&lt;/i&gt;, &lt;st2:city st="on"&gt;&lt;st2:place st="on"&gt;London&lt;/st2:place&gt;&lt;/st2:city&gt;, Tavistock, 1952 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn20"&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref20" name="_ftn20" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Lihat&lt;/st1:givenname&gt;  &lt;st1:middlename st="on"&gt;Louis&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Althusser&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, For &lt;st1:sn st="on"&gt;Marx&lt;/st1:sn&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;London&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Lane&lt;/st1:givenname&gt;, 1969.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn21"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref21" name="_ftn21" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st1:givenname st="on"&gt;Lihat&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;F.&lt;/st1:middlename&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;T&lt;/st1:sn&gt;?nnies, &lt;i&gt;Community and Association&lt;/i&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;London&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, Routledge and &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Kegan&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:sn st="on"&gt;Paul&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, 1963, dalam &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, 1997, hal. 209&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn22"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref22" name="_ftn22" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Lihat&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;E&lt;/st1:middlename&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Durkheim&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, &lt;i&gt;The Division of Labour in Society&lt;/i&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:state st="on"&gt;Illinois&lt;/st2:state&gt;&lt;/st2:place&gt;, Free Press, 1933.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn23"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref23" name="_ftn23" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st2:personname st="on"&gt;&lt;st1:givenname st="on"&gt;Lihat&lt;/st1:givenname&gt; &lt;st1:middlename st="on"&gt;Max&lt;/st1:middlename&gt;  &lt;st1:sn st="on"&gt;Weber&lt;/st1:sn&gt;&lt;/st2:personname&gt;, &lt;i&gt;The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism&lt;/i&gt;, &lt;st2:place st="on"&gt;&lt;st2:city st="on"&gt;London&lt;/st2:city&gt;&lt;/st2:place&gt;, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Allen&lt;/st1:givenname&gt;&lt;/span&gt; an Unwin, 1930&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn24"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref24" name="_ftn24" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, 1997, hal. 209.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn25"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref25" name="_ftn25" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, 1997, hal. 210.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn26"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref26" name="_ftn26" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat, ibid, hal. 211.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn27"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref27" name="_ftn27" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat, hal. 212&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn28"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref28" name="_ftn28" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, 1997, hal. 212&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn29"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref29" name="_ftn29" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Lihat, ibid, hal. 217 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn30"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref30" name="_ftn30" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Lihat, Parsons, 1952.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn31"&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref31" name="_ftn31" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;Lihat, &lt;st1:givenname st="on"&gt;Rex&lt;/st1:givenname&gt;, 2003, hal. 218&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn32"&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a style="" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=31500703#_ftnref32" name="_ftn32" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Lihat, ibid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-8500637812342618784?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/8500637812342618784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=8500637812342618784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/8500637812342618784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/8500637812342618784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2008/07/politik-agama-dan-kebebasan-berbicara.html' title=''/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SICyFk7_eYI/AAAAAAAAAJQ/aclwJ39ZEs4/s72-c/ada%2Bpa%2Bqoffa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-4301399351513982235</id><published>2008-05-30T08:40:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T09:03:30.076+07:00</updated><title type='text'>kritik besar untuk kebijakan menaikkan harga BBM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SD4T5J9kO_I/AAAAAAAAAIs/UjW5X9hyvfc/s1600-h/dosennya+lucu+banget.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SD4T5J9kO_I/AAAAAAAAAIs/UjW5X9hyvfc/s200/dosennya+lucu+banget.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205620091934489586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Kritik Besar Untuk Kebijakan Menaikkan Harga BBM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Oleh: Muqoffa mahyuddin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Tanggal 23 Mei 2008 pukul 00.00 WIB Pemerintah menaikkan BBM. Sebuah langkah yang sudah dapat diprediksikan sebelumnya setelah melihat merambatnya dengan cepat harga minyak dunia perbarel mulai dari 60 dolar menjadi 100 US dolar dan sekarang ketika tulisan ditulis sudah mencapai 133 US dolar perbarel. Mengapa menaikkan harga sebagai pilihan utama, bukannya pilihan terakhir. Kelihatan sekali kebijakan tersebut tidak didasarkan pergerakan ekonomi berebasis riil, akan tetapi berdasarkan kebijakan pergerakan ekonomi sektor keuangan saja. Bagaimana bisa menyelamatkan anggaran dengan tidak berfikir panjang tentang perkembangan dan bertahan hidupnya sektor perekonomian riil di Indonesia. Ketika melihat catatan perkembangan pergerakan sektor riil di Indonesia di webset manapun terlihat memang tidak ada perkembangan positif &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang siknifikan sama sekali. Berbicara Undang-undang dan konstitusi tentang UU No. 5 tahun 60 dapat dibaca bahwa kekayaan hasil bumi udara dan lautan dikuasai oleh negara dapat &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;diinterpretasikan dengan; 1. mengatur, 2. mendayagunakan, dan 3. mengalokasikan. Akan tetapi yang diambil adalah menjadikan kita sebagai anak bangsa menjadi kuli di rumah sendiri bukannya pemilik usaha di rumah sendiri dan mndidik kita jadi pemintamnta bantuan. Ini adalah pendidikan penurunan &lt;i&gt;caracter building&lt;/i&gt; yang sangat serius sekali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Kesalahan bijakan tahun 80-an ketika Indonesia booming minyak adalah, 1. membuat bisnis aneh, 2. tidak berbasis untuk negara 3. Tidak membangun infastruktur perkembangan ekonomi yang kuat, malah berbasis impor. Petronas dari Malaysia yang belajar dari Indonesia tentang perminyakan dengan Pertamina, sekarang malah justru melejit mengungguli Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Bagaimana langkah tepat bagi generasi muda dalam menghadapi persaingan dan pertempuran persaingan global ini? Pilihan mahasiswa di Indonesia dalam membangaun bangsa ini adalah;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;genitor, operator, manager, leader,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan fighter. Mahasiswa jangan hanya menjadi employe skill, pilih life skill, tidak boleh employe skill; kalau tidak jadi leader dan manager ya harus memilih fighter. Bagaimana Bantuan Langsung Tunai (BLT) ini, apakah sangat membantu?. Bagi Orang miskin memang kelihatan sekali membantu, akan tetapi hanya dalam jangka pendek dan sangat tidak siknifikan dengan perkembangan kebutuhan hidup jangka panjang. Ketika kebutuhan hidup paling minim seratus dua puluh ribu perbulan, dan diberi subsidi seratus ribu perbulan, orang miskin akan terasa sangat terbantu, tetapi hanya dalam jangka pendek saja membantu dan tidak koheren dengan kebutuhan hidup jangka panjang? Logika yang diambil apakah sudah sangat tepat?. Bagaimana kriteria orang miskin; kesulitan akses; kesulitan mengaktualisasi diri (sehingga tidak bisa demonstrasi karena untuk makan saja sangat sulit, kesulitan memenuhi kebutuhan kalori (pangan) /pendapatan, kesulitan akses tempat tinggal, kesulitan akses kesehatan, kesulitan akses pinjaman (bank/lembaga keuangan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Bagaimana menyelesaikan masalah yang sangat pelik ini?. Pemerintah harus membauat kesepakatan baru dengan perusahaan asing yang datang ke Indonesia, buatlah perjanjian baru dengan meminta keuntungan yang lebih besar kepada pengusaha asing, sehingga dapat membuat keuntungan lebih, sehingga dengan memberi subsisidi BBM kepada Indonesia (contoh besar adalah venezuela yang mampu membuat harga BBM hanya 360 rupiah saja setelah melakukan negoisasi ulang sehingga memperoleh keuntungan 4 kali lipat sehingga mampu mensubsidi rakyat menjadi hanya 360 rupiah perliter disaat gejolak harga minyak dunia mencapai 125 USD perbarel.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Apakah langkah tersebut realistis untuk Indonesia? Seandainya pemimpin oposan menggerakkan dengan pemimpin kultural dan komunal, maka akan terjadi caos yang tidak sama sekali diingankan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; line-height: 150%; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;baik&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31500703-4301399351513982235?l=qoffa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://qoffa.blogspot.com/feeds/4301399351513982235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31500703&amp;postID=4301399351513982235' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4301399351513982235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31500703/posts/default/4301399351513982235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://qoffa.blogspot.com/2008/05/kritik-besar-untuk-kebijakan-menaikkan_1278.html' title='kritik besar untuk kebijakan menaikkan harga BBM'/><author><name>qoffa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07761884117587289552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/R14gqHqSpOI/AAAAAAAAAC4/QmJonImkQMo/S220/ada+pa+qoffa.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SD4T5J9kO_I/AAAAAAAAAIs/UjW5X9hyvfc/s72-c/dosennya+lucu+banget.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31500703.post-115909490182761324</id><published>2008-05-07T14:12:00.000+07:00</published><updated>2008-12-12T09:03:30.259+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SCFXC90lvDI/AAAAAAAAAIk/l6k9wfojMRQ/s1600-h/7.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_ObHZ-J0AWoo/SCFXC90lvDI/AAAAAAAAAIk/l6k9wfojMRQ/s200/7.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197531153428757554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;KONFLIK AGAMA &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;PERSPEKTIF&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;PSIKOLOGI&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; AGAMA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;SEBUAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;STUDI&lt;/st2:sn&gt; &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;GERAKAN&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;&lt;i&gt;SEMPALAN&lt;/i&gt;&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;DI &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;INDONESIA&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma;"&gt;Oleh : &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Muqoffa&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Mahyuddin&lt;a name="_ftnref1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/DOWNLOAD%20INTERNET%20TUGAS%20S2/makalah%20psikologi%20agama%20tentang%20Islam%20sempalan.htm#_ftn1#_ftn1" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;color:#000000;"  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Selama masa pemerintahan &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Orde&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Baru&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;, kegiatan keagamaan berlangsung begitu marak. Peringatan hari besar agama tidak pernah terlewatkan, tempat-tempat ibadah didirikan di mana-mana, kuota haji terus&lt;br /&gt;meningkat, dan seterusnya. Semestinya dengan indikator kegiatan&lt;br /&gt;keberagamaan yang terus marak itu, keadaan bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; akan lebih&lt;br /&gt;tenang dan tenteram, tidak ada yang namanya konflik antar agama&lt;br /&gt;walaupun &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sedang menghadapi krisis moneter (Krismon). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Nyatanya, sebelum Krisis moneter pun konflik sosial berwarna keagamaan tetap ada (jadi mempertegas bahwa kesenjangan sosial-ekonomi bukanlah&lt;br /&gt;satu-satunya faktor dominan). Kalau begitu apakah AN Wilson benar&lt;br /&gt;ketika di tahun 1992 ia menulis sebagai berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;"&lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Dalam&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Alkitab&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; (Bibel) dikatakan bahwa cinta uang adalah akar dari&lt;br /&gt;segala kejahatan. Mungkin lebih benar lagi kalau dikatakan bahwa cinta&lt;br /&gt;Tuhan adalah akar dari segala kejahatan. Agama adalah tragedi umat&lt;br /&gt;manusia. Ia mengajak kepada yang paling luhur, paling murni, paling&lt;br /&gt;tinggi dalam jiwa manusia, namun hampir tidak ada sebuah agama yang&lt;br /&gt;tidak ikut bertanggung jawab atas berbagai peperangan, tirani, dan&lt;br /&gt;penindasan kebenaran. &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Karl&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Marx&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; menggambarkan agama sebagai candu rakyat;&lt;br /&gt;tetapi agama jauh lebih berbahaya dari pada candu. Agama tidak membuat&lt;br /&gt;orang tertidur. Agama mendorong orang untuk menganiaya sesamanya,&lt;br /&gt;untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas perasaan&lt;br /&gt;dan pendapat orang lain, untuk mengklaim bagi diri mereka sendiri&lt;br /&gt;pemilikan kebenaran" (&lt;i&gt;Against Religion: Why We Should Try to Live&lt;br /&gt;Without It, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;London&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Chatto and Windus.&lt;/i&gt; Sebagaimana dikutip &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Nurcholish&lt;/st2:givenname&gt;&lt;br /&gt;&lt;st2:sn st="on"&gt;Madjid&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; dalam Naskah Ceramah Budaya-nya di &lt;st2:givenname st="on"&gt;TIM&lt;/st2:givenname&gt; tanggal 21 Oktober 1992). Apakah kecenderungan manusia mempengaruhi dalam melihat korelasi antara eksistensi agama dan eksistensi kebaikan manusia? &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Apakah&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;cara&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; pandang manusia (orientasi) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tentang agama mempengaruhi pola bentuk relasi individu dan agamanya?&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;Orientasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Beragama&lt;/st2:sn&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Dalam fenomena kehidupan, apa yang dikemukakan AN Wilson tersebut memang menjadi masalah dalam pembahasan tentang hubungan (korelasi) antara eksistensi agama dengan eksistensi kebaikan (manusia) di muka bumi&lt;br /&gt;ini. Untuk menjawab teka-teki ini, Gordon W Allport dan &lt;st2:givenname st="on"&gt;Michael&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Ross&lt;/st2:sn&gt;&lt;br /&gt;(1967)-dua orang penggiat kajian psikologi agama- merumuskan apa yang&lt;br /&gt;mereka istilahkan dengan &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Orientasi&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Beragama&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; (&lt;i&gt;Religious Orientation&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;Allport dan &lt;st2:givenname st="on"&gt;Ross&lt;/st2:givenname&gt; merumuskan Orientasi Beragama sebagai "sistem &lt;st2:givenname st="on"&gt;cara&lt;/st2:givenname&gt;&lt;br /&gt;pandang individu mengenai kedudukan agama dalam hidupnya yang&lt;br /&gt;menentukan pola bentuk relasi individu dengan agamanya" (P Mohamad,&lt;br /&gt;1996). &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Sistem&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;cara&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; pandang ini akan mempengaruhi tingkah laku individu&lt;br /&gt;dalam hal menafsirkan ajaran agama dan menjalankan apa yang&lt;br /&gt;diyakininya sebagai perintah agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Ada tiga tipe Orientasi Beragama, yaitu Orientasi Beragama Ekstrinsik&lt;br /&gt;(OBE) atau juga disebut Religion as Means, Orientasi Beragama&lt;br /&gt;Instrinsik (OBI) atau Religion as End, dan terakhir Orientasi Beragama&lt;br /&gt;Mencari (OBM) atau Religion as Quest (OBM ini dirumuskan oleh Daniel&lt;br /&gt;Bateson, dan kawan-kawan dan merupakan pengembangan lebih lanjut dari&lt;br /&gt;teori Allport dan Ross). Pemeluk agama dengan OBE memandang&lt;br /&gt;pelaksanaan ajaran agama sebagai alat untuk mencapai tujuan&lt;br /&gt;pribadinya, seperti misalnya: penerimaan sosial orang lain, rasa aman,&lt;br /&gt;pembenaran diri, dan lain-lain (Crapps, 1993 dan Wulff, 1991).&lt;br /&gt;Sementara orang yang OBI menganggap pelaksanaan agama sebagai motif&lt;br /&gt;hidupnya. Menjalani agama merupakan tujuan sehingga memiliki nilai&lt;br /&gt;terminal. Kebutuhan-kebutuhan pribadi lain menjadi tidak terlalu&lt;br /&gt;penting, dan justru diselaraskan dengan agama. &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Sedangkan&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;OBM&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;&lt;br /&gt;menggambarkan sejauh mana individu dalam beragama melibatkan&lt;br /&gt;dialog-dialog yang terbuka dan responsif mengenai&lt;br /&gt;pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang muncul dari kontradiksi dan&lt;br /&gt;tragedi dalam hidup. Orang yang tinggi orientasi pencariannya,&lt;br /&gt;memberlakukan agama sebagai perjalanan yang berliku dan mungkin tak&lt;br /&gt;berujung untuk mencari jawab atas pertanyaan tentang makna hidup&lt;br /&gt;(Wulff, 1991 dalam Mohamad, 1996). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Sehubungan dengan hasil kajian psikologi agama di atas, dapatlah&lt;br /&gt;disimpulkan secara tentatif, bahwa di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;- dan kemungkinan juga&lt;br /&gt;di bagian dunia lainnya-yang berkembang di kalangan pemeluk agama&lt;br /&gt;adalah orientasi beragama yang ekstrinsik atau bersifat instrumental. Yang Perlu menjadi pemahaman bersama bahwa orang yang OBE sesungguhnya secara prinsipiil tidaklah dapat disebut orang yang beragama, karena sesungguhnya agamanya orang OBE bukanlah agama itu sendiri, melainkan kepentingan pribadinya atau&lt;br /&gt;kelompoknya. Agama adalah sekadar alat. Dapat dicontohkan di sini&lt;br /&gt;bahwa ketika terjadi konflik antarkomunitas beragama, sekelompok orang&lt;br /&gt;merusak rumah ibadah agama lain demi pemuasan pembenaran dirinya bahwa agamanyalah yang paling agung, sehingga rumah ibadah agama lain tidak "pantas" untuk memperoleh hak hidup seperti mereka. Atau ketika&lt;br /&gt;sekelompok orang menganiaya "musuh"-nya (ingat konflik di Ambon di&lt;br /&gt;mana yang menjadi musuh itu sebetulnya pela-gandong-nya sendiri), yang&lt;br /&gt;mereka perjuangkan sungguh-sunguh saat itu sebetulnya bukan agamanya&lt;br /&gt;(jelas, karena agamanya justru melarang menganiaya orang) melainkan&lt;br /&gt;&lt;i&gt;identitas kelompoknya&lt;/i&gt; sendiri yang berlabel "agama" (dalam konteks&lt;br /&gt;yang lain label itu bisa saja berubah jadi identitas suku atau kelas&lt;br /&gt;sosial). Dalam kerangka pemahaman ini, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Wilson&lt;/st1:city&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;/st1:place&gt; membuat kesalahan ketika&lt;br /&gt;ia mengatakan bahwa "agama mendorong orang untuk menganiaya agama...&lt;br /&gt;dan seterusnya" karena ia menyederhanakan dan menyamaratakan&lt;br /&gt;(pemahaman atas) agama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Harmonisasi kehidupan beragama yang selama ini didengung-dengungkan kepada dunia luar kenyataannya retorika "berketiak ular" (adakah ular yang berketiak?) Diam-diam perseteruan diametral antar kelompok agama tertentu merebak akibat masing-masing mereka dipenuhi oleh rasa prasangka dan pikiran dogmatis. Kasus-kasus yang meletus &lt;st2:sn st="on"&gt;di&lt;br /&gt;Tasikmalaya&lt;/st2:sn&gt;, Ketapang, Kupang dan seterusnya menunjukkan pengusungan&lt;br /&gt;"agama sebagai identitas sosial menyimpan potensi konflik sosial yang&lt;br /&gt;dahsyat (karena itu pengertian agama perlu kita luruskan seperti di&lt;br /&gt;atas). Fakta-fakta ini mengarahkan secara tegas kesimpulan&lt;br /&gt;berikutnya, bahwa kehidupan keagamaan di tengah masyarakat selama ini&lt;br /&gt;lebih didominasi oleh tokoh-tokoh agama dari sayap politis, dan bukan&lt;br /&gt;tokoh agama dari sayap intelektual/kultural. Pemuka agama sayap&lt;br /&gt;politis yang notabene identik dengan agamawan "resmi"/formal adalah&lt;br /&gt;mereka-mereka yang banyak duduk (walau tidak semua) dalam birokrasi&lt;br /&gt;lembaga keagamaan, lembaga pemerintah, ormas dan partai politik.&lt;br /&gt;Mereka adalah orang-orang yang memiliki &lt;i&gt;vested interest&lt;/i&gt; baik secara&lt;br /&gt;sembunyi ataupun blak-blakan terhadap konsesi politik/material yang&lt;br /&gt;mampu diberikan pemegang kekuasan. Demi konsesi politik/material&lt;br /&gt;tokoh-tokoh tipe ini rela "menjual" jiwanya- dan yang lebih parah lagi&lt;br /&gt;jiwa-jiwa warganya- demi mati-matian mempertahankan posisinya di&lt;br /&gt;lembaga-lembaga itu (sampai batas tertentu, kiranya proses rekayasa&lt;br /&gt;atas fusi partai politik Islam di awal Orde Baru memunculkan&lt;br /&gt;figur-figur yang berdagang dengan Memphisto laiknya lakon Dr Faust). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Mereka adalah tokoh-tokoh yang memperoleh ketokohannya dari&lt;br /&gt;identifikasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dengan simbol-simbol agama yang sifatnya&lt;br /&gt;superfisial. Sebagaimana dikatakan &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Mudji&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Sutrisno&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; dalam wawancaranya&lt;br /&gt;dengan salah satu media baru-baru ini, bahwa selama ini agama dihayati&lt;br /&gt;dalam hubungannya dengan kekuasaan yang amat materialistis sekali.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, selama 32 tahun "yang suci dari Allah"-entah itu&lt;br /&gt;perintah nabi, entah itu ajaran kasih dari kitab suci Injil dan&lt;br /&gt;semuanya - ketika dibawa oleh pemimpin agamanya (terutama oleh para&lt;br /&gt;tokohnya dari sayap politik.) dalam&lt;br /&gt;kekuasaannya diterjemahkan sebagai kekuatan fisik. Lalu si tokoh&lt;br /&gt;itulah yang berhak mengatakan benar atau tidak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;Romo&lt;/span&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt; &lt;st2:middlename st="on"&gt;Mudji&lt;/st2:middlename&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Sutrisno&lt;/st2:sn&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:personname&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt; menambahkan, lihat khotbah baik di masjid maupun di gereja yang tertutup dengan mengatakan: kami komunitas paling benar. &lt;st2:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st2:givenname&gt; yang di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, di luar masjid atau di luar gereja, yang salah. Ini bukti&lt;br /&gt;perlakuan agama sebagai hal material kekuasaan. &lt;st2:givenname st="on"&gt;Bila&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:middlename st="on"&gt;Romo&lt;/st2:middlename&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Mudji&lt;/st2:sn&gt; benar&lt;br /&gt;- dan saya kebetulan sependapat dengan beliau-berarti proyek&lt;br /&gt;"Pembaharuan Islam" yang gerbongnya ditarik oleh Nurcholish Madjid&lt;br /&gt;(&lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Cak&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Nur&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;) belumlah dapat disebut berhasil sebagaimana&lt;br /&gt;didengung-dengungkan selama ini. Pemikiran keagamaan Cak Nur yang saya&lt;br /&gt;interpretasikan lebih menekankan substansi agama (Islam) sebagai&lt;br /&gt;ajaran-ajaran mulia yang universal serta lebih melihat perilaku&lt;br /&gt;beragama sebagai proses mencari kebenaran instead of pencapaian&lt;br /&gt;kebenaran adalah sejalan dengan &lt;i&gt;Orientasi Agama Men-cari&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Religion&lt;br /&gt;as Quest.&lt;/i&gt; Sejauh hemat saya lagi, pemahaman keagamaan versi &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Cak&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Nur&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;&lt;br /&gt;ini masih sangat elitis, jadi bukanlah pemahaman keagamaan yang&lt;br /&gt;berkembang di- "akar rumput". &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Selama beberapa tahun terakhir, tokoh agama sayap intelektual/kultural dan pengamat Islam di Indonesia telah dibuai oleh "fatamorgana" informasi yang dipaparkan oleh media massa terhadap mereka. Terjadi kesenjangan yang lebar antara kenyataan dengan harapan. Kaum elite merasa pemahaman tersebut telah diserap oleh kalangan masyarakat banyak, padahal pemahaman tersebut hanya tersosialisasi di antara sesama mereka saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Pemahaman keagamaan yang dirumuskan Cak Nur dan kawan-kawannya menyertakan &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Abdurrahman&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Wahid&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; dalam kategori ini-merupakan pemahaman keagamaan yang sangat nalar. Dibutuhkan diskusi yang intens dan paparan terhadap wacana tertulis yang luas- sebagaimana ditunjukkan&lt;br /&gt;makalah- makalah &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Cak&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Nur&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; yang tebal-tebal dan sarat referensi itu.   &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Kasus-kasus konflik sosial di wilayah&lt;br /&gt;yang mayoritas didiami oleh warga NU yang notabene warga&lt;br /&gt;pedesaan-semisal Situbondo- dapat dikatakan melegitimasi&lt;br /&gt;kesimpulan di atas. Problem-problem yang dipicu oleh masalah ekonomi&lt;br /&gt;bisa merembet ke konflik bernuansa agama dengan mudahnya. Kenapa lagi&lt;br /&gt;kalau bukan motif-motif emosional sebagaimana dijelaskan oleh&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Orientasi Beragama Ekstrinsik&lt;/i&gt;? Inilah contoh nyata dari kesenjangan&lt;br /&gt;teologi yang masih membentang antara pimpinan dengan massa-nya, antara&lt;br /&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Abdurrahman&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Wahid&lt;/st2:sn&gt; (&lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Gus&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Dur&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;) dengan "akar rumput"-nya di NU. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Selain membutuhkan kapasitas nalar yang besar, keberagamaan&lt;br /&gt;berorientasi mencari membutuhkan prasyarat lain berupa kondisi&lt;br /&gt;psikologis yang tidak dipenuhi oleh kecemasan. Hal ini menjelaskan&lt;br /&gt;mengapa kelompok masyarakat tertentu yang terdidik seperti mahasiswa&lt;br /&gt;masih terseret oleh pemahaman keagamaan yang ekstrinsik. Era&lt;br /&gt;modernisasi dan globalisasi-yang diidentikkan dengan dunia Barat yang&lt;br /&gt;merambah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; membawa efek samping berupa kerancuan &lt;st2:givenname st="on"&gt;norma&lt;/st2:givenname&gt;,&lt;br /&gt;disorientasi nilai dan kebingungan identitas di kalangan mahasiswa dan&lt;br /&gt;generasi muda umumnya, dus perasaan gelisah dan tidak nyaman selalu&lt;br /&gt;mengiringi ke mana pun mereka melangkah. Ajaran-ajaran keagamaan yang&lt;br /&gt;menawarkan klaim kebenaran, memberikan aturan dan panduan yang ketat,&lt;br /&gt;pimpinan/tokoh agama yang selalu menunjukkan apa yang harus dilakukan,&lt;br /&gt;serta keanggotaan dalam kelompok dengan kohesivitas tinggi; semuanya&lt;br /&gt;itu mampu menawarkan kecemasan yang timbul. &lt;st2:givenname st="on"&gt;Di&lt;/st2:givenname&gt; sini letak ironisnya&lt;br /&gt;karena kondisi yang demikian sangat kondusif bagi naiknya tokoh-tokoh agama sayap politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;AN &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Wilson-&lt;/st1:city&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;/st1:place&gt; tokoh kita di atas-sampai pada&lt;br /&gt;kesimpulan yang salah karena ia menyusun logikanya setelah ia&lt;br /&gt;mendengar seorang uskup &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Ortodoks&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Yunani&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; dalam suatu khotbah, yang&lt;br /&gt;mengatakan: "Seorang agamawan yang baik adalah orang yang punya cukup&lt;br /&gt;iman untuk dapat menganiaya orang lain karena kekeliruan keagamaan.&lt;br /&gt;Jadi sementara seorang agamawan yang baik acapkali mencela sikap&lt;br /&gt;sempit pikiran dan tidak toleran terhadap orang lain yang ingin&lt;br /&gt;menganiayanya, namun mereka sendiri mempertahankan hak untuk memaksa&lt;br /&gt;dan menyerang orang yang mereka anggap menyimpang. Bahkan adakalanya&lt;br /&gt;mereka menganggap membunuh orang yang menyimpang itu sebagai&lt;br /&gt;kewajiban" (dalam &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Nurcholish&lt;/st2:givenname&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Madjid&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;, ibid). Menurut saya, bila kita&lt;br /&gt;ingin mendeteksi apakah seorang tokoh agama itu termasuk sayap&lt;br /&gt;politik, dengarlah apakah ia mengatakan sebagaimana didengar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Wilson&lt;/st1:city&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;/st1:place&gt; di&lt;br /&gt;atas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p dir="ltr" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;Macam-Macam Gerakan Sempalan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Istilah "&lt;i&gt;gerakan sempalan&lt;/i&gt;" beberapa tahun terakhir ini menjadi populer di Indonesia sebagai sebutan untuk berbagai gerakan atau aliran agama yang dianggap "aneh", alias menyimpang dari aqidah, ibadah, amalan atau pendirian mayoritas umat. Istilah ini, agaknya, terjemahan dari kata "&lt;i&gt;sekte&lt;/i&gt;" atau "&lt;i&gt;sektarian&lt;/i&gt;",&lt;a name="_ftnref2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/DOWNLOAD%20INTERNET%20TUGAS%20S2/makalah%20psikologi%20agama%20tentang%20Islam%20sempalan.htm#_ftn2#_ftn2" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; kata yang mempunyai berbagai konotasi negatif, seperti protes terhadap dan pemisahan diri dari mayoritas, sikap eksklusif, pendirian tegas tetapi kaku, klaim monopoli atas kebenaran, dan fanatisme. &lt;st2:sn st="on"&gt;Di Indonesia&lt;/st2:sn&gt; ada kecenderungan untuk melihat gerakan sempalan terutama sebagai ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dan untuk segera melarangnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Karena itu, sulit membedakan gerakan sempalan dengan gerakan terlarang atau gerakan oposisi politik. Hampir semua aliran, faham dan gerakan yang pernah dicap "&lt;i&gt;sempalan&lt;/i&gt;", ternyata memang telah dilarang atau sekurang-kurangnya diharamkan oleh Majelis Ulama. Beberapa contoh yang terkenal adalah: &lt;i&gt;Islam Jamaah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Ahmadiyah Qadian&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;DI/&lt;st1:stockticker st="on"&gt;TII&lt;/st1:stockticker&gt;&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Mujahidin&lt;/i&gt;'nya Warsidi (Lampung), &lt;i&gt;Syi'ah&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Baha'i&lt;/i&gt;, "&lt;i&gt;Inkarus Sunnah&lt;/i&gt;", &lt;i&gt;Darul Arqam&lt;/i&gt; (Malaysia), &lt;i&gt;Jamaah Imran&lt;/i&gt;, gerakan &lt;i&gt;Usroh&lt;/i&gt;, aliran-aliran tasawwuf berfaham &lt;i&gt;wahdatul wujud&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Tarekat Mufarridiyah&lt;/i&gt;, dan gerakan &lt;i&gt;Bantaqiyah&lt;/i&gt; (Aceh). Serangkaian aliran dan kelompok ini, kelihatannya, sangat beranekaragam. Apakah ada kesamaan antara semua gerakan ini? Dan apa faktor-faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan tersebut? &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;"  lang="NL"&gt;Gerakan Sempalan: Ada Definisinya?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Berbicara tentang "gerakan sempalan" berarti bertolak dari suatu pengertian tentang "ortodoksi" atau "mainstream" (aliran induk); karena gerakan sempalan adalah gerakan yang menyimpang atau memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Tanpa tolok ukur ortodoksi, istilah "sempalan" tidak ada artinya. Untuk menentukan mana yang "sempalan", kita pertama-tama harus mendefinisikan "mainstream" yang ortodoks. Dalam kasus ummat Islam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; masa kini, ortodoksi barangkali boleh dianggap diwakili oleh badan-badan ulama yang berwibawa seperti terutama &lt;st1:stockticker st="on"&gt;MUI&lt;/st1:stockticker&gt;, kemudian &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;i&gt;Majelis&lt;/i&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;i&gt;  &lt;st2:middlename st="on"&gt;Tarjih&lt;/st2:middlename&gt;&lt;/i&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Muhammadiyah&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;, &lt;i&gt;Syuriah&lt;/i&gt; NU, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;            Istilah "gerakan sempalan" memang lazim dipakai, secara normatif, untuk aliran agama yang oleh lembaga-lembaga tersebut dianggap sesat dan membahayakan. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Akan tetapi, definisi ini menimbulkan berbagai kesulitan untuk kajian selanjutnya. Misalnya, apakah Ahmadiyah Qadian atau Islam Jamaah baru merupakan gerakan sempalan setelah ada fatwa yang melarangnya? Atau, meminjam contoh dari negara tetangga, berbagai aliran agama yang pernah dilarang oleh Jabatan Agama pemerintah pusat Malaysia, tetap dianggap sah saja oleh Majelis-Majelis Ugama Islam di negara-negara bagiannya. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Bagaimana kita bisa memastikan apakah aliran tersebut termasuk yang sempalan? Ortodoksi, kelihatannya, adalah sesuatu yang bisa berubah menurut zaman dan tempat, dan yang "sempalan"  pun bersifat kontekstual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Pengamatan terakhir ini boleh jadi menjengkelkan. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Dari sudut pandangan orang Islam yang "concerned", yang sesat adalah sesat, apakah ada fatwanya atau tidak. Dalam visi ini, &lt;i&gt;Ahlus Sunnah wal &lt;st2:sn st="on"&gt;Jama'ah&lt;/st2:sn&gt;&lt;/i&gt; merupakan "mainstream" Islam yang ortodoks, dan yang menyimpang darinya adalah sempalan dan sesat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Kesulitan dengan visi ini menjadi jelas kalau kita menengok awal abad ke-20 ini, ketika terjadi konflik besar antara kalangan Islam modernis dan kalangan "tradisionalis". Dari sudut pandangan ulama tradisional, yang memang menganggap diri mewakili &lt;i&gt;Ahlus Sunnah wal Jama'ah&lt;/i&gt;, kaum modernis adalah sempalan dan sesat, sedangkan para modernis justeru menuduh lawannya menyimpang dari jalan yang lurus.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;            Kalau kita mencari kriteria yang obyektif untuk mendefinisikan dan memahami gerakan sempalan, kita sebaiknya mengambil jarak dari perdebatan mengenai kebenaran dan kesesatan. Gerakan sempalan tentu saja juga menganggap diri lebih benar daripada lawannya; biasanya mereka justeru merasa lebih yakin akan kebenaran faham atau pendirian mereka. Karena itu, kriteria yang digunakan adalah kriteria sosiologis, bukan teologis. Gerakan sempalan yang tipikal adalah kelompok atau gerakan yang &lt;i&gt;sengaja memisahkan diri&lt;/i&gt; dari "mainstream" umat, mereka yang cenderung &lt;i&gt;eksklusif&lt;/i&gt; dan seringkali &lt;i&gt;kritis terhadap para ulama yang mapan&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;            Dalam pendekatan sosiologis ini, "ortodoksi" dan "sempalan" bukan konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Ortodoksi atau mainstream adalah faham yang dianut mayoritas umat -- atau lebih tepat, mayoritas ulama; dan lebih tepat lagi, golongan ulama yang dominan. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah terjadi berbagai pergeseran dalam faham dominan - pergeseran yang tidak lepas dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat; gerakan sempalan seringkali merupakan penolakan faham dominan dan sekaligus merupakan  protes sosial atau politik.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;            Faham aqidah Asy'ari, yang sekarang merupakan ortodoksi, pada masa 'Abbasiyah pernah dianggap sesat, ketika ulama Mu'tazili (yang waktu itu didukung oleh penguasa) merupakan golongan yang dominan. Jadi, faham yang sekarang dipandang sebagai ortodoksi juga pernah merupakan sejenis "gerakan sempalan". Bahwa akhirnya faham Asy'ari-lah yang menang, juga tidak lepas dari faktor politik. Kasus ini mungkin bukan contoh yang terbaik -- golongan Asy'ari tidak dengan sengaja memisahkan diri dari sebuah "mainstream" yang sudah mapan; faham yang mereka anut berkembang dalam dialog terus-menerus dengan para lawannya. Contoh yang lebih tepat adalah gerakan Islam reformis Indonesia pada awal abad ini (seperti &lt;i&gt;Al Irsyad&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Muhammadiyah&lt;/i&gt;) yang dengan tegas menentang "ortodoksi" tradisional yang dianut mayoritas ulama, dan dari sudut itu merupakan gerakan sempalan. Sejak kapan mereka tidak bisa lagi dianggap gerakan sempalan dan menjadi bagian dari ortodoksi? Di bawah ini akan dibahas beberapa faktor yang mungkin berperan dalam proses perkembangan suatu &lt;i&gt;sekte&lt;/i&gt; menjadi &lt;i&gt;denominasi&lt;/i&gt;. Untuk sementara, dapat dipastikan bahwa penganut gerakan reformis pada umumnya tidak berasal dari kalangan sosial yang marginal, namun justru dari orang Islam kota yang sedang naik posisi ekonomi dan status sosialnya, dan bahwa dalam perkembangan sejarah telah terjadi proses akomodasi, saling menerima, antara kalangan reformis dan tradisional.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;            Apakah di antara "gerakan sempalan" masa kini ada juga yang berpotensi menjadi "ortodoksi" di masa depan? Tidak satu orang pun yang akan meramal bahwa aliran seperti Bantaqiyah bisa meraih banyak penganut di Indonesia, begitu juga Ahmadiyah atau yang lain. Perbandingan antara gerakan reformis, apalagi madzhab aqidah Asy'ari, dan gerakan sempalan yang disebut di atas, terasa sangat tidak tepat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Orang Islam pada umumnya merasa (kecuali para penganut gerakan tersebut, barangkali), bahwa mereka secara fundamental berbeda. Tetapi ... apa sebetulnya perbedaan ini, selain perasaan orang bahwa yang pertama mengandung kebenaran, sedangkan yang terakhir adalah sesat? Padahal, aliran tersebut menganggap dirinya sebagai pihak  yang benar, sementara yang lain sesat. Sejauhmana penilaian kita obyektif dalam hal ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;            Memang di antara gerakan sempalan tadi terdapat aliran yang kelihatannya punya dasar ilmu agama yang sangat tipis. Penganut aliran itu biasanya juga orang yang marginal secara sosial dan ekonomi, dan berpendidikan rendah. Tetapi tidak semua gerakan sempalan demikian. Baik dalam &lt;i&gt;Islam Jama'ah&lt;/i&gt; maupun gerakan &lt;st2:sn st="on"&gt;&lt;i&gt;Syi'ah&lt;/i&gt;&lt;/st2:sn&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, malahan juga dalam &lt;i&gt;Ahmadiyah&lt;/i&gt; dan gerakan &lt;i&gt;tasawwuf wahdatul wujud &lt;/i&gt;terdapat pemikir yang memiliki pengetahuan agama yang cukup tinggi dan  pandai mempertahankan faham mereka dalam debat. Mereka sanggup menemukan &lt;st2:sn st="on"&gt;&lt;i&gt;nash&lt;/i&gt;&lt;/st2:sn&gt; untuk menangkis semua tuduhan kesesatan terhadap mereka, dan tidak pernah kalah dalam perdebatan dengan ulama yang "ortodoks" -- sekurang-kurangnya dalam pandangan mereka sendiri dan penganut-penganutnya. Mereka dapat dianggap "sempalan" karena mereka merupakan minoritas yang secara sengaja memisahkan diri dari mayoritas ummat. Sebagai fenomena sosial, tidak terlihat perbedaan fundamental antara mereka dengan, misalnya, &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Al&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Irsyad&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt; pada masa berdirinya. &lt;st2:givenname st="on"&gt;Dan&lt;/st2:givenname&gt; perlu kita catat bahwa di &lt;st1:country-region st="on"&gt;Iran&lt;/st1:country-region&gt; pun, &lt;st2:sn st="on"&gt;&lt;i&gt;Syi'ah&lt;/i&gt;&lt;/st2:sn&gt; berhasil menggantikan &lt;i&gt;Ahlus Sunnah&lt;/i&gt; sebagai faham dominan baru kira-kira &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; abad belakangan!&lt;a name="_ftnref3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/DOWNLOAD%20INTERNET%20TUGAS%20S2/makalah%20psikologi%20agama%20tentang%20Islam%20sempalan.htm#_ftn3#_ftn3" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Lalu, bagaimana dengan &lt;i&gt;Darul Islam&lt;/i&gt; dan gerakan &lt;i&gt;Usroh&lt;/i&gt;? Keduanya dapat dianggap gerakan sempalan juga, baik dalam arti bahwa mereka tidak dibenarkan oleh lembaga-lembaga agama resmi maupun dalam arti bahwa mereka memisahkan diri dari mayoritas. Namun saya tidak pernah mendengar kritik mendasar terhadap aqidah dan ibadah mereka. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Yang dianggap sesat oleh mayoritas umat adalah amal &lt;i&gt;politik &lt;/i&gt;mereka. Seandainya pada tahun 1950-an bukan Republik yang menang tetapi &lt;i&gt;Negara Islam Indonesia&lt;/i&gt;'nya Kartosuwiryo, merekalah yang menentukan ortodoksi dan membentuk "mainstream" Islam. Seandainya itu yang terjadi, tidak mustahil sebagian "mainstream" Islam sekarang inilah yang mereka anggap sebagai "sempalan".&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;Klasifikasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st2:givenname&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt; &lt;st2:middlename st="on"&gt;Gerakan&lt;/st2:middlename&gt;  &lt;st2:sn st="on"&gt;Sempalan&lt;/st2:sn&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:personname&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;Untuk menganalisa fenomena gerakan sempalan secara lebih jernih, mungkin ada baiknya kalau kita merujuk kepada kajian sosiologi agama yang sudah ada untuk melihat apakah ada temuan yang relevan untuk situasi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Hanya saja, karena sosiologi agama adalah salah satu disiplin ilmu yang lahir dan dikembangkan di dunia Barat, sasaran kajiannya lebih sering terdiri dari umat &lt;st2:givenname st="on"&gt;Kristen&lt;/st2:givenname&gt; ketimbang penganut agama-agama lainnya. Oleh karena, itu belum tentu &lt;i&gt;a priori&lt;/i&gt; temuannya benar-benar relevan untuk dunia Islam. Beberapa konsep dasar yang dipakai barangkali sangat tergantung pada konteks budaya Barat. Mengingat keterbatasan ini, biarlah kita melihat apa saja telah ditemukan mengenai muncul dan berkembangnya gerakan sempalan pada waktu dan tempat yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Dua sosiolog agama Jerman mempunyai pengaruh besar terhadap studi mengenai &lt;i&gt;sekte&lt;/i&gt; selama abad ini, mereka adalah Max Weber dan Ernst Troeltsch. Weber terkenal dengan tesisnya mengenai peranan sekte-sekte Protestan dalam perkembangan &lt;i&gt;semangat kapitalisme&lt;/i&gt; di Eropa, dan dengan teorinya mengenai &lt;i&gt;kepemimpinan karismatik&lt;/i&gt;. Troeltsch, teman dekat Weber, mengembangkan beberapa ide Weber dalam studinya mengenai munculnya gerakan sempalan di Eropa pada abad pertengahan.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a name="_ftnref4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/DOWNLOAD%20INTERNET%20TUGAS%20S2/makalah%20psikologi%20agama%20tentang%20Islam%20sempalan.htm#_ftn4#_ftn4" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;color:#000000;"  &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt; Troeltsch memulai analisanya dengan membedakan dua jenis wadah umat beragama yang secara konseptual merupakan dua kubu bertentangan, yaitu &lt;i&gt;tipe gereja&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;tipe sekte&lt;/i&gt;. Contoh paling murni dari tipe gereja barangkali adalah Gereja Katolik abad pertengahan, tetapi setiap ortodoksi (dalam arti sosiologis tadi) yang mapan mempunyai aspek tipe gereja. Organisasi- organisasi tipe gereja biasanya berusaha mencakup dan mendominasi seluruh masyarakat dan segala aspek kehidupan. Sebagai wadah yang &lt;i&gt;established&lt;/i&gt; (mapan), mereka cenderung konservatif, formalistik, dan berkompromi dengan penguasa serta elit politik dan ekonomi. Di dalamnya terdapat hierarki yang ketat, dan ada golongan ulama yang mengklaim monopoli akan ilmu dan karamah, orang awam tergantung kepada mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;          Tipe sekte, sebaliknya, selalu lebih kecil dan hubungan antara sesama anggotanya biasanya egaliter. Berbeda dengan tipe gereja, keanggotaannya bersifat sukarela: orang tidak dilahirkan dalam lingkungan sekte, tetapi masuk atas kehendak sendiri. Sekte-sekte biasanya berpegang lebih keras (atau kaku) kepada prinsip, menuntut ketaatan kepada nilai moral yang ketat, dan mengambil jarak dari penguasa dan dari kenikmatan material. Sekte-sekte biasanya mengklaim bahwa ajarannya lebih &lt;i&gt;murni&lt;/i&gt;, lebih konsisten dengan wahyu Ilahi. Mereka cenderung membuat pembedaan tajam antara para penganutnya yang suci dengan orang luar yang awam dan penuh kekurangan serta dosa. Seringkali, kata Troeltsch, sekte- sekte muncul pertama-tama di kalangan yang berpendapatan dan pendidikan rendah, dan baru kemudian meluas ke kalangan lainnya. Mereka sering cenderung memisahkan diri secara fisik dari masyarakat sekitarnya, dan menolak budaya dan ilmu pengetahuan sekuler.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Selain sekte, Troeltsch menyoroti suatu jenis gerakan lagi yang muncul sebagai oposisi terhadap gereja (atau ortodoksi yang lain), yaitu gerakan &lt;i&gt;mistisisme&lt;/i&gt; (&lt;i&gt;tasawwuf&lt;/i&gt;). Sementara sekte memisahkan diri dari gereja karena mereka menganggap gereja telah kehilangan semangat aslinya dan terlalu berkompromi, gerakan- gerakan mistisisme merupakan reaksi terhadap formalitas dan "kekeringan" gereja. Gerakan &lt;i&gt;mistisisme&lt;/i&gt;, menurut Troeltsch, memusatkan perhatian kepada penghayatan ruhani-individual, terlepas dari sikapnya terhadap masyarakat sekitar. (Oleh karena itu, Troeltsch juga memakai istilah "individualisme religius"). Penganutnya bisa saja dari kalangan &lt;i&gt;establishment&lt;/i&gt;, bisa juga dari kalangan yang tak setuju dengan tatanan masyarakat yang berlaku. Mereka biasanya kurang tertarik kepada ajaran agama yang formal, apalagi kepada lembaga-lembaga agama (gereja, dan sebagainya). Yang dipentingkan mereka adalah hubungan langsung antara individu dan Tuhan (atau alam gaib pada umumnya).&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Analisa Troeltsch ini berdasarkan pengetahuannya tentang sejarah gereja di Eropa, dan tidak bisa diterapkan begitu saja atas budaya lain. Organisasi "tipe gereja" tidak terdapat dalam setiap masyarakat, tetapi tanpa kehadiran suatu gereja pun sekte bisa saja muncul. Ketika tadi saya bertanya "gerakan sempalan itu menyempal dari apa?", sebenarnya mencari apakah ada sesuatu wadah umat yang punya ciri &lt;i&gt;tipe gereja&lt;/i&gt;, dalam terminologi Troeltsch. Ortodoksi Islam Indonesia seperti diwakili oleh &lt;st1:stockticker st="on"&gt;MUI&lt;/st1:stockticker&gt; dan sebagainya, tentu saja tidak sama dengan Gereja Katolik abad pertengahan; ia tidak mempunyai kekuasaan atas kehidupan pribadi orang seperti gereja.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;            Situasi di Amerika Serikat masa kini, sebetulnya, sama saja. Hampir-hampir tidak ada wadah tipe gereja versi Troeltsch, yang begitu dominan terhadap seluruh masyarakat. Yang ada adalah sejumlah besar gereja-gereja Protestan (sering disebut &lt;i&gt;denominasi&lt;/i&gt;), yang berbeda satu dengan lainnya dalam beberapa detail saja, dan tidak ada di antaranya yang dominan terhadap yang lain. Denominasi-denominasi Protestan ini mempunyai baik ciri &lt;i&gt;tipe sekte&lt;/i&gt; maupun ciri &lt;i&gt;tipe gereja&lt;/i&gt;. Gerakan mistisisme, seperti yang digambarkan Troeltsch, beberapa dasawarsa terakhir ini sangat berkembang di dunia Barat dengan mundurnya pengaruh gereja. Para penganutnya seringkali dari kalangan yang relatif berada dan berpendidikan tinggi, bukan dari lapisan masyarakat yang terbelakang.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a name="_ftnref5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/DOWNLOAD%20INTERNET%20TUGAS%20S2/makalah%20psikologi%20agama%20tentang%20Islam%20sempalan.htm#_ftn5#_ftn5" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;color:#000000;"  &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;Kajian berikut yang sangat berpengaruh adalah studi Richard Niebuhr, sosiolog agama dari Amerika Serikat, mengenai dinamika sekte dan lahirnya &lt;i&gt;denominasi&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a name="_ftnref6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/DOWNLOAD%20INTERNET%20TUGAS%20S2/makalah%20psikologi%20agama%20tentang%20Islam%20sempalan.htm#_ftn6#_ftn6" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;color:#000000;"  &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt; Teori yang diuraikan dalam karya ini sebetulnya agak mirip teori sejarah &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Ibnu&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st="on"&gt;Khaldun&lt;/st2:sn&gt;&lt;/st1:personname&gt;. Niebuhr melihat bahwa banyak sekte, yang pertama-tama lahir sebagai gerakan protes terhadap konservatisme dan kekakuan gereja (dan seringkali juga terhadap negara), lambat laun menjadi lebih lunak, mapan, terorganisir rapih dan semakin formalistik. Setelah dua-tiga generasi, aspek kesukarelaan sudah mulai menghilang, semakin banyak anggota yang telah lahir dalam lingkungan sekte sendiri. Semua anggota sudah tidak sama lagi, bibit-bibit hierarki internal telah ditanam, kalangan pendeta - pendeta muncul, yang mulai mengklaim bahwa orang awam memerlukan jasa mereka. Dengan demikian bekas sekte itu sudah mulai menjadi semacam gereja sendiri, salah satu di antara sekian banyak denominasi. Dan lahirlah, sebagai reaksi, gerakan sempalan baru, yang berusaha menghidupkan semangat asli... dan lambat laun berkembang menjadi denominasi... dan demikianlah seterusnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;          Teori Niebuhr ini sekarang dianggap terlalu skematis; sekte- sekte tidak selalu menjadi denominasi. Niebuhr bertolak dari pengamatannya terhadap situasi Amerika Serikat yang sangat unik; semua gereja di sana memang merupakan denominasi yang pernah mulai sebagai gerakan sempalan dari denominasi lain. Siklus perkembangan yang begitu jelas, agaknya, berkaitan dengan kenyataan bahwa masyarakat Amerika Serikat terdiri dari para imigran, yang telah datang gelombang demi gelombang. Setiap gelombang pendatang baru menjadi lapisan sosial paling bawah; dengan datangnya gelombang pendatang berikut, status sosial mereka mulai naik. Pendatang baru yang miskin seringkali menganut sekte-sekte radikal; dengan kenaikan status mereka sekte itu lambat laun menghilangkan radikalismenya dan menjadi sebuah denominasi baru.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: justify; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt;            Tigapuluh tahun sesudah Niebuhr, sosiolog Amerika yang lain, Milton Yinger, merumuskan kesimpulan dari perdebatan mengenai sekte dan denominasi, bahwa sekte yang lahir sebagai protes sosial cenderung untuk bertahan sebagai sekte, tetap terpisah dari mainstream, sedangkan sekte yang lebih menitikberatkan permasalahan &lt;i&gt;moral pribadi &lt;/i&gt;cenderung untuk menjadi denominasi. Itu tentu berkaitan dengan dasar sosial kedua jenis sekte ini - sekte radikal cenderung untuk merekrut anggotanya dari lapisan miskin dan tertindas. Dengan demikian hubungan sekte ini dengan negara dan denominasi yang mapan akan tetap tegang. Jenis sekte yang kedua lebih cenderung untuk menarik penganut dari kalangan menengah, dan akan lebih mudah berakomodasi dengan, dan diterima dalam, &lt;i&gt;status quo&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a name="_ftnref7"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/DOWNLOAD%20INTERNET%20TUGAS%20S2/makalah%20psikologi%20agama%20tentang%20Islam%20sempalan.htm#_ftn7#_ftn7" title=""&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;sup&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;color:#000000;"  &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Tahoma;font-size:100%;"  lang="NL" &gt; Pengamatan ini, agaknya, relevan untuk memahami perbedaan antara &lt;st1:personname st="on"&gt;&lt;st2:givenname st="on"&gt;Al&lt;/st2:givenname&gt; &lt;st2:sn st
